Kali ini kumpulan puisi yang berjudul otobiografi ([sic] November 2007) dari penyair Saut Situmorang yang berisi puisi-puisi yang diramunya dalam kurun waktu 1987-2007, dengan tebal halaman 282 dan total jumlah puisi sebanyak 184 buah, saya jelajahi dalam penerawangan mata hati seorang awam.
Memasuki alam pikiran seorang Saut, bagi yang belum mengenal secara luas bagaimana dia memposisikan diri dalam kancah sastra kontemporer Indonesia, yang selalu berani dan konsisten di jalur perlawanan terhadap hegemoni kelompok tertentu yang selama ini berusaha untuk mendominasi sastra Indonesia, tentunya akan sangat berbeda penilaiannya dengan yang sudah mengenal tulisan-tulisan dan ucapan yang cukup membuat kuping pembaca atau mata lawannnya menadi meradang.
Saut dalam puisi-pusinya justru terkandung nilai-nilai manusiawi pada umumnya seorang bersikap. Kelembutan pada puisi, juga humor bernada getir dan kadang kenakalan dalam romantisme dan pemberontakan pada situasi sekelilingnya lebih dirasakan daripada seorang Saut yang penyerang dan bersuara keras.
Dalam pengantar buku tersebut yang dia tulis sendiri bahwa ciri para penyair di dunia puisi kontemporer Indonesia periode 1990an memilih kesederhanaan bahasa sehari-hari, kesederhanaan bahasa leksikal-gramatikal sehari-hari yang lugas tidak rumit, dengan tidak mengorbankan musikalitas dan visualitas bahasa, untuk mengungkapkan realitas puitis. Bahkan dia tambahkan juga sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah Politik. Hal ini berkaitan dengan dibaginya kumpulan dalam buku tersebut dalam 3 babak yaitu Cinta, Politik dan Rantau.
Dalam penjelajahan pertama yaitu CINTA dari 3 babak imajinasi seorang Saut, dengan diiringi petikan gitar Bahalawan menari, sajak dengan judul “tidurlah cicak”, “sajak cicak”, “boraspati”, “tenunlah bendera o laba laba” dan “cicak mabuk”, sudah membuat diriku seperti melihat seseorang membuat pot keramik. Dimulai dari sebongkah tanah liat yang kemudian ditaruhnya dalam lempengan kayu pada mesin pemutar membentuk pot keramik sesuai yang diinginkan. Berputarnya mesin dan bongkahan tanah liat yang semakin besar membentuk pot ini yang tergambar dalam imajinasi saya membaca puisi-puisi tersebut.
Betapa makna yang tersirat dari kata “cicak” akan terasa semakin dalam seperti kumparan yang berputar semakin cepat dan berakhir dengan klimaks setelah selesai membaca keempat syair tersebut.
Saya kutipkan pada sajak pertama di akhir bait tertulis
cicak cicak di dinding dinding
tidurlah
tidur
kemudian pada syair ke dua,
hormatilah cicak cicak di dinding rumahmu
yang ke tiga ,
kata kata terbakar lilinlah makananMu!
Yang ke empat ,
lalu berpawailah di sekeliling langit langit kamar!
Terakhir ,
cicak mabuk di dinding
bayangannya menari sempoyongan di lilin kamar
mengikuti gitar Lightning Hopkins
dan hei, bukankah itu Li Po yang baru datang!
Penggambaran seperti kehidupan ini, mengikuti siklus yang dipelajari dalam mata rantai makanan pelajaran biologi, yang kemudian dihubungkan dengan watak manusia lewat pengertian bahwa di atas langit masih ada langit begitu seterusnya, kegetiran dan kegembiraan datang silih berganti walau tidak seperti yang diharapkan bahkan kadang memabukkan sejenak, menjadi orang lain dalam diri sendiri.
Kelembutan penyair ini kutemukan dalam beberapa puisi bahkan kadang tergores muram dan getir. Pada puisi yang dia buat setelah kawannya dari Kanada meninggal dunia dengan bunuh diri menggantung di kamar mandi di Medan. Syair itu berjudul “untuk Bill Russon, Medan, Oktober 1988”. Suara Daniel Powter menyanyikan Bad Day lamat-lamat menemani saya menyelaminya,
kematian
seperti ular juga mengganti kulitnya
dia jadi malam di kotamu yang gelap
dengan rakus dia makan bulan & bintang bintang yang
menyerah tak berdaya
dia makan juga lampu lampu neon di hotel hotel
jalan-jalan utama kota & lilin lilin redup gubuk gubuk perbatasan
dia jadi burung malam yang menjerit jerit di langit di atas
rumahmu
jadi derak pintu & jendela yang tak terkunci rapat
Kelembutan dan kegetiran juga tergores dalam puisinya yang berjudul ”Natal 1989”. Saya katakan sejujurnya puisi ini sangat kuat menggambarkan kerinduhan seorang anak terhadap ibunya yang sudah lama meninggal, hati penyair ini akan sama dirasakan oleh jutaan anak-anak di dunia terhadap kehilangan ibu pusatnya gudang rasa kasih dan maaf yang tak tergantikan, walau kita ini sekeras batu hati ini terbuat, namun IBU tetap bisa meluluh lantakkan rasa itu. Itulah alasan saya mengapa kemudian judul puisi ini saya ambil menjadi judul esai dalam memandang kumpulan puisi Saut Situmorang ini. Kali ini Michael Buble menemani dengan Home-nya, suara jengkrik di pot bunga terdengar nyaring.
Natal 1989
hari ini
genap lima tahun
aku tak merayakan natal bersamamu
di sudut ruang tamu
yang biasanya berdiri pohon natal
sekarang cuma ada sarang laba laba
dan debu –
pohon natal itu juga pergi bersamamu
di gereja ada pohon natal besar
orang orang gembira dan lilin di tangan mereka terbakar
hari ini mereka merayakan pesta –
bagiku genap lima tahun kita berpisah
seorang ibu melemparkan kembang api ke langit
dan anaknya bersorak sorak mandi hujan cahaya
aku bersihkan sarang laba laba dan debu
dari sudut ruang tamu tempatmu dibaringkan lima tahun yang lalu
Membaca bait terakhir kepedihan itu terasa tergores dalam, saya membayangkan adakah setetes air mata di sudut mata penyair ini ketika menyudahinya? Adakah dia masih merindukan “mamak” pada setiap natal yang setia hadir? Saya rasa pasti itu, apalagi bila sejenak dalam diri ini merasakan tak punya siapa siapa, sendiri dalam hidup ini, lainnya dianggap debu. Sayup-sayup suara lonceng gereja menggema, dalam lamunan seperti ada gemerincing jejak Sinterklas menapaki awan .
Disamping itu masih ada tiga puisinya yang menggambarkan akan jalinan antara dia dan almarhum ibunya, dalam puisi yang berjudul “andung andung petualang”, saya kutip sebagian, karena puisi ini cukup panjang dalam 19 bait,
“kalau kau pergi , anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
matahari panas
angin berhembus panas
bus tua meninggalkan kota
aspal jalanan melarikannya selamanya
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
kota berganti kampung
sawah berganti gunung
anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam
“kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”
menyeberang laut menyeberang pulau
beribu gunung kota terlampaui
di negeri seberang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau
…………………………………………………………………
Keseluruhan 19 bait itu terangkai begitu indahnya, menceritakan awal dia berangkat merantau dengan dihantar hati ibu yang galau, gambaran yang terasa pilu memendam rindu dendam pada keadaan yang memisahkan penyair dan ibunya sampai kematian kemudian tiba.
Ada catatan kaki di bawah sajak ini, memberikan sekilas gambaran tentang ”andung-andung” yang merupakan nyanyian ratapan kematian di kalangan orang Batak Toba, isinya berupa kisah hidup yang meninggal dan dinyanyikan dalam bentuk performance tunggal di hadapan jasadnya. Ternyata penyair Batak ini tetap tidak meninggalkan aroma tradisinya dalam penciptaan syair-syairnya. Bagi saya ini suatu kelangkaan, banyak penyair kontemporer Indonesia masa kini, kadang terlarut dalam hiruk pikuk kata, jarang mengangkat tema tradisi mereka sendiri dalam memperkaya khasanah penciptaan puisinya, sehingga akan melestarikan tradisi itu sendiri, namun juga akan menambah wawasan pembacanya akan berbagai ragam tradisi yang melatar-belakangi kehidupan penyair itu sendiri. Imajinasi luas tak terbatas, begitu juga ada sejuta kata yang tak sama dapat diambil dari sekeliling kita sehari hari, seharusnya tak ada kata-kata yang itu itu saja muncul di syair-syair penyair sekarang ini juga temanya, karena tradisi memperkaya tema dan kata.
Pada puisi yang berjudul “ibu seorang penyair”, menggambarkan awal ibu melahirkan sampai kemudian meninggal dunia ditorehkan dengan kesederhanaaan kata, namun tutur bahasa pengulangan yang begitu pilu, menambah goresan kelembutan hati penyair ini terpampang jelas.
ibu yang menangis
menunggu kelahirannya
ibu yang menangis
kesakitan melahirkannya
……………………………………..
ibu yang menangis itu
tak menangis lagi
airmatanya sudah habis
sekarang Dia tidur
di antara rumputan di antara bintang bintang
di langit
Kemudian klimaksnya adalah puisi yang berjudul “hanya airmata dan terik matahari yang mengerti”
rumput rumput sudah mulai panjang
dan seperti rambut kusut
merambati permukaan gundukan tanah
yang tak lagi berwarna merah
waktu aku datang mengunjungimu
pertemuan kita ini
punya arti
hanya airmata dan terik matahari
yang mengerti
…………………………………………………………
ada yang bilang tak boleh noleh ke belakang’kalau kaki sudah beranjak mau pulang
tapi dari jauh
kulihat salib kayumu
tegak penuh
seperti dirimu waktu melepasku
di pelabuhan dulu
Dalam sisi yang lain kematian binatang peliaraannya berupa kucing, mampu juga membuat penyair ini menggoreskan kata-kata mengenangnya dalam rangkaian yang indah dan menyentuh. Dalam smsnya pada saya beberapa waktu lalu, dia ceritakan bahwa kucing itu dibawa dari Medan kemudian sempat ke Eropa mengalami masa karantina 3 bulan sampai kemudian selamat di Selandia Baru. Eh, sampai di sana mati dipukul orang. Saya sempat mengira ini seekor anjing, maklum di otakku tercemar Batak kan suka anjing, tak tahu kalau ini kucing.
Lentingan suara Mariah Carey mendendangkan We belong together berbarengan dengan suara kucing tetangga mengeong sejenak, seakan kucing itu menerima tanda saya sedang membaca sajak tentang kematian kucing.
elegi claudie
di atas tanah
lembab
terlindung
beberapa rumput berduri
dia terbaring
bulu badannya
yang putih
dan pirang
tegak memanjang
dari leher
ke ujung punggungnya
kedua kaki depannya
agak terdorong ke muka
dan kaki belakangnya
keduanya tertekuk
seolah dia sedang mengamati sesuatu
kedua matanya
terbuka
terbelahak
dan mulutnya menganga
waktu kuangkat
ke pangkuanku
badannya
sudah dingin
sorenya
dokter bilang
nadi ke hatinya
pecah-
seseorang pasti memukulnya
besoknya aku
kubur dia
di atas bukit (di belakang rumah)
yang memandang ke lembah
wellington, juni 1990
Tipologi penulisan yang terpotong potong ke bawah menggambarkan betapa hati penyair ini membuat susunan kata-kata dengan terbata-bata seperti seorang anak kecil yang menangis dalam sedu sedannya bercerita ketika menjumpai hewan peliharaan mati dengan sangat mengenaskan, hancur hati, dia membuat begitu jelas intonasi kata pada baris tersendiri untuk “dia terbaring”, kemudian “seolah dia sedang mengamati sesuatu” dan terakhir penyebab kematian “pecah”. Penyair ini telah memberikan “tanda” intonasi kata apabila ada pembaca yang akan membacakan puisinya, sehingga puisi ini akan semakin hidup. Kadang pembaca sering menemukan kesulitan dalam membacakan puisi penyair. Apabila tidak terbiasa baca puisi, apalagi bagi seorang awam. Namun dalam puisi di atas ini, Saut juga memberikan semacam kemudahan dalam membaca karyanya terutama bagi orang awam untuk suatu ketika dibaca di depan publik.
Dalam babak Cinta ini, saya justru menemukan penggambaran romantisme masa pacaran penyair ini yang dibuat dalam bentuk puisi kurang begitu dalam dan kesannya kering di permukaan dan saya rasakan agak kasar, entahlah apa karena ada penggambaran hubungan yang terlalu gamblang dalam kata-kata atau mungkin saya sendiri sudah terhanyut berkubang sebelumnya dengan sajak-sajak dia dalam hubungan dengan kemanusiaan juga tentang kehidupan yang justru digambarkan dengan kelembutan hati penyair yang selalu ada dalam gambaran saya selama ini.
Ada banyak sajak yang dalam, sebagai contoh ”karena laut sungai lupa jalan pulang”, soal Gempa Yogja, “Santiago”, “penyair dan danau”, ”marilah kita mabuk”, “bocah pemancing ikan” dan sajak dia yang terkenal “saut kecil bicara dengan tuhan”.
Bahkan dalam kejadian gempa Yogja, dia masih sempat bermain nakal dalam imajinasi dengan puisi yang berjudul “aku ingin” kukutip sebagian , dengan lirih suara dentingan piano Christian Bautista dalam the way you look at me mengalun sendu ,
aku ingin bercinta denganmu
waktu gempa lewat
di kota kita
saat itu
pasti tak ada
keluh cemas , sinar mata ketakutan
atau gemetar kakimu
yang membuatku termangu
…………………………………………..
Ada beberapa puisinya yang menceritakan gempa ini, dan semuanya dia buat dengan pendalaman makna walau tersusun dari kata-kata yang sederhana. Bagi orang awam yang membacanya dapat ikut serta merasakan goncangan gempa itu dan sayatan pilu bagi korbannya. Bahkan saya sempat terjatuh dari kursi ternyata mor-bautnya copot.
Dalam imajinasi kemudian dituangkan melalui bait bait puisinya, saya menemukan beberapa puisi dengan gaya bagaikan kumparan membentuk sebuah gelas kaca, berputar-putar menggelembung. Beberapa puisinya seperti ini dalam gambaran saya ketika membacanya: ”insomania”,”sajak mabuk”, ”sajak musim salju”.
Saya kutipkan sajak “insomania”
hampir.tengah.malam.jalan.
jalan.kota.sudah.sepi.mobil
kadang.lewat.lewat.mengiris.dingin.malam.
di.kamar.sendiri.aku.mendengar.
……………………………………………
Perhatikan penulisan setiap kata yang diakhiri tanda titik, menggambarkan bagaimana kesulitan kita untuk tidur. Bagi penderita insomania akut, penggambaran kesulitan memejamkan mata terasa dalam kata-kata yang dia tulis dengan akhiran titik. Saya melihat seperti kelopak mata ini sejenak terpejam, sejenak lagi terbuka terus menerus seperti itulah kiranya tafsir saya terhadap apa yang ditulis penyair ini dengan setiap kata langsung diakhiri titik. Padahal kalau dibaca dengan membuang tanda baca “titik” tadi akan tersususn baris-baris kata puisi biasa pada umumnya, namun di sini penyair tidak hanya menyampaikan isi puisi itu namun dia juga menggambarkan penyampaian itu seperti pembaca ini mengalami juga penyakit “insomania” dengan kejelasan titik-titik dalam setiap kata yang tersusun itu. Luar biasa!
Di sini kemudian saya menemukan sisi lain dari Saut penyair garis keras ini (sebagian teman sastrawan menilai dia begitu), rocker garis cadas atau metal kali ya kalau pada aliran musik. Namun saya tak setuju seratus persen terhadap penilaian ini. Justru dalam syair syairnya itu banyak saya temui kelembutan seorang penyair yang sebenarnya, juga rasa tanggung jawab dia terhadap pembelajaran bagi pembacanya bagaimana dia menuntun pembaca untuk dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan, apa yang ingin dia ceritakan dengan segudang petualangannya selama ini mencari kehidupan dan membentuk kehidupan dia selanjutnya. Kata baginya tidak hanya sekedar rangkaian memilah milah, menggabung gabung, tapi bagaimana kata disusun dalam kontek tradisi juga pembacaan yang diatur dengan memberikan semacam tanda bagi pembaca yang mendalami puisi puisinya. Hal ini sangat jarang saya temui pada puisi-puisi penyair lain.
Saut yang gegap gempita dalam konsistensi pendapat dan pemikiran juga tercermin dalam babak ke dua yang berjudul POLITIK.
Sajak sajaknya pada babak ini luar biasa, penuh tenaga dan dorongan, kuat dalam penyampai ide dan kesederhanaan kata itu berhasil membuat beberapa teman kecil saya di SMA bisa memahami mengapa seorang penyair juga harus peka terhadap kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya, tidak hanya situasi kemanusiaan, namun juga merembet pada keadaaan Negara, perjuangan kantong-kantong perlawanan yang ada di masyarakat pada umumnya.
”Sajak mimpi untuk Widji Thukul”, ”marsinah”, ”dari berita di sebuah majalah”. Puisi terakhir ini sempat membuat mata hati saya meradang merah dan menggigil
Saya kutipkan sebagian dengan ditemani lolongan Celien Dion dalam the power of love,
bocah perempuan itu pecah jantungnya
waktu dituduh mencuri perhiasan tetangga
airmatanya cuma minyak
memarakkan api di dada sang angkara murka
lalu seorang polisi membawa bocak kecil itu
ke kantornya. lalu polisi itu menendang
badan kecilnya ke dalam sel yang terlalu
besar buat rasa takut di matanya
dia tak pernah mencuri perhiasan siapa
siapa jawabnya waktu sebuah kepalan
tangan raksasa menghancurkan semua
keriangan kanak kanaknya
selamanya
lalu perempuan kecil itu direndam
bagai selembar sarung kotor di bak mandi
kantor polisi
lalu perempuan kecil itu dinikmati
jerit kesakitannya oleh dua polisi
yang duduk merokok di kursi yang memaku kuku kakinya
ke semen lantai!
Puisi ini cukup panjang, dan membuat saya tak mampu membaca habis, karena tanpa sadar airmata mengaburkan kata-kata itu dan lamat-lamat seperti terdengar suara penyiar dalam acara buser atau jejak pembunuh entah apalagi di televisi dalam acara yang biasanya mengulas pembunuhan yang sudah dikemas menjadi barang tontonan menarik dan acara ini telah menjadi semacam ”guide” bagi lahirnya pembunuh pembunuh selanjutnya di masyarakat. Ya, acara televisi yang paling saya benci dan kurcaci saya larang untuk menontonnya, takut dia akan menjadi pembunuh dalam dunia lain.
Kebobrokan moral, ketidak adilan dan tingkah laku masyarakat di sekeliling ini, memang tak luput dari goresan imajinasinya yang pilu dan dalam. ”sajak orang orang buangan”, ”surat bawah tanah”, ”catatan subversif tahun 1998”, juga puisinya tentang kejadian Mei 1998, ”aku adalah mayat” dan masih banyak lagi, yang begitu kuat menggambarkan situasi peristiwa yang berhubungan dengannya.
Ada satu puisi dalam babak ini yang begitu menyentuh judulnya “inilah aku”
inilah wajahku
yang kau siarkan di media massamu
tak perlu lagi kau memburuku
inilah tanganku
yang kau tuduh menulis hasutan hasutan itu
tak perlu lagi kau memburuku
inilah kakiku
yang kau katakan lari dari tanggungjawabku
tak perlu lagi kau memburuku
dan inilah dadaku
yang kau fitnah penuh benci pada negeriku sendiri
tembaklah dengan senapanmu
kalau kau berani melawan nuranimu!
Pada babak terakhir buku kumpulan ini RANTAU lebih banyak memuat puisi puisinya dalam bahasa Inggris, yang memperjelas kalau penyair ini merantaunya di negeri sono. Ada beberapa yang merupakan terjemahan puisi dia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris seperti “1966”, “totem”, “subversive notes 1998”, “a letter from the underground”, “imagine we were in Dili”. Judul yang terakhir ini, sebelumnya dalam bahasa Indonesia terdapat dalam babak POLITIK ini cukup menggelikan setelah membacanya. Saya kutipkan dengan keriangan Michael Learns dalam the actor dari jauh mengalun lembut,
seandainya kita di Dili imagine we were in Dili
“jangan tembak, pak! “don’t shoot, sir!
jangan tembak! please don’t shoot I’m an Indonesian!
saya ini orang Indonesia! look! here’s my ID card.
lihat KTP saya KTP Jakarta!!!” it was issued in Jakarta!!!”
“wah, tenane, lho sialan! “It’s true, shit!
ya sudah. Hayo sembunyi! okay, go and hide in sana di Koramil. ourheadquarters. Hurry up!
kok wong Indonesia ada di jalan, what the hell is an Indonesian doing out in the street,
pengen mati, ya! diancuk!!!” do you want to get shot dead, eh? hurry up! bastard!”
15 september 1999
Saya baru tahu kalau pisuh pisuhan bahasa Suroboyoan itu dalam bahasa Inggris jadi “bastard”, tapi kayaknya lebih enak dalam bahasa aslinya deh! terasa nendang diintonasinya. Dan saya bisa lebih leluasa misuhi wong bule dengan aslinya, kalau diterjemahkan kurang makyus. Dan Saut dalam puisi tersebut berupaya melucu namun getir. Bahasa sulitnya parody satire, dalam perang yang kejam selalu ada kelucuan terselip.
Buku tebal bergambar narsis habis penyairnya ini diambil kala dia masih imut dan menggemaskan, apakah sudah gede begini masih menggemaskan? Tentunya hanya untuk seorang Katrin Bandel hal ini masih menggemaskan dan bagi lawannya yang suka dikritik, Saut pun masih menggemaskan (barangkali?), rasanya tak habis habis untuk digali dan diselami. Bagi saya yang belum bertatap muka dengannya, walau sudah sering kontak by sms dan membaca beberapa esainya yang ditulis cukup serius, setidaknya cukup memberikan gambaran seorang Saut Situmorang yang sebenarnya mempunyai sisi bertolak belakang dengan gaya lantang bicaranya apalagi bila dia menemukan ketidak adilan dalam perjalanan sastra Indonesia saat ini.
Di akhir buku ini ditutup dengan tiga puisinya yang berjudul “Blues for Allah 1” , “Blues for Allah 2”, dan “Blues for Allah 3”, puisi puisi ini sangat pendek, orang bilang walau dia pendek tapi padat berisi dan telak. Bahkan untuk puisi “Blues for Allah 3” tidak ada isinya, kosong melompong, dibiarkan pembacanya untuk bebas mau menulis apa.
Iringan lembut Whitney Houston dalam I will always love you mengantarku menyelami dua puisi terakhir ini.
Blues for Allah 1
the sky’s so blue the kids’re playing
then the sea rose and ate up everything –
tsunami
Blues for Allah 2
the lonely moon and
the silent night are what the
tsunami left behind
Blues for Allah 3
Penilaian saya akan puisi-puisi Saut yang mudah untuk dicerna pembaca awam ini, tidak terikat dengan metafora yang jelimet, namun centang perentang dalam penyampaian gagasan juga penilaian dan perlawanan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, membuat saya pribadi tak lelah menikmati puisi-puisinya. Walau ada beberapa puisi panjang dalam bait dan barisan kalimat, tetapi tidak memanjang satu kalimat oleh puluhan kata ini, sehingga bagi saya yang penggemar berat puisi yang tidak bertele-tele, terasa nyaman di mata dan di hati.
Puisi-puisinya mewakili karakter dia sebenarnya, di satu sisi lembut, lucu dan romantis kering, di sisi lain garang perlawanan dan lantang tergores. Jadi ingat cerita Vendetta dengan lambang “V”nya yang terkenal itu.
Bogor, Sore hujan gerimis,minggu malam hari raya qurban, 7 desember 2008. 17.07 wib
Monday, December 29, 2008
Sunday, November 30, 2008
coretan awal desember 2008
sebentar lagi awan berganti dengan wajah baru
banyak kenangan lalu memaksa diri berdiri
padahal sudah menemukan sandaran empuk
untuk sekedar melepas punggung yang menyiksa perjalanan
kali ini tahun riak terasa agak menyita pikiran
walau cuman sedepa tak lebih
namun cukup dalam dirasa
kang aku sendiripun sampai hari ini suk bertanya
ada sesuatu pada pikirannyakah yang membuat
putih tiba-tiba menjadi hitam
dan hitamnya lebih hitam dari lelehan tir untuk membuat jalan
dan lekatnya melebihi lelehan coklat
dendam, benci tiba-tiba terakhir mengiringi langkah ini
tak tahu dari mana datang
tapi dengan helaan nafas kesabaran
semuanya akan terkikis
kesabaran ini tetap teruji sampai kapanpun
seperti kitab suci katakan
diam selalu emas
diam kendalikan emosi
diam tak peduli
diam puncak kesabaran
diam
diam
goresan diatas kutulis buat teman-teman sejati di Kurawa gans's yang dengan kesabaran tinggi menghadapi kerikil yang cukup tajam walau bentuknya kecil....
sukses selalu
8.35wib
banyak kenangan lalu memaksa diri berdiri
padahal sudah menemukan sandaran empuk
untuk sekedar melepas punggung yang menyiksa perjalanan
kali ini tahun riak terasa agak menyita pikiran
walau cuman sedepa tak lebih
namun cukup dalam dirasa
kang aku sendiripun sampai hari ini suk bertanya
ada sesuatu pada pikirannyakah yang membuat
putih tiba-tiba menjadi hitam
dan hitamnya lebih hitam dari lelehan tir untuk membuat jalan
dan lekatnya melebihi lelehan coklat
dendam, benci tiba-tiba terakhir mengiringi langkah ini
tak tahu dari mana datang
tapi dengan helaan nafas kesabaran
semuanya akan terkikis
kesabaran ini tetap teruji sampai kapanpun
seperti kitab suci katakan
diam selalu emas
diam kendalikan emosi
diam tak peduli
diam puncak kesabaran
diam
diam
goresan diatas kutulis buat teman-teman sejati di Kurawa gans's yang dengan kesabaran tinggi menghadapi kerikil yang cukup tajam walau bentuknya kecil....
sukses selalu
8.35wib
Rendra in Reboan
RENDRA : TAK CUKUP HANYA PEDULI TAPI HARUS TERLIBAT
Semua kreativitas seni, tidak hanya puisi, menurut Suluk Demak harus
muncul dari `kahanan'. Kreator harus selalu berada dalam keadaan,
tidak berada dalam khayalan, tidak dalam teori tapi masuk dalam
kahanan itu dengan modal kepedulian. Dengan demikian dia akan
mendapatkan pergaulan kharismatik, masuk dalam kontekstualitas.
Tapi ini tidaklah cukup, kita harus merangkul, terlibat. Dengan kata
lain, keterlibatan itu mengakibatkan pengalaman pribadi. Kalau itu
muncul dalam kesadaran itu namanya paradigma. Kalau hanya sekedar
indah dan penuh rasa, itu banyak. Tapi dengan paradigma akan lebih
unggul, apalagi jika dikaitkan dengan nilai-nilai universal. Semakin
kontekstual, semakin tampak paradigmanya, tidak hanya wawasannya yang
tampil.
Demikian disampaikan oleh W.S Rendra ketika menyampaikan pidatonya di
akhir acara Sastra Reboan#8 yang seperti biasa berlangsung di Warung
Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, kemarin (26/11). Di
awal pidatonya Rendra yang mengenakan jeans da jaket biru ini menoleh
ke latar panggung yang bertuliskan Paguyuban Sastra Rabu Malam. Slogan
"Banyak Pintu Menuju Sastra" dikomentarinya "Ini yang pertama menarik
perhatian saya. Ternyata puisi terus hidup hingga sekarang".
Lebih dari seratus penonton memadati Wapres, termasuk Presiden Penyair
Sutardji Calzoum Bachri, meski hujan sejak sore mengguyur berbagai
sudut Jakarta dan sempat membuat cemas panitia. Para penonton ini tak
beranjak dari saat acara dimulai molor jam 20.00 hingga berakhir pukul
23.00 wib.
Sastra Reboan#8 kali ini menampilkan beberapa alumni Institut
Teknologi Bandung (ITB) yang ingin berkumpul dan membaca puisi di
acara ini. Dikomandoi oleh Slamet Widodo dan Nugroho Suksmanto,
persiapan tampil di Sastra Reboan terus digodok dengan Kurnia Effendi,
cerpenis flamboyan yang menghubungi kalangan alumni ITB untuk
berpartisipasi. Penyair kondang, Acep Zamzam Noor yang sudah siap
tampil, tidak jadi datang karena ada acara yang tak bisa ditunda.
Selain para alumni ITB, Sastra Reboan juga menampilkan beberapa
pembaca puisi, penyanyi Fia dan geguritan (pembacaan puisi dalam
bahasa Jawa) oleh grup gending Sri Redana Laras. Penampilan geguritan
dari syair karya Ronggowarsito yang dipimpin Sugito ini cukup menarik
perhatian. Para penembangnya anak muda dari yang masih SMP hingga
mahasiswi. Bahkan salah satunya, Wulan bukan orang Jawa tapi Betawi
asli. Di tengah geguritan ini Sutardji Calzoum Bachri tiba.
Acara yang dibuka oleh MC Budhi Setyawan, yang kali ini didampingi
penyair Rukmi Wisnu Wardani, diawali dengan penampilan Triana
Kumalasari, Dian Ayu dan Mhammad Nurdin. Ketiga siswa SMA Martia
Bakti, Bekasi ini tampil penuh percaya meski ada Sujiwo Tejo dan para
penyair ternama lainnya. Begitu juga Sasib Negaraja dari Komunitas
Sastra Jalanan Indonesia, Gemmy Mohawk (yang juga memperkenalkan buku
puisinya `Sirami Jakarta Dengan Cinta"), Kuntet Mangkudilaga dan Een
Nurhaeni, mahasiswi jurusan Broadcasting.
Menjelang jam 21.00, Kurnia Effendi yang akrab disapa Kef menggantikan
Budi dan Dani untuk memandu para alumni ITB. Nugroho Suksmanto dan
Slamet Widodo lalu tampil dalam Bincang Sastra dan Komunitas (BSK)
tentang latarbelakang berkumpulnya alumni ITB ini. "Ternyata banyak
alumni itb berkecimpung juga di tulisan dan syair. Lewat acara di
Sastra Reboan ini diharapkan memberikan rangsangan pada sarjan ITB
untuk juga bisa menyukai sastra" ujar kedua tokoh Pena Kencana itu.
Militansi
Usai BSK, Kef yang masih di panggung membacakan puisi, disusul Prof.
Danuswara yang ahli lingkungan kota dan guru besar ITB dengan dua
puisinya "Jalan" dan "Kampung Kota'. Kemudian Teguh Haryono membacakan
dua puisi juga, yang dikomentarinya sebagai pembacaan puisi pertama
kali di Wapres.
Fadjroel rahman membacakan 2 puisi berikutnya, salah satunya sering
dibawakannya, "Dongeng Untuk Popy". Mantan aktivis ini memberikan
gambaran bahwa mahasiwa ITB berkumpul dan mendirikan semacam komunitas
sastra dng singkatan GAS, yang kadang juga diplesetkan menjadi
Gerakan Anti Suharto krn pada waktu itu gerakan menentang Suharto
bisa juga direfleksikan dengan berteriak di lapangan basket dalam
bentuk apresiasi puisi.
Berikutnya Nugroho Suksmanto membacakan 2 puisi "Jilbab" dan "Pantat",
diikuti Lukman SH pelukis dan penyair yang membawakan puisi "Ganesha"
dan dibuatnya saat berusia 27 tahun.
Dari deretan penonton tampak penyair Dharmadi, Endah Perca, Rita
Achdris, Imam Maarif, Teguh Esha, Eka Kurniawan, Broden pabrik_t, Purwianto dan beberapa
aktivis sastra dari Universitas Atmajaya dan Universitas Bung Karno.
Di tengah pembacaan puisi, penyanyi Fia yang mengaku sejak 2004
dibesarkan di Wapres tampil membawakan lagu "Ada Rindu Ada Cemburu"
mendampingi Slamet Widodo. Penyair yang buku terbarunya `Selingkuh"
ini membuat penonton cengengesan ketika membawakan puisi "Susu" yang
di tengah pembacaan terselip kalimat `ah..mosok" dan ditirukan penonton.
Sebelum Sujiwo Tejo tampil, Sadewa yang putera WS Rendra naik ke
panggung membaca "Cinta yang Bersandar di Sebuah Perahu" dan "Aku dan
Gitarku", disusul Rara Gendis serta alumni ITB, Krismanggolo
membawakan puisi karya Bung Karno "Nasionalis Revolusioner".
Penampilan puncak acara, Sujiwo Tejo tak pelak membuat pengunjung
tergelak dengan komentar nakalnya di sela pembacaan sajak dan lagunya.
Dengan ringannya saat membawakan sajak "Anyaman" Sujiwo Tejo sempat
mengisahkan sebagian petualangan cinta Rendra yang membuat banyak
penyair lainnya semisal Emha Ainun Najib terkagum-kagum. Sedang para
alumni ITB yang membaca puisi malam itu disentilnya karena ternyata
tak berani mengambil resiko menjadi seniman murni seperti dirinya,
yang disambut tawa pengunjung.
Di akhir acara, Slamet Widodo yang berbincang dengan Sutardji Calzoum
Bachri menjelaskan bahwa Presiden Penyair ini terkesan dengan Sastra
Reboan. "Saya sudah mendengar acara ini, tapi belum sempat dating.
Terus terang, acara seperti ini bagus dan dibutuhkan. Sudah
berlangsung secara rutin menunjukkan komunitasnya hidup. Tapi tanpa
militansi penyelenggaranya, pastilah tak akan berjalan".
Sampai bertemu di Sastra Reboan #9 tanggal 17 Desember mendatang.
(ilenk/gie)
Semua kreativitas seni, tidak hanya puisi, menurut Suluk Demak harus
muncul dari `kahanan'. Kreator harus selalu berada dalam keadaan,
tidak berada dalam khayalan, tidak dalam teori tapi masuk dalam
kahanan itu dengan modal kepedulian. Dengan demikian dia akan
mendapatkan pergaulan kharismatik, masuk dalam kontekstualitas.
Tapi ini tidaklah cukup, kita harus merangkul, terlibat. Dengan kata
lain, keterlibatan itu mengakibatkan pengalaman pribadi. Kalau itu
muncul dalam kesadaran itu namanya paradigma. Kalau hanya sekedar
indah dan penuh rasa, itu banyak. Tapi dengan paradigma akan lebih
unggul, apalagi jika dikaitkan dengan nilai-nilai universal. Semakin
kontekstual, semakin tampak paradigmanya, tidak hanya wawasannya yang
tampil.
Demikian disampaikan oleh W.S Rendra ketika menyampaikan pidatonya di
akhir acara Sastra Reboan#8 yang seperti biasa berlangsung di Warung
Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, kemarin (26/11). Di
awal pidatonya Rendra yang mengenakan jeans da jaket biru ini menoleh
ke latar panggung yang bertuliskan Paguyuban Sastra Rabu Malam. Slogan
"Banyak Pintu Menuju Sastra" dikomentarinya "Ini yang pertama menarik
perhatian saya. Ternyata puisi terus hidup hingga sekarang".
Lebih dari seratus penonton memadati Wapres, termasuk Presiden Penyair
Sutardji Calzoum Bachri, meski hujan sejak sore mengguyur berbagai
sudut Jakarta dan sempat membuat cemas panitia. Para penonton ini tak
beranjak dari saat acara dimulai molor jam 20.00 hingga berakhir pukul
23.00 wib.
Sastra Reboan#8 kali ini menampilkan beberapa alumni Institut
Teknologi Bandung (ITB) yang ingin berkumpul dan membaca puisi di
acara ini. Dikomandoi oleh Slamet Widodo dan Nugroho Suksmanto,
persiapan tampil di Sastra Reboan terus digodok dengan Kurnia Effendi,
cerpenis flamboyan yang menghubungi kalangan alumni ITB untuk
berpartisipasi. Penyair kondang, Acep Zamzam Noor yang sudah siap
tampil, tidak jadi datang karena ada acara yang tak bisa ditunda.
Selain para alumni ITB, Sastra Reboan juga menampilkan beberapa
pembaca puisi, penyanyi Fia dan geguritan (pembacaan puisi dalam
bahasa Jawa) oleh grup gending Sri Redana Laras. Penampilan geguritan
dari syair karya Ronggowarsito yang dipimpin Sugito ini cukup menarik
perhatian. Para penembangnya anak muda dari yang masih SMP hingga
mahasiswi. Bahkan salah satunya, Wulan bukan orang Jawa tapi Betawi
asli. Di tengah geguritan ini Sutardji Calzoum Bachri tiba.
Acara yang dibuka oleh MC Budhi Setyawan, yang kali ini didampingi
penyair Rukmi Wisnu Wardani, diawali dengan penampilan Triana
Kumalasari, Dian Ayu dan Mhammad Nurdin. Ketiga siswa SMA Martia
Bakti, Bekasi ini tampil penuh percaya meski ada Sujiwo Tejo dan para
penyair ternama lainnya. Begitu juga Sasib Negaraja dari Komunitas
Sastra Jalanan Indonesia, Gemmy Mohawk (yang juga memperkenalkan buku
puisinya `Sirami Jakarta Dengan Cinta"), Kuntet Mangkudilaga dan Een
Nurhaeni, mahasiswi jurusan Broadcasting.
Menjelang jam 21.00, Kurnia Effendi yang akrab disapa Kef menggantikan
Budi dan Dani untuk memandu para alumni ITB. Nugroho Suksmanto dan
Slamet Widodo lalu tampil dalam Bincang Sastra dan Komunitas (BSK)
tentang latarbelakang berkumpulnya alumni ITB ini. "Ternyata banyak
alumni itb berkecimpung juga di tulisan dan syair. Lewat acara di
Sastra Reboan ini diharapkan memberikan rangsangan pada sarjan ITB
untuk juga bisa menyukai sastra" ujar kedua tokoh Pena Kencana itu.
Militansi
Usai BSK, Kef yang masih di panggung membacakan puisi, disusul Prof.
Danuswara yang ahli lingkungan kota dan guru besar ITB dengan dua
puisinya "Jalan" dan "Kampung Kota'. Kemudian Teguh Haryono membacakan
dua puisi juga, yang dikomentarinya sebagai pembacaan puisi pertama
kali di Wapres.
Fadjroel rahman membacakan 2 puisi berikutnya, salah satunya sering
dibawakannya, "Dongeng Untuk Popy". Mantan aktivis ini memberikan
gambaran bahwa mahasiwa ITB berkumpul dan mendirikan semacam komunitas
sastra dng singkatan GAS, yang kadang juga diplesetkan menjadi
Gerakan Anti Suharto krn pada waktu itu gerakan menentang Suharto
bisa juga direfleksikan dengan berteriak di lapangan basket dalam
bentuk apresiasi puisi.
Berikutnya Nugroho Suksmanto membacakan 2 puisi "Jilbab" dan "Pantat",
diikuti Lukman SH pelukis dan penyair yang membawakan puisi "Ganesha"
dan dibuatnya saat berusia 27 tahun.
Dari deretan penonton tampak penyair Dharmadi, Endah Perca, Rita
Achdris, Imam Maarif, Teguh Esha, Eka Kurniawan, Broden pabrik_t, Purwianto dan beberapa
aktivis sastra dari Universitas Atmajaya dan Universitas Bung Karno.
Di tengah pembacaan puisi, penyanyi Fia yang mengaku sejak 2004
dibesarkan di Wapres tampil membawakan lagu "Ada Rindu Ada Cemburu"
mendampingi Slamet Widodo. Penyair yang buku terbarunya `Selingkuh"
ini membuat penonton cengengesan ketika membawakan puisi "Susu" yang
di tengah pembacaan terselip kalimat `ah..mosok" dan ditirukan penonton.
Sebelum Sujiwo Tejo tampil, Sadewa yang putera WS Rendra naik ke
panggung membaca "Cinta yang Bersandar di Sebuah Perahu" dan "Aku dan
Gitarku", disusul Rara Gendis serta alumni ITB, Krismanggolo
membawakan puisi karya Bung Karno "Nasionalis Revolusioner".
Penampilan puncak acara, Sujiwo Tejo tak pelak membuat pengunjung
tergelak dengan komentar nakalnya di sela pembacaan sajak dan lagunya.
Dengan ringannya saat membawakan sajak "Anyaman" Sujiwo Tejo sempat
mengisahkan sebagian petualangan cinta Rendra yang membuat banyak
penyair lainnya semisal Emha Ainun Najib terkagum-kagum. Sedang para
alumni ITB yang membaca puisi malam itu disentilnya karena ternyata
tak berani mengambil resiko menjadi seniman murni seperti dirinya,
yang disambut tawa pengunjung.
Di akhir acara, Slamet Widodo yang berbincang dengan Sutardji Calzoum
Bachri menjelaskan bahwa Presiden Penyair ini terkesan dengan Sastra
Reboan. "Saya sudah mendengar acara ini, tapi belum sempat dating.
Terus terang, acara seperti ini bagus dan dibutuhkan. Sudah
berlangsung secara rutin menunjukkan komunitasnya hidup. Tapi tanpa
militansi penyelenggaranya, pastilah tak akan berjalan".
Sampai bertemu di Sastra Reboan #9 tanggal 17 Desember mendatang.
(ilenk/gie)
Wednesday, November 26, 2008
reboan november
Kota. Kata.
Bulan November 1945, ada sebuah kota coba direbut dari tangan musuh.
Bulan November 2008, siapa punya musuh? apa yang akan kita rebut
darinya?
Berbagai peristiwa yang terjadi dalam bulan November, ada yang
diperingati secara luas, tapi juga ada yang diam-diam dan senyap saja
karena banyak yang belum mengenal peristiwanya. Satu peristiwa yang
sangat akrab adalah Hari Pahlawan, peringatan bagi kegigihan dan
keberanian arek-arek Suroboyo ketika menghadapi Jepang pada 10 November
1945.
Di November ini, tepatnya tanggal 26, Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar
MaLam) kembali menghadirkan Sastra Reboan #8 Sastra Reboan dengan tema
"Merebut Kata", yang seperti biasa berlangsung mulai jam 19.00
di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan.
Sastra Reboan #8 kali ini menampilkan beberapa alumni Insititut
Teknologi Bandung (ITB) yang dalam perjalanan hidupnya berkiprah,
setidaknya bersentuhan, dengan dunia sastra dan seni. Mereka sudah tak
asing lagi namanya seperti Acep Zamzam Noor, Kurnia Effendi, Sujiwo
Tejo, Nugroho Suksmanto, Slamet Widodo, Lukman SH, Karlina Supeli dan
Fadjroel Rachman, dan lain-lain. Ada apa di balik kemunculan para alumni
berpuisi? bisa disaksikan dalam Bincang Seputar Komunitas (BSK) yang
merupakan bagian dari Sastra Reboan.
Tak ketinggalan, beberapa penampil lain yang pastinya akan semakin
menyemarakkan Reboan kali ini. Jadi, silakan datang merayakan berbagai
hal yang telah terjadi dan akan direnungkan dari November ini.
Setidaknya, di Sastra Reboan kita bersama-sama menyapa dan mengenal
sastra tanpa mengerutkan dahi, karena lelah sudah menjadi santapan
sehari-hari.
26.11.2008
Bulan November 1945, ada sebuah kota coba direbut dari tangan musuh.
Bulan November 2008, siapa punya musuh? apa yang akan kita rebut
darinya?
Berbagai peristiwa yang terjadi dalam bulan November, ada yang
diperingati secara luas, tapi juga ada yang diam-diam dan senyap saja
karena banyak yang belum mengenal peristiwanya. Satu peristiwa yang
sangat akrab adalah Hari Pahlawan, peringatan bagi kegigihan dan
keberanian arek-arek Suroboyo ketika menghadapi Jepang pada 10 November
1945.
Di November ini, tepatnya tanggal 26, Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar
MaLam) kembali menghadirkan Sastra Reboan #8 Sastra Reboan dengan tema
"Merebut Kata", yang seperti biasa berlangsung mulai jam 19.00
di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan.
Sastra Reboan #8 kali ini menampilkan beberapa alumni Insititut
Teknologi Bandung (ITB) yang dalam perjalanan hidupnya berkiprah,
setidaknya bersentuhan, dengan dunia sastra dan seni. Mereka sudah tak
asing lagi namanya seperti Acep Zamzam Noor, Kurnia Effendi, Sujiwo
Tejo, Nugroho Suksmanto, Slamet Widodo, Lukman SH, Karlina Supeli dan
Fadjroel Rachman, dan lain-lain. Ada apa di balik kemunculan para alumni
berpuisi? bisa disaksikan dalam Bincang Seputar Komunitas (BSK) yang
merupakan bagian dari Sastra Reboan.
Tak ketinggalan, beberapa penampil lain yang pastinya akan semakin
menyemarakkan Reboan kali ini. Jadi, silakan datang merayakan berbagai
hal yang telah terjadi dan akan direnungkan dari November ini.
Setidaknya, di Sastra Reboan kita bersama-sama menyapa dan mengenal
sastra tanpa mengerutkan dahi, karena lelah sudah menjadi santapan
sehari-hari.
26.11.2008
Tuesday, November 25, 2008
cemburu
: balasan weny suryandari
aku disini
aku dengar bisikmu
walau hujan deras mengguyur
detik ini masih kudengar dentangan hatimu
aku ambil selimut biru
menutup cemburu pilu
agar tak menderu
aku masih tetap disini
menanti setia bisikmu
tak perlu perih dihati
cemburumu bukti cintaku
26.11.2008, 14.30wib
aku disini
aku dengar bisikmu
walau hujan deras mengguyur
detik ini masih kudengar dentangan hatimu
aku ambil selimut biru
menutup cemburu pilu
agar tak menderu
aku masih tetap disini
menanti setia bisikmu
tak perlu perih dihati
cemburumu bukti cintaku
26.11.2008, 14.30wib
Tuesday, October 21, 2008
reboan oktober
Bulan Oktober, selain ada hari-hari yang dianggap penting seperti
peringatan milad Angkatan Bersenjata, peringatan Sumpah Pemuda, juga
disebut-sebut sebagai bulan Bahasa. Berkenaan dengan hal itu, Paguyuban
Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) kembali menghadirkan Sastra Rabu Malam
atau biasa dikenal dengan "Reboan" dengan tema "Aku dan Bahasa."
Reboan akan dilaksanakan pada 29 Oktober 2008 bertempat di WaPres,
Bulungan pada pukul 19.00 - selesai dengan menghadirkan beberapa penyair
seperti Awaludin, Ashar, Imam Ma'arif, Giyanto Subagyo, Heri Maja
Kelana, Shinta Febrianny, Irmansyah, dan Pudwianto Arisanto. Selain
penampilan mereka, Reboan juga akan membedah komunitas seni budaya yang
cukup tua di Jakarta yaitu Komunitas Planet Senen dengan narasumber Imam
Ma'arif dan Irmansyah. Mudah-mudahan dengan acara ini, pengunjung Reboan
bisa mendapatkan tips dan trik hidup berkomunitas. Sebab seperti
diketahui kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta sudah cukup pikuk
dengan ambiens konsumerisme dan individualis yang tinggi.
Berkenaan dengan tema, akan tampil delapan orang ekspatriat dari Jepang,
Korea, Ukraina, Mongolia, dan Perancis yang akan membacakan puisi-puisi
berbahasa Indonesia. Mereka tampil berkat upaya Bung Kelinci dan Teater
Pintu 310-nya.
Dari anggota PaSaR Malam sendiri, setiap reboan selanjutnya akan
memperkenalkan dan membedah karya anggotanya seperti Nurrudien Asyhadie
dengan buku puisi "Beatnik dan sajak-sajak lain", Akmal Nasery Basral
dengan kumpulan cerpen "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku",
Johannes Sugianto dengan bukupuisinya "Di Lengkung Alis Matamu", Budhi
Setyawan dengan "Kepak Sayap Jiwa", dll.
Jadi, datang dan rayakan!
Sie Acara
Dedy Tri Riyadi
NB : Acara ini terbuka untuk umum alias tidak dipungut bayaran
peringatan milad Angkatan Bersenjata, peringatan Sumpah Pemuda, juga
disebut-sebut sebagai bulan Bahasa. Berkenaan dengan hal itu, Paguyuban
Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) kembali menghadirkan Sastra Rabu Malam
atau biasa dikenal dengan "Reboan" dengan tema "Aku dan Bahasa."
Reboan akan dilaksanakan pada 29 Oktober 2008 bertempat di WaPres,
Bulungan pada pukul 19.00 - selesai dengan menghadirkan beberapa penyair
seperti Awaludin, Ashar, Imam Ma'arif, Giyanto Subagyo, Heri Maja
Kelana, Shinta Febrianny, Irmansyah, dan Pudwianto Arisanto. Selain
penampilan mereka, Reboan juga akan membedah komunitas seni budaya yang
cukup tua di Jakarta yaitu Komunitas Planet Senen dengan narasumber Imam
Ma'arif dan Irmansyah. Mudah-mudahan dengan acara ini, pengunjung Reboan
bisa mendapatkan tips dan trik hidup berkomunitas. Sebab seperti
diketahui kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta sudah cukup pikuk
dengan ambiens konsumerisme dan individualis yang tinggi.
Berkenaan dengan tema, akan tampil delapan orang ekspatriat dari Jepang,
Korea, Ukraina, Mongolia, dan Perancis yang akan membacakan puisi-puisi
berbahasa Indonesia. Mereka tampil berkat upaya Bung Kelinci dan Teater
Pintu 310-nya.
Dari anggota PaSaR Malam sendiri, setiap reboan selanjutnya akan
memperkenalkan dan membedah karya anggotanya seperti Nurrudien Asyhadie
dengan buku puisi "Beatnik dan sajak-sajak lain", Akmal Nasery Basral
dengan kumpulan cerpen "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku",
Johannes Sugianto dengan bukupuisinya "Di Lengkung Alis Matamu", Budhi
Setyawan dengan "Kepak Sayap Jiwa", dll.
Jadi, datang dan rayakan!
Sie Acara
Dedy Tri Riyadi
NB : Acara ini terbuka untuk umum alias tidak dipungut bayaran
puisi lapindo dimuat di kompas.com
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/18/14002696/puisi-puisi.ilenk.rembulan
Puisi-puisi Ilenk Rembulan
/Sabtu, 18 Oktober 2008 | 14:00 WIB
Lapindo Satu
: bude Umi
dua ramadhan sudah berlalu
ini ramadhan ke tiga
adakah gema takbir di ujung sana?
Lapindo Dua
:bulek Menik
jemari menyisir sahur di ujung rambut
tetesan peluh menakar gelas kosong
adakah mukena bersih yang masih tersisa?
Lapindo Tiga
:guru Tono
keluh menghimpit
di ujung tumpukan buku
jemari menghitung
papan tanpa tulisan
menunggu bagdo buka
masih adakah bingkisan datang?
Lapindo Empat
:ustadz m.arifin ilham
lafal dzikir bergema
gelegak lumpur mengiringi
lambaian tasbih menari
jeritan puasa berjama’ah
sudahkah kau kirim tahajud padaKu?
Lapindo Lima
:tuanku bakrie
keranjang parcel masih terhidang
lipatan sarung dalam jutaan
kuketuk selembar hatimu
sudahkah kau kirim zakat untukKu?
Jakarta, 9.10 wib, 16 september 2009
Puisi-puisi Ilenk Rembulan
/Sabtu, 18 Oktober 2008 | 14:00 WIB
Lapindo Satu
: bude Umi
dua ramadhan sudah berlalu
ini ramadhan ke tiga
adakah gema takbir di ujung sana?
Lapindo Dua
:bulek Menik
jemari menyisir sahur di ujung rambut
tetesan peluh menakar gelas kosong
adakah mukena bersih yang masih tersisa?
Lapindo Tiga
:guru Tono
keluh menghimpit
di ujung tumpukan buku
jemari menghitung
papan tanpa tulisan
menunggu bagdo buka
masih adakah bingkisan datang?
Lapindo Empat
:ustadz m.arifin ilham
lafal dzikir bergema
gelegak lumpur mengiringi
lambaian tasbih menari
jeritan puasa berjama’ah
sudahkah kau kirim tahajud padaKu?
Lapindo Lima
:tuanku bakrie
keranjang parcel masih terhidang
lipatan sarung dalam jutaan
kuketuk selembar hatimu
sudahkah kau kirim zakat untukKu?
Jakarta, 9.10 wib, 16 september 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
