beberapa hari ini, aku merenung
ada beberapa tugas kantor yang masih tergantung
belum ada satupun selesai
muncul terus persoalan baru
secara berangsur-angsur meniti pagi pagi yang sudah semakin sesak
di hati
di kepala
di tubuh
lelah
keinginan untuk bersandar segera
berlibur
belum kesampaian
padahal aldymy sudah mau liburan
pertama persoalan bonus,
aku semakin tidak mengerti, mengapa orang sudah diberikan rejeki banyak masih serakah dan tak tahu diri.
iwan nuntut pembagian bonus sampai juni, padahal sudah jelas jelas dia sejak th. 2003 diperbantukan di anak perusahaan, alasan perubahan akte notaris jabatan dia ke dua jadi direktur diperpanjang sejak juni. Ah, apa pula dng akte notaris? bonus tak ada hubungannya dng akte notaris jabatan dia.
kemarin aku menghitung bonus dia sudah pas, sejak mei dia dipertegas diperbantukan di anak perusahaan, padahal kalo mau runtut kebelakang dia sama arifin ya enggak dapat.
sudah ditaruh di anak perusahaan masih pula merugi sejak awal berdiri, di rongrongnya biaya-2 dengan korupsi kecil-kecilan.
apakah dia tidak takut dng hari pembalasan? adakah muka malu sudah tak ada lagi di hati dan wajahnya hanya karena nafsu uang..uang uang...jadi ingat lagunya pretty girl dulu.
maka dengan kepala dingin sedikit sadis , ulah orang macam iwan begini yang merupakan benalu di setiap perusahaan harus dibinasakan.. binasakan hati nuraninya dulu baru badannya.
manusia itu sekumpulan hati nurani kan?kalo sekedar tubuh mati sudah akan dirubung ulet...kelabang..kecoak dan teman-2nya....namun hati nurani..jiwa kan hidup sampai kiamat.
aku hanya berharap di setiap keheningan malam, bahwa hati nurani iwan dan arifin bisa terbuka sadar dan sesadar-2nya bahwa untung masih aku kasih bonus, coba kalau tidak.....bisa tereak bugil keliling monas...alamaik....
soal kedua.
renovasi ruangan !
ah, lagi lagi minta dua tiga pemborongan...hanya renovasi kecil musti pembanding pembanding terus...sedangkan bos cetak company profile di temennya ga pake pembanding...itu tidak fair....adakah perbuatan boss selalu fair? ah sejuta cuman atu...
soal ketiga
ini krusial kayaknya
System...belum belum selesai molor molor terus....setahun dah lebih system dibuat ...pemogramannya ga prof banget..mintanya duwit duwit..tapi implementasinya di server ga jalan blass...apa pula maksudnya ini...?
karena sudah terlanjur bayar uang muka 20 juta, maka seenaknya saja dia melenggang,...keterlaluan...
semalam seh udah minta bantuan adeknya pak sugi yang tempo hari bawa itu orang...minta bantuan untuk menyelesaikan permasalahannya...kemarin ya sms umpat-umpat kan lucu..ndak prof blasss....aku paling tidak suka orang tidak berani bicara walau itu jelek sekalipun...apa ya mempertanggung jawabkan begitu...rasanya aneh kalo jadi saling lempar makian...
soal ke empat..kelima..seterusnya...walah puyeng
rasanya jadi pengen berhenti bekerja saja...minta resign duluan...enak kali yaaa...pa lagi kalo disangoni...kekekekekekek....biar bisa buka warung buka toko buku seperti keinginan.....ahh kapan itu terjadi
kata su chen dulu, kalo kamu punya keinginan jualan ya sudah cepet cepet saja jualan, modalnya ya dikit dikit saja dulu, yg penting jualan jgn takut rugi...ah su chen dimana kamu yaaa...??? anakmu pasti banyak dan pasti pinter main basket..wong kamu termasuk tim inti jawa timur basket weee..
ahhh pagi pagi dah ngelantur
jakarta 7.45 wib
Wednesday, June 11, 2008
Sunday, June 8, 2008
wawancara di radio bahana family
kudunya eh laporan ini kubuat pas hari kamis maren tanggal 5 juni 2008 jam 12 siang...tapi gimana lagi, kerjaan kantor akhir-akhir ini menggunung.
sesuai janji sama cak dur Yonathan gue akhirnya jadi juga diwawancarai di radio bahana family dalam rangka bulan sastra, kali ini wawancara soal bukunya cak dur yg baru launching Lanang.....sebagai teman seperjuangan ada baiknya gue ikutan mempromosikan buku tersebut.
seumur-umur gue dah luamaaa kaga diwawancarai di radio lage....hehehehe jadi maren termasuk langka juga, pas kudu ijin bohong lagi ama boss....dasar deh. !
wawancaranya seru banget...dan gw merasa bahagia banget teranyata banyak pendengar sudah baca buku Lanang, dan seperti biasa buku ini kan mengundang kontroversi soa ejaan atau apa lah katanya yg orang sastra atau merasa sok tau sastra dikecam..padahal HB Yassin mengajariku dalam buku-2nya kalau kita mengkritik itu harus berimbang....
tapi dengan wawancara hari itu gue puas banget, dan keliatan cak dur juga senang ternyata mereka mengaparesiasi suku ini tidak pusing soal ejaan atau bahasa yang rumit tetapi oleh tema. Ya buku novel ini kaya akan tema. Pengarang yang baik adalah pengarang yg mau menyampiakan sesuatu untuk pembacanya. di novel Lanang ini cak dur ingin menyampaiakn tentang hasil rekayasa genetika yang sekarang ini sangat sangat membahayakan.
pada saat aq diwawancara aq terangkan bahwa heru yg ada di jerman yg kerja sebagai ahli mikrobiologi itu cerita kalau pada waktu yang akan datang bisa saja babi rasa daging sapi supaya haal, atau kambing rasa sapi..atau sebaliknya...karena persilangan gen yg luar biasaa...wah bisa bahaya ini.
dalam dunia kosmetika kita semua tahu bahwa banyak hasil rekayasa genetika ini dipakai.....bisa bisa lagunya broery semangka berdaun sirih bisa kejadian.
bagaimana tidak bukankah semuanya itu cukup beralasan...dan rupanya dari delapan orang yg mengirim ulasan mereka sependapat dng gw soal rekayasa genetika ini.
dan novel Lanang bisa dng gamblang menceritakan kejadian semuanya aitu bakal dimasa yg akan datang tidak lagi menjadi cerita fiksi namun cerita sesungguhnya.
dan pulang jam 11 sampe kantor lagi......membawa kenangan indah buat perjalannan membantu pemasaran Lanang.
Sebuah karya sastra akan menjadi bernilai bila dia diapresiasi oleh orang-orang yang bukan sastra dan membelinya sebagai tambahan pengetahuan.
hidup LANANG...MERDEKA...salam bahagia buat Cak DUR...YONATHAN..
13.45 wib...waktu kantor..
sesuai janji sama cak dur Yonathan gue akhirnya jadi juga diwawancarai di radio bahana family dalam rangka bulan sastra, kali ini wawancara soal bukunya cak dur yg baru launching Lanang.....sebagai teman seperjuangan ada baiknya gue ikutan mempromosikan buku tersebut.
seumur-umur gue dah luamaaa kaga diwawancarai di radio lage....hehehehe jadi maren termasuk langka juga, pas kudu ijin bohong lagi ama boss....dasar deh. !
wawancaranya seru banget...dan gw merasa bahagia banget teranyata banyak pendengar sudah baca buku Lanang, dan seperti biasa buku ini kan mengundang kontroversi soa ejaan atau apa lah katanya yg orang sastra atau merasa sok tau sastra dikecam..padahal HB Yassin mengajariku dalam buku-2nya kalau kita mengkritik itu harus berimbang....
tapi dengan wawancara hari itu gue puas banget, dan keliatan cak dur juga senang ternyata mereka mengaparesiasi suku ini tidak pusing soal ejaan atau bahasa yang rumit tetapi oleh tema. Ya buku novel ini kaya akan tema. Pengarang yang baik adalah pengarang yg mau menyampiakan sesuatu untuk pembacanya. di novel Lanang ini cak dur ingin menyampaiakn tentang hasil rekayasa genetika yang sekarang ini sangat sangat membahayakan.
pada saat aq diwawancara aq terangkan bahwa heru yg ada di jerman yg kerja sebagai ahli mikrobiologi itu cerita kalau pada waktu yang akan datang bisa saja babi rasa daging sapi supaya haal, atau kambing rasa sapi..atau sebaliknya...karena persilangan gen yg luar biasaa...wah bisa bahaya ini.
dalam dunia kosmetika kita semua tahu bahwa banyak hasil rekayasa genetika ini dipakai.....bisa bisa lagunya broery semangka berdaun sirih bisa kejadian.
bagaimana tidak bukankah semuanya itu cukup beralasan...dan rupanya dari delapan orang yg mengirim ulasan mereka sependapat dng gw soal rekayasa genetika ini.
dan novel Lanang bisa dng gamblang menceritakan kejadian semuanya aitu bakal dimasa yg akan datang tidak lagi menjadi cerita fiksi namun cerita sesungguhnya.
dan pulang jam 11 sampe kantor lagi......membawa kenangan indah buat perjalannan membantu pemasaran Lanang.
Sebuah karya sastra akan menjadi bernilai bila dia diapresiasi oleh orang-orang yang bukan sastra dan membelinya sebagai tambahan pengetahuan.
hidup LANANG...MERDEKA...salam bahagia buat Cak DUR...YONATHAN..
13.45 wib...waktu kantor..
Monday, June 2, 2008
LANANG, apresiasi penerawanganku
RINDU DENDAM CINTA TRANSGENIK
Oleh : ilenk rembulan
Judul Buku : LANANG
Penulis : YONATHAN RAHARDJO
Editor : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : PUSTAKA ALVABET
Harga : Rp. 55.000,-
Tebal : 440 halaman
“Kita menggunakan bakteri dan jamur transgenik untuk memproduksi obat, enzim, vitamin dan materi-materi lain yang penting dan mampu menggantikan fungsi bakteri-bakteri atau jamur alami yang berperan dalam pembuatan pakan ternak.
“Orang berusaha meningkatkan produksi bahan-bahan penghasil protein hewani dengan teknologi. Namun jangan lupa, teknologi juga bisa menimbulkan masalah. Demikian juga teknologi rekayasa genetika yang memunculkan makhluk yang sudah dimodifikasikan sifat-sifat keturunan bibitnya”
Di jaman yang sudah semakin maju ini, pemikiran manusia berkembang dengan pesat untuk mencukupi kebutuhan hidup bagi jutaan bahkan milyar manusia di bumi untuk kebutuhan pangannya. Agar kebutuhan akan gizi dan semua zat pembangun bagi pertumbuhan raga dan jiwa manusia tercukupi, maka segala macam percobaan genetika dilakukan demi terpenuhi kesemuanya.
Kadang tak jarang para ahli di negara maju menggunakan rekayasa genetika dengan menyilangkan berbagai macam gen makhluk hidup demi terpenuhi kebutuhan meningkatkan produksi dari ternak maupun hasil pertanian. Hasil dari rekayasa ini biasanya disebut produksi transgenik.
Bagi sebagian negara maju ada yang melarang penggunaan hasil ini, namun banyak juga sebagian besar negara telah menggunakan hasil rekayasa tersebut baik langsung maupun tidak langsung.
Terbukti dengan munculnya penyakit sapi gila, kemudian flu burung dan lain-lain penyakit yang mulai timbul dari hasil negatif penggunaan penemuan tersebut.
Bagaimana tidak gila sapi-sapi tersebut, ternyata menurut penelitian di dalam pakan ternak dicampuri tepung dari tulang sapi itu sendiri. Tanpa sadar sapi-sapi itu yang tadinya termasuk hewan herbivora berubah menjadi secara tidak langsung karnivora. Hewan makan dari tulang temannya sendiri, yang tentunya hal ini sudah menyimpang dari pola lingkaran makan hewan herbivora tersebut.
Di samping itu munculnya trend pola makan sebagian manusia di negara maju yang serba fastfood dan kemudian menjalar ke negara berkembang, telah menimbulkan berbagai macam penyakit seperti kanker, diabetes yang semakin meningkat juga penyakit lainnya di mana pada masa dahulu tidak ada atau muncul, pada jaman sekarang mulai muncul dan menyebar.
Apa jadinya bila gen penentu sifat makhluk hidup semisal kambing yang digabungkan dengan singa maka akan menghasilkan hewan singa berkepala kambing atau sebaliknya kambing berbadan singa. Hal ini bisa terjadi dari hasil transgenik yang dikembangkan oleh kepandaian manusia yang pada akhirnya menjadi keblinger ataukah sah-sah saja? Apakah tidak melawan kodrati Ilahi dengan memporak-porandakan hasil ciptaanNYA?
Novel Lanang pemenang harapan II Sayembara Novel DKJ tahun 2006 ini, menceritakan salah satunya adalah penelitian dan pembuatan pakan ternak yang dihasilkan dengan rekayasa genetika atau yang disebut transgenik. Tema yang menarik yang digarap pengarangnya yang seorang dokter hewan, dengan beragam istilah ilmiah pada bidangnya ini, menambah wawasan tentang apa sebenarnya hasil penemuan transgenik itu sebenarnya, yang sekarang sebagian telah menjadikan buah bibir masyarakat tidak saja peternak maupun petani namun juga orang awam.
SINOPSIS
Dimulai pada suatu malam, seorang dokter hewan bernama Lanang menolong persalinan induk sapi perah yang melahirkan di lembah pegunungan jauh dari keramaian kota, tempat bermukim puluhan peternak sapi perah.
Lahirnya anak sapi yang ternyata jantan tersebut disambut gembira peternak bernama Sukarya dengan harapan anak sapi tersebut menjadi besar dan bisa meneruskan membantu menopang kehidupan Sukarya sekeluarga.
Namun sayangnya kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, karena kemudian anak sapi perah yang baru lahir tersebut kemudian terserang penyakit yang misterius dengan perut berbintik-bintik merah di depannya, giginya kotor, lidah biru, gusi busuk berbuih putih keruh, perutnya membesar dengan cepat kemudian pecah dengan isi yang terburai dengan dinding-dinding organ dalam terbelah kemudin muncul bisul merah, biru, hijau, hitam keruh.
Dokter hewan Lanang yang berkerja di koperasi susu di daerah pegunungan tersebut tempat para peternak menggantungkan kepercayaan bila sapi-sapi perahnya bermasalah menjadi kalut, bingung, geram dan hampir putus asa tidak dapat menjawab gerangan penyakit apa yang kemudian secara luas menyerang sapi-sapi perah milih peternak sapi perah. Anehnya hanya sapi perah yang diserang tidak dengan sapi potong, walaupun sama-sama jenisnya sapi tetapi antara sapi perah dan sapi potong berbeda variannya.
Bersamaan dengan kematian anak sapi pada waktu kelahirannya tersebut, pada malam setelah Lanang membantu persalinan, dia dikejutkan dengan datangnya makhluk aneh yang mirip burung tetapi bentuk tubuhnya seperti babi hutan yang masuk menyeruduk ke dalam rumahnya. Istri yang baru dinikahinya sempat shock dan menjerit ketakutan, setelah diusir sepertinya mahluk terebut cepat hilang dan tak berbekas.
Antara percaya dan tidak Dokter Lanang mencari tahu tentang penyakit tersebut dan apa hubungannya dengan kemunculan hewan yang dirasakan aneh. Antara ilusi dan kenyataan sepertinya tidak bisa terlepas di alam pikiran Lanang.
Penelusurannya tentang penyakit yang telah membuat heboh pemerintah dan para ahli dibuat pusing tentang penyebabnya, munculah seorang dukun hewan yang bernama Rajikun yang mengatakan bahwa penyakir tersebut disebabkan oleh burung babi hutan. Pada awalnya Lanang masih tidak berani untuk bercerita bahwa dia dengan mata kepala sendiri telah bertemu dengan makhluk tersebut yang dikiranya mahkluk jadi-jadian, namun dengan penjelasan dari Dukun Rajikun maka makin kuatnya tuduhan bahwa penyakit yang menyerah seluruh sapi perah sehingga mati tersebut adalah burung babi hutan yang menjadi hewan perantara penyebaran kuman.
Para ahli yang ditugasi untuk meneliti penyebab dari penyakit tersebut merasa terkalahkan hanya oleh seorang dukun hewan yang memaparkan penyebab kematian yang sebagian menyisakan tanda-tanya, seperti apakah bentuk burung babi hutan tersebut. Mereka mentertawakan cerita dukun tersebut karena cerita yang berbau klenik tidak dilandasi ilmiah sama sekali, namun tidak dengan Dokter Lanang yang pernah bertemu dengan makhluk. Apa yang dipaparkan oleh Rajikun tersebut membuat pencarian Lanang tidak terus berhenti, bahkan dia ingin menghabisi binatang tersebut apabila bertemu lagi, senapan dan pisau belati telah menjadi kawan akrabnya selama perjalanan pencarian tersebut.
Dalam pencarian binatang tersebut dia mendapatkan telepon dari seorang dokter hewan juga bernama Doktor Dewi seorang ahli bioteknologi lulusan universitas luar negeri yang ternyata adalah bekas pacarnya dahulu semasa kuliah. Doktor Dewi ini bekerja pada sebuah Lembaga Penelitian milik asing yang memperoduksi hasil penemuan untuk meningkatkan produksi ternak dalam pakan ternak melalui pemakaian produksi transgenik.
Lanang tidak mengetahui apa yang telah dibuat oleh Dewi mantan pacarnya itu yang ternyata masih menyimpan cinta yang membara terhadap Lanang, begitu juga dengan Lanang walau sudah beristrikan Putri, ternyata cinta lama kembali bersemi ketika bertemu dengan Dewi.
Di lain pihak Rajikun ternyata bersengkokol dengan Doktor Dewi dan mempengaruhi Sukirno kepala koperasi tempat Dokter Lanang bernaung untuk kerjasama dalam penjualan pakan ternak yang dihasilkan oleh lembaga milik Dewi.
Dokter Lanang pada akhirnya dapat membunuh burung babi hutan tersebut, dan sampel darah dari binatang tersebut telah dikirim pada Pusat Penelitian di ibukota untuk bahan penelitian lebih lanjut. Kebehasilan Dokter Lanang membasmi binatang perantara penyebab kematian sapi-sapi perah tersebut telah melambungkan namanya menjadi orang terkenal. Namun di dalam alam pikirannya hewan aneh tersebut selalu membayangi baik di antara istirahat sejenak ataupun datang dalam mimpi-mimpi tidur malamnya.
Di lain pihak keberhasilan Dokter Lanang membasmi hewan tersebut harus ditebus dengan kehilangan istrinya yang ternyata berselingkuh dengan dukun Rajikun yang sebelumnya dukun tersebut telah menuduh Lanang menjadi pencipta binatang tersebut pada suatu seminar yang dihadiri para pakar dokter hewan, juga pengkhianatan pimpinan Koperasi Sukirno, yang kemudian ternyata mereka itu bagian dari konspirasi Doktor Dewi.
Doktor Dewi dengan lembaganya tersebut berhasil menguasai produk pakan ternak secara monopoli dengan adanya penunjukan dari pemerintah. Dia berhasil menguasai pimpinan tertinggi di Kementrian Kehewanan dan laboratorium miliknya semakin berkembang dan dengan leluasa dengan kepandaiannya dia menghasilkan makhluk-makhluk aneh hasil rekayasa transgenic tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.
Lanang dengan kesendirian tersebut masih menyimpan pikiran positif terhadap Dewi dan cintanya yang telah tumbuh kembali terus mencarinya, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Dewi namun tidak di ruang waktu seperti biasanya, tetapi Lanang telah dijadikan obyek rekayasa genetika berikutnya oleh kegilaan dan kebengisan Doktor Dewi.
KARYA YANG MENGANDUNG UNSUR ILMIAH
“Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bovine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluh persen serta memperpanjang masa menyusui”
“Harap segera kirim Porcine Somatoropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi babi sebesar dua puluh persen dan mengurangi kadar lemak, dan kadar protein bisa meningkat”
“Selain bermanfaat, produk transgenik untuk meningkatkan produksi susu dan daging merangsang terjadinya penyakit. Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi memang dapat merangsang sel penghasil susu, sehingga meningkatkan produksi. Namun penyakit mastitis atau radang kelenjar susu meningkat sangat tinggi. Imbasnya, pemakaian antibiotika sebagai obat penyakit ini menjadi meningkat, residu antibiotika juga sangat tinggi. Residu di atas ambang batas menyebabkan bakeri kebal terhadap antibiotika.”
“Pemakaian hormon tersebut juga akan meningkatkan dalam air susu yang diproduksi kadar faktor pertumbuhan insulin, hormone yang dihasilkan kelenjar ludah perut dan berguna mengatur pembentukan serta penguraian karbohidrat atau zat gula. Pada manusia maupun hewan, faktor pertumbuhan itu identik. Sehingga bayi yang minum susu dari sapi yang disuntik hormon itu punya risiko menderita penyakit gula darah alias diabetes. Di samping itu produk sapi perah yang diterapi hormon pertumbuhan sapi yang mengandung insulin-like growth dapat meningkatkan risiko kanker payudara, kanker prostat dan kanker usus besar.
Penggalan dialog di atas ini terdapat dalam novel tersebut, bagaimana penemuan ilmiah telah membuat pikiran kita menjadi tahu, bahwa hasil rekayasa genetika ternyata sangat berbahaya. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi akan memberikan risiko tinggi mempercepat masa berkembangnya penyakit sapi gila yang disebabkan oleh prion yaitu protein yang terdapat dalam inti sel setiap makhluk hidup, yang menyimpang dari keadaan normal, tidak punya asam nukleat, serta berkembang biak tanpa menyusun kehidupan dasar makhluk hidup berupa DNA dan RNA. Prion ini akan membahayakan kesehatan manusia yang memakan daging sapi, karena sapi yang disuntik hormon ini, akan meningkatkan kadar prion.
Kemudian dijelaskan juga pada novel tersebut adanya penggunaan transgenik susu sapi yang dihasilkan dengan penyuntikan hormon itu kepada kambing, pada sapi akan meningkatkan serangan penyakit Caparine Althritis Encephalitis karena virus retro yang biasa menyerang kambing. Jenis virus ini indentik dengan virus HIV1 dan HIV2 atau Human Immunodeficiency virus, yang menyebabkan penyakit hancurnya ketahanan tubuh bermanifestasi berbagai penyakit pada manusia, yang juga termasuk golongan retrovirus.
Di sini diceritakan bahwa perusahaan pakan ternak mempergunakan produk transgenik untuk menghasilkan pakan ternak yang mudah dicerna dan harganyapun relatif lebih murah. Bahwa sebenarnya perusahaan tersebut juga sudah tahu dampak negatif penggunaan hasil transgenik tersebut pada pakan ternak bila dibandingkan dengan penggunaan transgenik dalam pengobatan bidang kedokteran hewan. Karena pakan ternak diberikan pada hewan tidak mempunyai nilai ambang batas penggunaan.
Dijelaskan juga bahwa kebiasaan hewan yang merumput secara alamiah berpeluang memakan produk tanaman transgenik juga, mengingat kebiasaan peternak suka memberikan makan ternaknya dari sisa hasil pertanian.
Menyelusuri bait-bait kata pada susunan kalimat dalam novel tersebut yang walaupun hanya sebuah novel fiksi namun tentunya pengarang tidak gegabah memasukan istilah ilmiah yang sudah familiar terdengar pada khalayak ramai bahwa produk transgenik semakin berkembang dan sudah tersebar di bumi ini. Di negara maju banyak telah dihasilkan produk tersebut, yang pada akhirnya malah sekarang sudah mulai menimbulkan keresahan dengan mulai banyaknya masyarakat yang sudah melek pengetahuan bahwa dampak negatif bagi kesehatan lebih banyak daripada positifnya, namun pemberitahuan itu tenggelam dengan iklan besar-besaran produk pertanian maupun peternakan yang sudah mengglobal.
Apabila di negara maju di mana masyarakatnya sudah melek pengetahuan, maka produsen ternak ataupun pertanian tidak langsung berkecil hati, mereka dapat juga melempar hasil produksinya pada negara berkembang, apakah kemungkinan Indonesia telah menjadi pasar bagi produk rekayasa transgenik tersebut? Tidak muskil hal ini bisa terjadi, lihat saja membanjirnya produk pertanian maupun daging impor, ayam impor yang relatif terjangkau harganya itu merupakan hasil rekayasa transgenik?
Dampak negatif yang berkepanjang dari penggunaannya, sudah terbayang di depan mata. Apakah tak ada ruang lagi untuk menikmati benar produk yang terbebas dari hasil rekayasa demi kesehatan? Ataukah kita-kita ini sudah terbelenggu dengan perangkap hormon yang menguasai tubuh dengan serapan yang semakin melilit karena pola makan kita yang sudah teracuni hormon itu semakin jauh, sehingga kita sendiripun sudah tercemari sifat-sifat trasgenik, sehingga menjadi acuh tak acuh?
Dengan membaca novel ini, jadi selama ini apakah kita semua telah memakan hasil sebuah rekayasa transgenik? Bagaimana kita akan tahu? Apakah menunggu penyakit dari dampak produk tersebut muncul? Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mengetahuinya. Novel ini membuat penyadaran pembaca untuk mulai berhati-hati terhadap makanan yang akan dikonsumsi.
MORAL, RELIGI DAN KLENIK
Sisi lain dari novel ini adalah bagaimana kita diperlihatkan pada moral sang pelaku dalam keseharian. Di satu sisi Dokter Lanang sebagai seorang lelaki dengan leluasa mengumbar nafsu sexnya begitu gampang diumbar, dia begitu gampangnya meniduri seorang pelacur yang dia sayangi tapi di satu sisi dia sudah beristri. Di lain pihak, dia pun menjadi begitu religius digambarkan ketika belum dapat memecahkan teka-teki penyebab penyakit yang menyerang sapi-sapi perah tersebut. Dengan meninggalkan istrinya tanpa perasaan ketakutan terjadi apa-apa, dia mencari jawaban dengan berdoa di tempat ibadah dilakukan sendiri. Di sini pengarang seperti membiarkan tokoh Lanang ini berjalan sendiri tanpa diceritakan mengapa itu bisa terjadi. Apakah tidak bisa menjalani beribadah dengan mengajak istrinya? Tentunya akan lebih bijak bila dalam pencarian penyebab itu, dia lebih membagi untuk istrinya dan bersama-sama pergi, daripada membiarkan istrinya di rumah sendiri yang pada akhirnya didatangi binatang tersebut yang kemudian menjelma sebagai dukun Rajikun.
Sepertinya sifat keliaran Dokter Hewan Lanang ini identik dengan hewan yang begitu gampang berganti-ganti pasangan tanpa adanya rasa bersalah.
Beberapa adegan persetubuhan walau digambarkan dengan halus namun terjadi beberapa kali dengan tidak hanya dengan istrinya tapi dengan mantan pacarnya Dokter Hewan Dewi. Perasaan bersalah telah berselingkuh tidak digambarkan kuat, hanya datang sesaat, seperti sesuatu pekerjaan yang biasa saja.
Untuk hal ini novel ini hanya patut dibaca oleh orang dewasa, karena penggambaran tokoh-tokohnya lebih banyak bersifat amoral menurut pandangan umum masyarakat kita yang masih religius. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya bahwa keadaan demikian di jaman sekarang kelihatannya sudah mulai lazim. Di satu sisi orang berteriak soal kekeringan adanya dahaga degadrasi moral dalam kehidupan masyarakat, tapi di sisi lainnya kehidupan bebas terpampang jelas di depan mata. Terjadinya kasus-kasus yang menimpa tokoh agama yang seharusnya menjadikan panutan tetapi berbelok melakukan hal-hal yang tak senonoh tergambar dalam tokoh yang bernama Rajikun. Dia ini sebenarnya dulunya bekas imam tempat ibadah Dokter Lanang ketika muda, karena melakukan perbuatan aib dengan salah satu jemaatnya yang seharusnya dia lindungi, tetapi malah “dimakannya” telah tercampakkan keluar dari tampat ibadah di mana dia bernaung. Sampai kemudian tibalah dia bertemu kembali dengan Lanang sebagai dukun hewan dan berkolaborasi dengan Dewi menciptakan hasil rekayasa transgenik.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak tokoh-tokohpun mempunyai muka dua, di satu sisi meneriakkan slogan moral dan mencontohkan kehidupan yang religi namun disisi lain dia juga melakukan perbuatan melanggar norma-norma dan apabila ketahuan merasa tidak bersalah malah menjadikan dirinya orang teraniaya, seperti memberikan pembenaran dia hanya khilaf atau menjadi umpan dari sebuah konspirasi pihak lain (mencari kambing hitam untuk menutupi aib yang telah diperbuatnya).
Yang menarik dalam novel ini adalah tidak menyebutkan gereja atau masjid tetapi dengan pengungkapan kata tempat ibadah. Pengarang bermain metafora dalam penyajian ungkapan benda sehingga menimbulkan hal hal baru dalam menikmati suasana baca, kaya istilah seperti diungkapkan Medy Loekito seorang penyair yang menulis di pembuka novel ini, bahwa membaca Lanang serasa membaca puisi panjang.
Kemudian juga dibahas munculnya tokoh dukun hewan. Tokoh ini dimunculkan berimbang dengan munculnya para ahli yang mewakili dunia ilmiah. Namun dalam perjalanannya dunia ilmiah dikalahkan dengan tokoh dari dunia klenik, dunia dukun.
Pengarang sepertinya menyindir juga, bahwa keseharian kehidupan di masyarakat banyak yang sudah makan bangku sekolahan sampai tinggi di mana pikiran rasionalnya lebih bicara, kadang dalam urusan rejeki, jodoh bahkan sampai kenaikan pangkat, jabatan masih lari pada dukun, pada urusan dunia klenik, yang sebenarnya bertolak belakang dengan akal sehat manusia.
CINTA DAN DENDAM
Intrik yang dibangun pada cerita yang membuat menjadi pemenang harapan kedua Sayembara Novel DKJ 2006 ini juga kekuatan dalam penyajikan tentang cinta dan dendam.
Orang bilang antara cinta dan dendam terpisah oleh dinding yang sangat tipis bahkan mungkin bisa menyatu dalam dua kata itu sendiri.
Lanang yang pada awalnya menjalin percintaan dengan Dewi yang berlainan keyakinan tetapi dalam perjalanannya akhirnya memilih menikah dengan Putri yang sama-sama satu agama.
Namun cinta pada Dewi tidak serta merta menjadi padam, tetap ada dan semakin membara kala waktu mempertemukan mereka kembali, bahkan Lanang bisa begitu mudah melupakan Putri istri sahnya yang telah dipilihnya untuk mendampingi hidupnya.
Begitu juga dengan Dewi, rupanya menyimpan rasa cinta terhadap Lanang yang tidak begitu saja gampang ditundukkan dan merasa dikhianati dengan menikahi teman sekelasnya waktu kuliah. Walau pada akhirnya mereka berdua membuat konspirasi untuk menundukkan Lanang yang pada akhirnya tetap tidak dapat ditundukkan.
Yang aneh adalah bagaimana Putri bisa begitu gampang mencintai Lanang tetapi kemudian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan dukun Rajikun, yang pada akhirnya juga disesalinya. Dan mereka berdua bisa bersama-sama membagi perasaan cinta pada Lanang tanpa cemburu di satu pihak dan malah rasa cinta yang dimiliki mereka berdua itu menimbulkan kebencian terutama Dewi dengan ingin melenyapkan sifat Lanang sebagai manusia diganti dengan rekayasa genetika hewan babi dan burung yang dipersiapkan dalam operasi dan kemudian berhasil menjadikan Lanang menjadi makhluk baru hasil ciptaan rasa cinta Dewi yang telah berkembang menjadi dendam yang membara.
EGO MANUSIA, SIFAT MASKULIN & FEMININ
Kelemahan pada diri Lanang yang digambarkan sangat macho dengan dada bidang, cerdas, tinggi besar, tidak dapat dipungkiri. Bahwa dia telah dikalahkan oleh ego pribadinya sendiri, banyaknya keinginan yang tidak terwujud dalam kehidupannya, cintanya yang hilang dengan dua wanita yang sudah didapatkannya tetapi kemudian dua-duanya pergi meninggalkannya, dan pada akhirnya bersama-sama menguasainya tanpa dia bisa berkutik melawannya.
Sifat feminin dalam diri seorang Lanang yang fisiknya lelaki lebih menonjol berseberangan dengan sifat Dewi yang ternyata lebih maskulin dibandingkan fisiknya yang perempuan sejati, demikian juga dengan Putri yang berpenampilan lebih lembut daripada Dewi, ternyata juga menyimpan sifat maskulin yang dominan dengan begitu mudah mau diajak oleh Dewi menundukkan Lanang dengan operasi rekayasanya.
Pembunuhan sebagian dari gen penentu kehidupan mahluk hidup tersebut dengan ringan dan bengis telah dilakukan dua orang perempuan dengan ego dan maskulinnya terhadap diri kekasih yang dicintainya sekaligus dibencinya.
CATATAN AKHIR
Novel ini di awalnya ditulis dengan penggambaran cukup rumit, namun kemudian mengalir cair semakin dalam, dengan penjelasan satu persatu runtutan kejadian, ditambah dengan imajinasi pengarang mengingatkan penulis pada novel Abdulah Harahap yang suka menulis tema mistik dengan hewan jadi-jadian, tetapi yang membedakan bahwa Yonathan Rahardjo berhasil menceritakan bahwa itu bukan hewan jadi-jadian tetapi adalah benar hasil rekayasa genetika dengan tidak lupa menyisipkan istilah ilmiah menjadikan tema yang diambil dapat menarik dan menjadikan satu pilihan dari banyak pilihan tema novel pada umumnya, dibumbui dengan kisah cinta dan intrik serta kepentingan di dalamnya dan dibiarkan menggantung pada akhir cerita, membuat novel ini bisa menjadikan pilihan menarik pembaca untuk menikmatinya.
Dengan cover menarik, dan font yang tidak melelahkan mata, ditambah garis cetakan di atas dan bawah setiap halaman, menjadikan nilai tambah novel ini, walaupun penyajian beberapa catatan dari juri dan kolega pengarang cukup menyita halaman dan sempat mengganggu pemandangan.
selesai
Oleh : ilenk rembulan
Judul Buku : LANANG
Penulis : YONATHAN RAHARDJO
Editor : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : PUSTAKA ALVABET
Harga : Rp. 55.000,-
Tebal : 440 halaman
“Kita menggunakan bakteri dan jamur transgenik untuk memproduksi obat, enzim, vitamin dan materi-materi lain yang penting dan mampu menggantikan fungsi bakteri-bakteri atau jamur alami yang berperan dalam pembuatan pakan ternak.
“Orang berusaha meningkatkan produksi bahan-bahan penghasil protein hewani dengan teknologi. Namun jangan lupa, teknologi juga bisa menimbulkan masalah. Demikian juga teknologi rekayasa genetika yang memunculkan makhluk yang sudah dimodifikasikan sifat-sifat keturunan bibitnya”
Di jaman yang sudah semakin maju ini, pemikiran manusia berkembang dengan pesat untuk mencukupi kebutuhan hidup bagi jutaan bahkan milyar manusia di bumi untuk kebutuhan pangannya. Agar kebutuhan akan gizi dan semua zat pembangun bagi pertumbuhan raga dan jiwa manusia tercukupi, maka segala macam percobaan genetika dilakukan demi terpenuhi kesemuanya.
Kadang tak jarang para ahli di negara maju menggunakan rekayasa genetika dengan menyilangkan berbagai macam gen makhluk hidup demi terpenuhi kebutuhan meningkatkan produksi dari ternak maupun hasil pertanian. Hasil dari rekayasa ini biasanya disebut produksi transgenik.
Bagi sebagian negara maju ada yang melarang penggunaan hasil ini, namun banyak juga sebagian besar negara telah menggunakan hasil rekayasa tersebut baik langsung maupun tidak langsung.
Terbukti dengan munculnya penyakit sapi gila, kemudian flu burung dan lain-lain penyakit yang mulai timbul dari hasil negatif penggunaan penemuan tersebut.
Bagaimana tidak gila sapi-sapi tersebut, ternyata menurut penelitian di dalam pakan ternak dicampuri tepung dari tulang sapi itu sendiri. Tanpa sadar sapi-sapi itu yang tadinya termasuk hewan herbivora berubah menjadi secara tidak langsung karnivora. Hewan makan dari tulang temannya sendiri, yang tentunya hal ini sudah menyimpang dari pola lingkaran makan hewan herbivora tersebut.
Di samping itu munculnya trend pola makan sebagian manusia di negara maju yang serba fastfood dan kemudian menjalar ke negara berkembang, telah menimbulkan berbagai macam penyakit seperti kanker, diabetes yang semakin meningkat juga penyakit lainnya di mana pada masa dahulu tidak ada atau muncul, pada jaman sekarang mulai muncul dan menyebar.
Apa jadinya bila gen penentu sifat makhluk hidup semisal kambing yang digabungkan dengan singa maka akan menghasilkan hewan singa berkepala kambing atau sebaliknya kambing berbadan singa. Hal ini bisa terjadi dari hasil transgenik yang dikembangkan oleh kepandaian manusia yang pada akhirnya menjadi keblinger ataukah sah-sah saja? Apakah tidak melawan kodrati Ilahi dengan memporak-porandakan hasil ciptaanNYA?
Novel Lanang pemenang harapan II Sayembara Novel DKJ tahun 2006 ini, menceritakan salah satunya adalah penelitian dan pembuatan pakan ternak yang dihasilkan dengan rekayasa genetika atau yang disebut transgenik. Tema yang menarik yang digarap pengarangnya yang seorang dokter hewan, dengan beragam istilah ilmiah pada bidangnya ini, menambah wawasan tentang apa sebenarnya hasil penemuan transgenik itu sebenarnya, yang sekarang sebagian telah menjadikan buah bibir masyarakat tidak saja peternak maupun petani namun juga orang awam.
SINOPSIS
Dimulai pada suatu malam, seorang dokter hewan bernama Lanang menolong persalinan induk sapi perah yang melahirkan di lembah pegunungan jauh dari keramaian kota, tempat bermukim puluhan peternak sapi perah.
Lahirnya anak sapi yang ternyata jantan tersebut disambut gembira peternak bernama Sukarya dengan harapan anak sapi tersebut menjadi besar dan bisa meneruskan membantu menopang kehidupan Sukarya sekeluarga.
Namun sayangnya kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, karena kemudian anak sapi perah yang baru lahir tersebut kemudian terserang penyakit yang misterius dengan perut berbintik-bintik merah di depannya, giginya kotor, lidah biru, gusi busuk berbuih putih keruh, perutnya membesar dengan cepat kemudian pecah dengan isi yang terburai dengan dinding-dinding organ dalam terbelah kemudin muncul bisul merah, biru, hijau, hitam keruh.
Dokter hewan Lanang yang berkerja di koperasi susu di daerah pegunungan tersebut tempat para peternak menggantungkan kepercayaan bila sapi-sapi perahnya bermasalah menjadi kalut, bingung, geram dan hampir putus asa tidak dapat menjawab gerangan penyakit apa yang kemudian secara luas menyerang sapi-sapi perah milih peternak sapi perah. Anehnya hanya sapi perah yang diserang tidak dengan sapi potong, walaupun sama-sama jenisnya sapi tetapi antara sapi perah dan sapi potong berbeda variannya.
Bersamaan dengan kematian anak sapi pada waktu kelahirannya tersebut, pada malam setelah Lanang membantu persalinan, dia dikejutkan dengan datangnya makhluk aneh yang mirip burung tetapi bentuk tubuhnya seperti babi hutan yang masuk menyeruduk ke dalam rumahnya. Istri yang baru dinikahinya sempat shock dan menjerit ketakutan, setelah diusir sepertinya mahluk terebut cepat hilang dan tak berbekas.
Antara percaya dan tidak Dokter Lanang mencari tahu tentang penyakit tersebut dan apa hubungannya dengan kemunculan hewan yang dirasakan aneh. Antara ilusi dan kenyataan sepertinya tidak bisa terlepas di alam pikiran Lanang.
Penelusurannya tentang penyakit yang telah membuat heboh pemerintah dan para ahli dibuat pusing tentang penyebabnya, munculah seorang dukun hewan yang bernama Rajikun yang mengatakan bahwa penyakir tersebut disebabkan oleh burung babi hutan. Pada awalnya Lanang masih tidak berani untuk bercerita bahwa dia dengan mata kepala sendiri telah bertemu dengan makhluk tersebut yang dikiranya mahkluk jadi-jadian, namun dengan penjelasan dari Dukun Rajikun maka makin kuatnya tuduhan bahwa penyakit yang menyerah seluruh sapi perah sehingga mati tersebut adalah burung babi hutan yang menjadi hewan perantara penyebaran kuman.
Para ahli yang ditugasi untuk meneliti penyebab dari penyakit tersebut merasa terkalahkan hanya oleh seorang dukun hewan yang memaparkan penyebab kematian yang sebagian menyisakan tanda-tanya, seperti apakah bentuk burung babi hutan tersebut. Mereka mentertawakan cerita dukun tersebut karena cerita yang berbau klenik tidak dilandasi ilmiah sama sekali, namun tidak dengan Dokter Lanang yang pernah bertemu dengan makhluk. Apa yang dipaparkan oleh Rajikun tersebut membuat pencarian Lanang tidak terus berhenti, bahkan dia ingin menghabisi binatang tersebut apabila bertemu lagi, senapan dan pisau belati telah menjadi kawan akrabnya selama perjalanan pencarian tersebut.
Dalam pencarian binatang tersebut dia mendapatkan telepon dari seorang dokter hewan juga bernama Doktor Dewi seorang ahli bioteknologi lulusan universitas luar negeri yang ternyata adalah bekas pacarnya dahulu semasa kuliah. Doktor Dewi ini bekerja pada sebuah Lembaga Penelitian milik asing yang memperoduksi hasil penemuan untuk meningkatkan produksi ternak dalam pakan ternak melalui pemakaian produksi transgenik.
Lanang tidak mengetahui apa yang telah dibuat oleh Dewi mantan pacarnya itu yang ternyata masih menyimpan cinta yang membara terhadap Lanang, begitu juga dengan Lanang walau sudah beristrikan Putri, ternyata cinta lama kembali bersemi ketika bertemu dengan Dewi.
Di lain pihak Rajikun ternyata bersengkokol dengan Doktor Dewi dan mempengaruhi Sukirno kepala koperasi tempat Dokter Lanang bernaung untuk kerjasama dalam penjualan pakan ternak yang dihasilkan oleh lembaga milik Dewi.
Dokter Lanang pada akhirnya dapat membunuh burung babi hutan tersebut, dan sampel darah dari binatang tersebut telah dikirim pada Pusat Penelitian di ibukota untuk bahan penelitian lebih lanjut. Kebehasilan Dokter Lanang membasmi binatang perantara penyebab kematian sapi-sapi perah tersebut telah melambungkan namanya menjadi orang terkenal. Namun di dalam alam pikirannya hewan aneh tersebut selalu membayangi baik di antara istirahat sejenak ataupun datang dalam mimpi-mimpi tidur malamnya.
Di lain pihak keberhasilan Dokter Lanang membasmi hewan tersebut harus ditebus dengan kehilangan istrinya yang ternyata berselingkuh dengan dukun Rajikun yang sebelumnya dukun tersebut telah menuduh Lanang menjadi pencipta binatang tersebut pada suatu seminar yang dihadiri para pakar dokter hewan, juga pengkhianatan pimpinan Koperasi Sukirno, yang kemudian ternyata mereka itu bagian dari konspirasi Doktor Dewi.
Doktor Dewi dengan lembaganya tersebut berhasil menguasai produk pakan ternak secara monopoli dengan adanya penunjukan dari pemerintah. Dia berhasil menguasai pimpinan tertinggi di Kementrian Kehewanan dan laboratorium miliknya semakin berkembang dan dengan leluasa dengan kepandaiannya dia menghasilkan makhluk-makhluk aneh hasil rekayasa transgenic tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.
Lanang dengan kesendirian tersebut masih menyimpan pikiran positif terhadap Dewi dan cintanya yang telah tumbuh kembali terus mencarinya, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Dewi namun tidak di ruang waktu seperti biasanya, tetapi Lanang telah dijadikan obyek rekayasa genetika berikutnya oleh kegilaan dan kebengisan Doktor Dewi.
KARYA YANG MENGANDUNG UNSUR ILMIAH
“Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bovine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluh persen serta memperpanjang masa menyusui”
“Harap segera kirim Porcine Somatoropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi babi sebesar dua puluh persen dan mengurangi kadar lemak, dan kadar protein bisa meningkat”
“Selain bermanfaat, produk transgenik untuk meningkatkan produksi susu dan daging merangsang terjadinya penyakit. Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi memang dapat merangsang sel penghasil susu, sehingga meningkatkan produksi. Namun penyakit mastitis atau radang kelenjar susu meningkat sangat tinggi. Imbasnya, pemakaian antibiotika sebagai obat penyakit ini menjadi meningkat, residu antibiotika juga sangat tinggi. Residu di atas ambang batas menyebabkan bakeri kebal terhadap antibiotika.”
“Pemakaian hormon tersebut juga akan meningkatkan dalam air susu yang diproduksi kadar faktor pertumbuhan insulin, hormone yang dihasilkan kelenjar ludah perut dan berguna mengatur pembentukan serta penguraian karbohidrat atau zat gula. Pada manusia maupun hewan, faktor pertumbuhan itu identik. Sehingga bayi yang minum susu dari sapi yang disuntik hormon itu punya risiko menderita penyakit gula darah alias diabetes. Di samping itu produk sapi perah yang diterapi hormon pertumbuhan sapi yang mengandung insulin-like growth dapat meningkatkan risiko kanker payudara, kanker prostat dan kanker usus besar.
Penggalan dialog di atas ini terdapat dalam novel tersebut, bagaimana penemuan ilmiah telah membuat pikiran kita menjadi tahu, bahwa hasil rekayasa genetika ternyata sangat berbahaya. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi akan memberikan risiko tinggi mempercepat masa berkembangnya penyakit sapi gila yang disebabkan oleh prion yaitu protein yang terdapat dalam inti sel setiap makhluk hidup, yang menyimpang dari keadaan normal, tidak punya asam nukleat, serta berkembang biak tanpa menyusun kehidupan dasar makhluk hidup berupa DNA dan RNA. Prion ini akan membahayakan kesehatan manusia yang memakan daging sapi, karena sapi yang disuntik hormon ini, akan meningkatkan kadar prion.
Kemudian dijelaskan juga pada novel tersebut adanya penggunaan transgenik susu sapi yang dihasilkan dengan penyuntikan hormon itu kepada kambing, pada sapi akan meningkatkan serangan penyakit Caparine Althritis Encephalitis karena virus retro yang biasa menyerang kambing. Jenis virus ini indentik dengan virus HIV1 dan HIV2 atau Human Immunodeficiency virus, yang menyebabkan penyakit hancurnya ketahanan tubuh bermanifestasi berbagai penyakit pada manusia, yang juga termasuk golongan retrovirus.
Di sini diceritakan bahwa perusahaan pakan ternak mempergunakan produk transgenik untuk menghasilkan pakan ternak yang mudah dicerna dan harganyapun relatif lebih murah. Bahwa sebenarnya perusahaan tersebut juga sudah tahu dampak negatif penggunaan hasil transgenik tersebut pada pakan ternak bila dibandingkan dengan penggunaan transgenik dalam pengobatan bidang kedokteran hewan. Karena pakan ternak diberikan pada hewan tidak mempunyai nilai ambang batas penggunaan.
Dijelaskan juga bahwa kebiasaan hewan yang merumput secara alamiah berpeluang memakan produk tanaman transgenik juga, mengingat kebiasaan peternak suka memberikan makan ternaknya dari sisa hasil pertanian.
Menyelusuri bait-bait kata pada susunan kalimat dalam novel tersebut yang walaupun hanya sebuah novel fiksi namun tentunya pengarang tidak gegabah memasukan istilah ilmiah yang sudah familiar terdengar pada khalayak ramai bahwa produk transgenik semakin berkembang dan sudah tersebar di bumi ini. Di negara maju banyak telah dihasilkan produk tersebut, yang pada akhirnya malah sekarang sudah mulai menimbulkan keresahan dengan mulai banyaknya masyarakat yang sudah melek pengetahuan bahwa dampak negatif bagi kesehatan lebih banyak daripada positifnya, namun pemberitahuan itu tenggelam dengan iklan besar-besaran produk pertanian maupun peternakan yang sudah mengglobal.
Apabila di negara maju di mana masyarakatnya sudah melek pengetahuan, maka produsen ternak ataupun pertanian tidak langsung berkecil hati, mereka dapat juga melempar hasil produksinya pada negara berkembang, apakah kemungkinan Indonesia telah menjadi pasar bagi produk rekayasa transgenik tersebut? Tidak muskil hal ini bisa terjadi, lihat saja membanjirnya produk pertanian maupun daging impor, ayam impor yang relatif terjangkau harganya itu merupakan hasil rekayasa transgenik?
Dampak negatif yang berkepanjang dari penggunaannya, sudah terbayang di depan mata. Apakah tak ada ruang lagi untuk menikmati benar produk yang terbebas dari hasil rekayasa demi kesehatan? Ataukah kita-kita ini sudah terbelenggu dengan perangkap hormon yang menguasai tubuh dengan serapan yang semakin melilit karena pola makan kita yang sudah teracuni hormon itu semakin jauh, sehingga kita sendiripun sudah tercemari sifat-sifat trasgenik, sehingga menjadi acuh tak acuh?
Dengan membaca novel ini, jadi selama ini apakah kita semua telah memakan hasil sebuah rekayasa transgenik? Bagaimana kita akan tahu? Apakah menunggu penyakit dari dampak produk tersebut muncul? Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mengetahuinya. Novel ini membuat penyadaran pembaca untuk mulai berhati-hati terhadap makanan yang akan dikonsumsi.
MORAL, RELIGI DAN KLENIK
Sisi lain dari novel ini adalah bagaimana kita diperlihatkan pada moral sang pelaku dalam keseharian. Di satu sisi Dokter Lanang sebagai seorang lelaki dengan leluasa mengumbar nafsu sexnya begitu gampang diumbar, dia begitu gampangnya meniduri seorang pelacur yang dia sayangi tapi di satu sisi dia sudah beristri. Di lain pihak, dia pun menjadi begitu religius digambarkan ketika belum dapat memecahkan teka-teki penyebab penyakit yang menyerang sapi-sapi perah tersebut. Dengan meninggalkan istrinya tanpa perasaan ketakutan terjadi apa-apa, dia mencari jawaban dengan berdoa di tempat ibadah dilakukan sendiri. Di sini pengarang seperti membiarkan tokoh Lanang ini berjalan sendiri tanpa diceritakan mengapa itu bisa terjadi. Apakah tidak bisa menjalani beribadah dengan mengajak istrinya? Tentunya akan lebih bijak bila dalam pencarian penyebab itu, dia lebih membagi untuk istrinya dan bersama-sama pergi, daripada membiarkan istrinya di rumah sendiri yang pada akhirnya didatangi binatang tersebut yang kemudian menjelma sebagai dukun Rajikun.
Sepertinya sifat keliaran Dokter Hewan Lanang ini identik dengan hewan yang begitu gampang berganti-ganti pasangan tanpa adanya rasa bersalah.
Beberapa adegan persetubuhan walau digambarkan dengan halus namun terjadi beberapa kali dengan tidak hanya dengan istrinya tapi dengan mantan pacarnya Dokter Hewan Dewi. Perasaan bersalah telah berselingkuh tidak digambarkan kuat, hanya datang sesaat, seperti sesuatu pekerjaan yang biasa saja.
Untuk hal ini novel ini hanya patut dibaca oleh orang dewasa, karena penggambaran tokoh-tokohnya lebih banyak bersifat amoral menurut pandangan umum masyarakat kita yang masih religius. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya bahwa keadaan demikian di jaman sekarang kelihatannya sudah mulai lazim. Di satu sisi orang berteriak soal kekeringan adanya dahaga degadrasi moral dalam kehidupan masyarakat, tapi di sisi lainnya kehidupan bebas terpampang jelas di depan mata. Terjadinya kasus-kasus yang menimpa tokoh agama yang seharusnya menjadikan panutan tetapi berbelok melakukan hal-hal yang tak senonoh tergambar dalam tokoh yang bernama Rajikun. Dia ini sebenarnya dulunya bekas imam tempat ibadah Dokter Lanang ketika muda, karena melakukan perbuatan aib dengan salah satu jemaatnya yang seharusnya dia lindungi, tetapi malah “dimakannya” telah tercampakkan keluar dari tampat ibadah di mana dia bernaung. Sampai kemudian tibalah dia bertemu kembali dengan Lanang sebagai dukun hewan dan berkolaborasi dengan Dewi menciptakan hasil rekayasa transgenik.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak tokoh-tokohpun mempunyai muka dua, di satu sisi meneriakkan slogan moral dan mencontohkan kehidupan yang religi namun disisi lain dia juga melakukan perbuatan melanggar norma-norma dan apabila ketahuan merasa tidak bersalah malah menjadikan dirinya orang teraniaya, seperti memberikan pembenaran dia hanya khilaf atau menjadi umpan dari sebuah konspirasi pihak lain (mencari kambing hitam untuk menutupi aib yang telah diperbuatnya).
Yang menarik dalam novel ini adalah tidak menyebutkan gereja atau masjid tetapi dengan pengungkapan kata tempat ibadah. Pengarang bermain metafora dalam penyajian ungkapan benda sehingga menimbulkan hal hal baru dalam menikmati suasana baca, kaya istilah seperti diungkapkan Medy Loekito seorang penyair yang menulis di pembuka novel ini, bahwa membaca Lanang serasa membaca puisi panjang.
Kemudian juga dibahas munculnya tokoh dukun hewan. Tokoh ini dimunculkan berimbang dengan munculnya para ahli yang mewakili dunia ilmiah. Namun dalam perjalanannya dunia ilmiah dikalahkan dengan tokoh dari dunia klenik, dunia dukun.
Pengarang sepertinya menyindir juga, bahwa keseharian kehidupan di masyarakat banyak yang sudah makan bangku sekolahan sampai tinggi di mana pikiran rasionalnya lebih bicara, kadang dalam urusan rejeki, jodoh bahkan sampai kenaikan pangkat, jabatan masih lari pada dukun, pada urusan dunia klenik, yang sebenarnya bertolak belakang dengan akal sehat manusia.
CINTA DAN DENDAM
Intrik yang dibangun pada cerita yang membuat menjadi pemenang harapan kedua Sayembara Novel DKJ 2006 ini juga kekuatan dalam penyajikan tentang cinta dan dendam.
Orang bilang antara cinta dan dendam terpisah oleh dinding yang sangat tipis bahkan mungkin bisa menyatu dalam dua kata itu sendiri.
Lanang yang pada awalnya menjalin percintaan dengan Dewi yang berlainan keyakinan tetapi dalam perjalanannya akhirnya memilih menikah dengan Putri yang sama-sama satu agama.
Namun cinta pada Dewi tidak serta merta menjadi padam, tetap ada dan semakin membara kala waktu mempertemukan mereka kembali, bahkan Lanang bisa begitu mudah melupakan Putri istri sahnya yang telah dipilihnya untuk mendampingi hidupnya.
Begitu juga dengan Dewi, rupanya menyimpan rasa cinta terhadap Lanang yang tidak begitu saja gampang ditundukkan dan merasa dikhianati dengan menikahi teman sekelasnya waktu kuliah. Walau pada akhirnya mereka berdua membuat konspirasi untuk menundukkan Lanang yang pada akhirnya tetap tidak dapat ditundukkan.
Yang aneh adalah bagaimana Putri bisa begitu gampang mencintai Lanang tetapi kemudian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan dukun Rajikun, yang pada akhirnya juga disesalinya. Dan mereka berdua bisa bersama-sama membagi perasaan cinta pada Lanang tanpa cemburu di satu pihak dan malah rasa cinta yang dimiliki mereka berdua itu menimbulkan kebencian terutama Dewi dengan ingin melenyapkan sifat Lanang sebagai manusia diganti dengan rekayasa genetika hewan babi dan burung yang dipersiapkan dalam operasi dan kemudian berhasil menjadikan Lanang menjadi makhluk baru hasil ciptaan rasa cinta Dewi yang telah berkembang menjadi dendam yang membara.
EGO MANUSIA, SIFAT MASKULIN & FEMININ
Kelemahan pada diri Lanang yang digambarkan sangat macho dengan dada bidang, cerdas, tinggi besar, tidak dapat dipungkiri. Bahwa dia telah dikalahkan oleh ego pribadinya sendiri, banyaknya keinginan yang tidak terwujud dalam kehidupannya, cintanya yang hilang dengan dua wanita yang sudah didapatkannya tetapi kemudian dua-duanya pergi meninggalkannya, dan pada akhirnya bersama-sama menguasainya tanpa dia bisa berkutik melawannya.
Sifat feminin dalam diri seorang Lanang yang fisiknya lelaki lebih menonjol berseberangan dengan sifat Dewi yang ternyata lebih maskulin dibandingkan fisiknya yang perempuan sejati, demikian juga dengan Putri yang berpenampilan lebih lembut daripada Dewi, ternyata juga menyimpan sifat maskulin yang dominan dengan begitu mudah mau diajak oleh Dewi menundukkan Lanang dengan operasi rekayasanya.
Pembunuhan sebagian dari gen penentu kehidupan mahluk hidup tersebut dengan ringan dan bengis telah dilakukan dua orang perempuan dengan ego dan maskulinnya terhadap diri kekasih yang dicintainya sekaligus dibencinya.
CATATAN AKHIR
Novel ini di awalnya ditulis dengan penggambaran cukup rumit, namun kemudian mengalir cair semakin dalam, dengan penjelasan satu persatu runtutan kejadian, ditambah dengan imajinasi pengarang mengingatkan penulis pada novel Abdulah Harahap yang suka menulis tema mistik dengan hewan jadi-jadian, tetapi yang membedakan bahwa Yonathan Rahardjo berhasil menceritakan bahwa itu bukan hewan jadi-jadian tetapi adalah benar hasil rekayasa genetika dengan tidak lupa menyisipkan istilah ilmiah menjadikan tema yang diambil dapat menarik dan menjadikan satu pilihan dari banyak pilihan tema novel pada umumnya, dibumbui dengan kisah cinta dan intrik serta kepentingan di dalamnya dan dibiarkan menggantung pada akhir cerita, membuat novel ini bisa menjadikan pilihan menarik pembaca untuk menikmatinya.
Dengan cover menarik, dan font yang tidak melelahkan mata, ditambah garis cetakan di atas dan bawah setiap halaman, menjadikan nilai tambah novel ini, walaupun penyajian beberapa catatan dari juri dan kolega pengarang cukup menyita halaman dan sempat mengganggu pemandangan.
selesai
Monday, April 21, 2008
harga sebuah harapan
sepertinya berjalan tanpa beban
berharap tak ada aral melintang
sepertinya tertawa tak ada tegukan
berharap semua menjadia riang
ah, siapa menduga
pos terakhir harus sudah ada
disediakan ataupun tidak
semuanya tetap bergerak
masa lalu tinggal goresan
pena patah atau dipatahkan
tak perlu lagi caci maki dilontarkan
segera tinggalkan landasan
ilenk 7.45, pagi sebelum bekerj
berharap tak ada aral melintang
sepertinya tertawa tak ada tegukan
berharap semua menjadia riang
ah, siapa menduga
pos terakhir harus sudah ada
disediakan ataupun tidak
semuanya tetap bergerak
masa lalu tinggal goresan
pena patah atau dipatahkan
tak perlu lagi caci maki dilontarkan
segera tinggalkan landasan
ilenk 7.45, pagi sebelum bekerj
pagi menyapa tuk vie
masih ada sisa asap di jalanan
masih ada kerikil terlontar di sela roda otor
masih ada harapan di asa yang semakin tipis
masih kah ada ?
lewat siang dan separuh sore
tak ada lagi dentingan suara
hanya sepi dan kemudian senyap
cuma menanti tanda "suit..suit..suit..."
sms menyala, namun tetap tak ada
ilenk, 7.40 wib, pagi di kantor
masih ada kerikil terlontar di sela roda otor
masih ada harapan di asa yang semakin tipis
masih kah ada ?
lewat siang dan separuh sore
tak ada lagi dentingan suara
hanya sepi dan kemudian senyap
cuma menanti tanda "suit..suit..suit..."
sms menyala, namun tetap tak ada
ilenk, 7.40 wib, pagi di kantor
Ibu, tak luruh do'a selalu untukmu
hangat harum tubuh pagi berselimut halimun
dengan acak rambut dan riak baju tak beraturan
berjalan tertatih di ujung subuh
nyala lilin dan rangas arang hitam memeluk tubuh
suara gorengan dan asap nasi
sesekali batuk menimpali di ujung adzan pilu
dan bunyi gemerisik air luruh jatuh
terakhir gumanan do'a pagi disitir
kepada perempuan pagi, yang selalu kukenang, almarhum Ibu
22/04/2008
ilenk
dengan acak rambut dan riak baju tak beraturan
berjalan tertatih di ujung subuh
nyala lilin dan rangas arang hitam memeluk tubuh
suara gorengan dan asap nasi
sesekali batuk menimpali di ujung adzan pilu
dan bunyi gemerisik air luruh jatuh
terakhir gumanan do'a pagi disitir
kepada perempuan pagi, yang selalu kukenang, almarhum Ibu
22/04/2008
ilenk
Monday, April 14, 2008
ulasan puisi M. Aan Mansyur
DI TELUK PUNTONDO, SUATU SENJA , AKU HENDAK PINDAH RUMAH
Oleh : ilenk_rembulan
Sekilas menggenggam kumpulan puisi yang dipeluk dalam buku berjudul Aku Hendak Pindah Rumah dari M. Aan Mansyur selanjutnya disingkat MAM ini terasa berat diisi. Bukan apa-apa, aku sejak kecil sering membaca puisi pendek yang keindahannya sudah tidak diragukan lagi, walau kadang kutemui sedikit agak panjang namun tidak dengan jumlah bait, tapi jumlah kata dalam satu baris.
Pada kumpulan puisi ini ada sarat banyak puisi-puisi MAM yang banyak baris banyak kata, sehingga aku merasa kedodoran untuk menangkap roh dari puisi itu sendiri. Terus terang tanpa aku bisa menangkap jiwa dari kata-kata yang sudah dirangkai dengan susah panyah oleh penyair maka tidak akan bisa dengan tenang dan nyaman menikmatinya.
Aku mencoba untuk mulai menyukai puisi MAM dan mendalami maknanya karena tanpa itu rasanya tidak fair bagi jiwa ini hanya membaca puisi-puisi pendek tanpa membandingkan dengan puisi panjang, dengan keterpaksaan yang dalam dan iklas mau tidak mau aku menyelami dan mulai masuk di alam pikiran MAM dalam balutan puisinya yang cukup melelahkan bagi mataku.
Buku berbalut 182 halaman ini mulai kubuka perlahan dengan iringan Way to Mandalay nya Ritchie Blackmore , seperti kata bang HAH dalam pengantar di buku tersebut , bahwa keindahan puisi selalu ada dan terus ada, maka mengabaikan yang lain, bermodal keindahan ini ku mulai menikmati puisi MAM.
Menyitir sekapur sirih dari pengarang di halaman akhir, bahwa kumpulan sajak ini terdiri dari 4 bab yang awalan setiap bab dimulai dengan “Rumah “ dan berisi 99 sajak.
Rumah 1 : Pintu lama, Pintu Kenangan terdiri dari 24 puisi
Suara penyanyi cewek menyanyikan 3 black crows nya Ritchie Blackmore diiringi kecringan sayup-sayup , menemani semakin dalam menjelajahi 24 puisi MAM dalam rumah 1 ini.
Aku mulai menangkap keindahan pada puisi pendek (Ah! lagi lagi pendek) tetapi banyak baris dengan judul “Hujan Pagi”. Pada bait ke lima yang ku kutipkan disini :
………………………………….
Aku hirup kopi sebelum berlalu dingin
Kau tahu, kopi itu kuseduh
Sambil tersedu-sedu
Sebab alangkah sendu
Bunyi sendok dan gelas beradu
………………………….
Entahlah, karena ada bunyi disini dan yang pasti puisi ini pendek sehingga rohnya dengan mudah dapat kutangkap, maka aku menikmatinya dengan geleng-geleng kepala seirama petikan Joe Satriani dalam The crush of love.
Akhirnya aku jatuh cinta juga dan terperangkap pada puisi yang berjudul Sepasang Pohon Gerbang, puisi panjang MAM ini terdiri dari 7 bait masing-masing bait terdiri dari 4 baris, dan yang membuatku terpesona adalah diakhir setiap kalimat ada bunyi “ng”, Wow, dahsyat, mataku tak lelah menjelajahi dan berusaha masuk di sajak ini. Aku jadi terbayang pohon beringin di bekas rumah ex Wedana di jl. Getengkali Surabaya yang sekarang menjadi tempat berkesenian dengan nama “Cak Durasim” itu. Entahlah apakah pohon beringin saksi sejarah itu masih tegak berdiri sekarang ?, karena dulu waktu mbakyu rajin menjadi anggota teater disana sering berlatih di bawah pohon itu.
Kemudian aku tenggelam lagi pada beberapa puisi MAM yang panjang melelahkan mataku, karena rohnya tak dapat kutangkap, namun aku terjegal di sajak yang berjudul “Pada sebuah tengah malam”
MAM, terus terang sebenarnya rohmu di puisi pendek amat kuat dibandingkan di puisi panjangmu yang seperti cerita mini (cermin). Aku kutip disini :
Udara begitu kelam,
Diam bagai air kolam.
Engkau mengendap-endap ke dalam kenangku,
Pelan letakkan satu ciuman di keningku.
Lalu seluruh waktu silam
Tiba-tiba ingin kembali aku sulam.
Wahai di mana gerangan kini engkau tertambat,
Jika sekarang aku pulang apakah aku terlambat?
Mantap MAM, kuat roh itu membelengguku, petikan Joe masih mengiringi dengan hentakkan Flying in a blue dream,
Terperangkap lagi pada puisi cermin MAM yang berjudul “Aku dan sepasang mata”, ini karena di setiap akhir baris ada bunyi “ap”, dengan bentuk bebas di setiap bait dan barisnya, namun keutuhan tetap terjaga. Kukutip sebagian :
……………………………………………………
Dan kelopaknya yang diam tak mengerjap,
Tak pernah mau menyingkap
Tetanda yang seharusnya terungkap
Kata-kata yang seharusnya terucap
Lalu isyarat apa yang mesti kutangkap?
………………………………………
Sebab aku tak lagi genap, tak lagi lengkap
Satu baris akhir yang menyudahi sajak ini, hem, sarat makna dalam. MAM akupun kadang juga merasa tak genap lagi, apalai lengkap, seiring waktu yang terus berputar.
Dan masih ada satu lagi sajak yang berjudul “Puluhan tahun kemudian”, akupun menyukainya karena rohnya begitu gampang kutangkap ada bunyi disini dan kurasakan indah, memang menapak hari-hari menjelang usia tua adalah kenangan yang tak terlupakan, penuh keindahan.
Selebihnya sajak-sajak lainnya terlalu penat kutangkap rohnya, walau aku tahu bagi penyair lain akan dibilang indah, tapi MAM kau harus sadari bahwa tidak semua orang termasuk aku bisa dengan nikmat melahap puisimu yang sebagian seperti cermin itu, tapi setidaknya di rumah pertamamu ini, aku sudah bisa melahap dengan lega, dan akan kulanjutkan masuk di rumah-rumahmu berikutnya, agar aku bisa dengan lahap menikmati sajianmu ini.
Rumah 2: Pintu hati, pintu persembunyian
Clouds race across the sky masih tetap si Joe ganteng, dengan matap mengalun terus menemaniku, diiringi petir menggelegar di langit bogor pada sabtu siang, dengan hujan rintik, kususupi lagi roh MAM di puisi-puisinya pada rumah ke 2 ini dengan jumlah sajak ada 32 buah.
Kesandung awal pada sajak “Mata Ibu”, seperti sajak Dino tempo hari, entahlah, setiap penyair membuat syair yang ditujukan untuk ibu, aku selalu menyukainya seperti apapun bentuk puisi itu. Ibu bagiku dan mungkin juga banyak penikmat lainnya akan selalu menjadi ladang penciptaan kreasi dalam merangkai kata-kata untuk disajikan menjadi sajak yang utuh. Di bait akhir dari sajak ini kukutip :
………………………………………………….
Tetapi engkau sungguh tak tahu mengeluh
Mulutmu corong seluruh doa paling minta
Agar tuhan tak mengeringkan kali
Sebelum ternak dan anak-anak
Menemukan hujan
Doa ibu untuk siapapun orang dekat yang dicintainya, selalu akan terus meluncur dari batinnya, menyirami, mendorong langkah kita menapaki kehidupan yang semakin jauh ke depan. MAM berkat doa ibu juga kau sudah berjalan hingga kini.
Disamping itu akupun terpana dengan sajaknya yang berjudul “Gambar mirip Ibu”, karena ternyata memang Ibu berperan penting bagi jejak langkah kehidupan ini.
Kali ini puisi pendek MAM yang berjudul “di Rahim Tanah” membuatku terpana sebentar, kukutip berikut ini :
Di MANA rumputan menemukan bunga?
Di rahim tanah, di rahim tanah yang gembur
Dimana sumur mendapatkan mata air?
Di mana alir sungai-sungai akan berhilir?
Di rahim tanah, di rahim tanah yang subur
Di mana akan kau tanam air matamu?
Di rahim tanah, di tempat ibu terkubur
Kemudian berlanjut di sajak “Doa” terdiri 3 bait dalam barisan berjumlah 8 dan singkat kata tapi sarat makna.
Ingatkan agar aku sadar
Usiaku akan pelan-pelan
Berubah jadi bumi
Ingatkan aku seluruh tangan
Yang pernah menanam bebijian
Di ladang-tubuhku
Sebab aku ingin melihat mereka
Merayakan pesta di musim panen
Di perjalanan merasuki rohmu dalam menyajikan puisi , aku tertambat pada sajak yang berjudul “Meriang”, kuselami sejenak dengan menghela nafas satu bait dari 3 bait yang tersaji ,
SETIAP malam
Pintu tak kututup
Jendela tak kukatup
Kuundang angin yang ingin
Merasuk jadi meriang di tubuhku
Dan merusak suaraku
MAM, terus terang suaraku pada saat membuat esai ini juga sedang rusak kena flue, apa mungkin ini jadi rohmu dengan mudah kutangkap ketika mengukir meriang ini?
I love you dari Saigon kick mendendang renyah menemaniku menikmati sajak lain yang lagi-lagi pendek saja berjudul “Sungai Susu”.
DI PANGKAL tidurnya mereka dengar bisikan
Halus bagai biji-biji hujan yang berkecambah
Siap tumbuh memanjat udara ke awan-awan
Setelah di guyur panas matahari tidak terbelah
“Nak, mari ikut Ibu berenang ke muara,
Sungai susu sudah mulai mengaliri dada”
Kuntum-kuntum mata mereka dikatupkan
Dan menikmati tubuhnya hanyut perlahan
MAM, aku berdesir membaca puisimu “Sahabat-sahabat Ibu”, lagu Love hurts by Nazareth menghentak lamunanku , baru dua rumahmu aku jelajahi tapi sebenarnya kau ini siapa baru aku temukan di puisimu ini. Sulaman kehidupan pribadimu tersamar jelas di puisi ini, tanpa sadar mataku meradang basah.
SEJAK kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah
Lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya
………………………………………………….
Pada bait 2 : pisau
KADANG-KADANG ia benci ranum buah-buahan
Apel dan tomat yang merah,
Semangka dan mangga berkulit kencang,
Atau mentimun yang segar dan putih
Masa-masa remajanya tak bisa kembali
Seperti juga alamat ayah yang sia-sia dicari
Pada bait 3 : gunting
BUNGA-BUNGA dan rumput di halaman
Suka berubah jadi uban di kepalanya
Ia tak ingin ada hutan menyeramkan
Tumbuh di sana. Sebab bagaimanapun
Ia tak pernah lelah menunggu anaknya
Datang mencium keningnya atau
Mungkin ayah dengan oleh-oleh
Sebuah cerita tentang petualangan
MAM, ibumu kuat seperti almarhum ibuku juga, aku tiba-tiba rindu padanya. Salam ta’jimku pada beliau. Bahagialah kau masih ditemani olehnya, tidak seperti aku menapak separuh kehidupan tanpa ibuku lagi.
Rumah 3: Pintu baru, pintu kegaduhan, terdiri dari 20 sajak
Terus terang aku tertatih-tatih memasuki rumah ke tiga ini. Sarat puisi bak cermin, dan berat kutangkap maknanya. Apa mungkin terlalu panjang sehingga awalnya roh itu sudah ada, keindahanyapun sudah terpampang, tapi kemudian cepat hilang, ketika aku sudahi dengan penuh kelelahan panjang mengakhiri setiap sajak-sajak MAM di rumah ini.
Namun aku tak putus asa berusaha mencari bilik yang tidak membuatku lelah dan sesak, sampai pada judul “Aku hendak pindah rumah” judul yang sama yang dipakai untuk membungkus kumpulan buku kedua ini, baru aku bisa bernafas lega. Puisi panjang ini, dapat dengan mudah kutangkap aromanya, dan aku menikmatinya dengan lahap dan ringan diiringi I’m too deep dari Genesis. Dua baris kalimat akhir dari kutipan puisi tersebut :
……………………………………
Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh
Dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh !
Wah, opo yo tenan MAM?, kamu inginkan demikian? Bukankah sekarang banyak orang mendambakan rumah yang tenang dan damai bak di dalam tanah kuburan? Bahkan di apsas inipun ada sebagian orang menginginkan juga seperti itu ketika sebagian ada kegaduhan dan rusuh?
Rumah 4: Pintu Waktu, Pintu Perjalanan, terdiri dari 23 sajak
Akhirnya perjalanan menjelajahi lorong waktu rumah di dalam kumpulan puisi MAM ini menginjak pada bab akhir. Rumah yang berisi puisi yang paling aku suka, berisi pendek-pendek seperti sebuah coretan perjalanan, namun kaya makna dan pendalaman arti dalam rangkaian kata.
Akupun berkali-kali katakan, rohmu itu ada pada sajak-sajak pendekmu MAM, ini adalah kataku, pasti akan ditebas oleh mereka pengangum puisi cerminmu. Aku sadari ada beberapa yang aku bisa mencernanya dalam membaca puisi cerminmu itu, namun aku lebih suka dan melahap sampai tuntas sajak sajak ringkasmu.
Dari beberapa catatan harianmu di awal-awal halaman rumah 4 ini, aku suka puisi yang kau tulis –Bone 14/01/1999
SEBERAPA jauh kuda waktu
Mampu membawaku di pelana?
Oi, anak sulung tanpa ayah,
Beradik dua, ibumu sudah tua,
Cepat sekali kau tujuhbelas!
Mengapa anak-anak itu
Tak mau meninggalkan mainannya
Dari pekarangan di dadamu?
Lagi-lagi – Bone 14/01/2003
AKU hanya menginginkan
Ulang tahunku yang ketujuh
Pesta kecil tak perlu kenangan
Tentang hujan dan perempuan
Yang nafasnya pernah membantu
nafasku memadamkan nyala lilin
Aku hanya menginginkan
Hadiah mainan dan buku kosong
Banyak perihal perih mau aku gambar
Catatan harian pada saat kau ulang tahun, dan aku suka catatanmu yang di tulis di Bone, karena Bone tanah kelahiran, juga Bone mengingatkan aku akan seseorang, pada Lelaki masa laluku.
Hampir semua puisi yang ada di rumah ke 4 ini, aku suka. Apa memang sengaja MAM memasangnya di akhir, supaya kelelahan panjang melahap di rumah-rumah terdahulu, jadi ringan di bab akhir.
Salah satu yang aku suka “Baju Penglaris”, tersenyum aku dibuatnya, sajak cibiran nan getir, ada permainan nakal di akhir puisinya. Kukutip sebagian :
……………………………………….
“Ini memang mahal, Tuan.
Safari bersaku banyak, membuat
fasih berbohong dan berjanji.
Hanya beberapa bulan dijamin
uang kembali. Beli satu ada bonus
rumah dan kendaraan dinas
juga perempuan simpanan
kalau Tuan mau”
………………………………………………………….
Lukman nampak tak tertarik
Pada gadis pelayan ia berbisik,
“Ada yang buat lelaki kesepian, Dik?”
Gadis pelayan tersenyum
“Maaf Tuan, ini toko pakaian,
bukan toko mainan”
Senyumanku berbarengan dengan Linger by Cranberries yang mengalun ringan.
Ada lagi kutipan catatan harian yang ditulis :
-minggu 8/10/06
BUNGA-BUNGA kuning
ranting dan daun kering
berserak di setapak
bagai kenangan
siap dilupakan
-jumat 13/10/06
DI SETIAP bab terakhir
aku dikhianati Sang Pengarang
Ia tak pernah menepati janji
membayar lembar uangku
dengan selain kesedihan
Disamping berisi catatan harian, ada lagi bentuk sajak dalam rumah terakhir ini yang aku suka, ada 4 judul yang bentuknya hampir sama, masing-masing adalah : Sejarah mata sejarah waktu ; Sejarah mata sejarah jarak ; Sejarah mata sejarah kata ; Sejarah mata sejarah arah
……………………
SEBELUM ada mata
waktu adalah batu
………………………………………
MATAKU tak mengenal matamu
Jarak adalah matahari, jauh tak terjangkau
…………………………………………………………….
AKU intip matamu
di siang hari
berserak huruf-huruf
seperti kering dedaunan
akan bersatu jadi tanah
……………………………………………….
MATAMU lengkap jadi mataku
Yang manakah arah
Selain yang satu?
-kita adalah arah
Akupun terpukau pada deretan makna yang berbaris di lukisan sajak yang berjudul “Sesaat setelah kapal bersandar”
……………………………………
Inilah petualangan terakhirku, Ibu
setelah semua dermaga yang pernah menerimaku
tidak lebih lidah perempuan-perempuan nakal
Menjilat lalu muntah sambil mengumpat-umpat
Tak tahan pada kerat-kerat
dagingku dan keringat pekat
yang kusuling dari mata air susumu
MAM aku mengais tanah harapan masa lalu di bukumu tentang asal usulmu dari Angin Mamiri yang datang mengalir dari timur ke barat di sajak-sajakmu, dan baru kutemukan pada sajak yang berjudul “Teluk Puntondo, Suatu Senja”.
MENJELANG petang, langit belang-belang
Seperti ingatan seperti kenangan
Ungu-biru-ungu-biru-ungu
Dedaun bakau yang hijau dan payau
Aku dengar seperti kau berceracau
Pergilah kau!
Pergilah kau!
Lupakan aku!
Ah, sampai sekarang aku tak dapat melupakan lelaki dari Angin Mamiri itu datang, dia kisah lama penuh kenangan yang terlalu susah untuk dihapus walau oleh tipp ex yang paling modernpun. Love of my life by Queen dengan dentingan piaonanya yang khas mengalun bercampur samar-samar lagu Angin Mamiri yang di dendangkan si cantik Andi Meriem Matalata menambah senja di teluk Puntondo, semakin membentang, memanjang lalu menjelma bayang-bayang.
Di awal dan akhir buku ini ada 2 sajak, namun aku suka sajak yang ada di akhir buku yang berjudul “Lubang Untukmu”
……………………………………….
Aku ingin jadi lubang tanam bagi mayatmu
Agar kau dan aku bisa sempurna menyatu
Ada beberapa puisi MAM bertema tentang perjalanan hari tua dan kematian, di sajikan dengan perih namun dalam, mengingatkan aku tentang akhir kehidupan yaitu mati.
Pertemuan sepintas pada awal lauching buku MAM di Graha Cipta II, TIM, tempo hari membuatku sedikit kecewa, karena MAM terkesan mengasingkan diri dari penikmat puisi, padahal ada banyak tanya di kepalaku yang ingin kusampaikan pada MAM saat itu, namun penyair satu ini menyendiri di sudut keramaian dan memilih diam dan sunyi.
MAM kau memang penyendiri atau ada hal lain yang menyebabkan dirimu menarik dari keramaian ? padahal sajak-sajakmu itu ramai, jarang aku jumpai kesendirianmu di permainan kata-katamu, walau ada juga sajak yang berbicara batinmu. Tapi jiwa muda dinamiknya itu bergerak bagaikan tiupan angin mamiri.
MAM, suatu kelak ketika dentangan waktu merambat ke barat dan masih ada tersisa kata-kata di keranjang untuk kau sajikan di buku ketigamu nanti,aku ingin MAM yang hangat, terbuka menyambut penikmatmu dalam sajian sajak-sajakmu.
Cuma satu aku pesan , buatkan aku sajak pendek tak lebih dari 4 kata dalam sebaris namun terdiri dari 7 bait yang sarat makna dan kuatnya roh (halah ! cerewet ), daripada aku kau buatkan sajak cermin , aku lelah MAM menangkap rohnya !, dia keburu pergi jauh, metaforanya tak ada sama sekali, kering!. (maafkan aku MAM!, ini hanya gurauanku saja untukmu, jangan kau anggap serius! Aku takut nanti buku ke tiga kau tetap akan menyendiri dan terasing padahal kau mampu!)
Salam damai dari Bogor, sore ini hujan deras di sabtu tanggal 12/04/2008, tepat 2 hari setelah hari kelahiranku.
Aku dapatkan bukumu dari pinjaman dimas Bayu Lukman yang ganteng itu (makasih bro !), karena pada awalnya terus terang aku tidak begitu tertarik dengan puisi bagaikan cermin tadi, namun membuatku penasaran, maka kupinjam dari dimas Bayu yang dengan baik hati meminjamkan padaku untuk kukupas dan kuselami roh yang ada di setiap sajakmu itu. Walau kuakui sampai tuntas aku tidak memahami puisimu yang cermin, namun yang ada dentingan bunyi dan yang pendek dengan cekatan aku dapat menangkapnya dan menikmatinya tentunya seperti biasa harus ada lagu pengiringnya supaya enak membacanya.
Oleh : ilenk_rembulan
Sekilas menggenggam kumpulan puisi yang dipeluk dalam buku berjudul Aku Hendak Pindah Rumah dari M. Aan Mansyur selanjutnya disingkat MAM ini terasa berat diisi. Bukan apa-apa, aku sejak kecil sering membaca puisi pendek yang keindahannya sudah tidak diragukan lagi, walau kadang kutemui sedikit agak panjang namun tidak dengan jumlah bait, tapi jumlah kata dalam satu baris.
Pada kumpulan puisi ini ada sarat banyak puisi-puisi MAM yang banyak baris banyak kata, sehingga aku merasa kedodoran untuk menangkap roh dari puisi itu sendiri. Terus terang tanpa aku bisa menangkap jiwa dari kata-kata yang sudah dirangkai dengan susah panyah oleh penyair maka tidak akan bisa dengan tenang dan nyaman menikmatinya.
Aku mencoba untuk mulai menyukai puisi MAM dan mendalami maknanya karena tanpa itu rasanya tidak fair bagi jiwa ini hanya membaca puisi-puisi pendek tanpa membandingkan dengan puisi panjang, dengan keterpaksaan yang dalam dan iklas mau tidak mau aku menyelami dan mulai masuk di alam pikiran MAM dalam balutan puisinya yang cukup melelahkan bagi mataku.
Buku berbalut 182 halaman ini mulai kubuka perlahan dengan iringan Way to Mandalay nya Ritchie Blackmore , seperti kata bang HAH dalam pengantar di buku tersebut , bahwa keindahan puisi selalu ada dan terus ada, maka mengabaikan yang lain, bermodal keindahan ini ku mulai menikmati puisi MAM.
Menyitir sekapur sirih dari pengarang di halaman akhir, bahwa kumpulan sajak ini terdiri dari 4 bab yang awalan setiap bab dimulai dengan “Rumah “ dan berisi 99 sajak.
Rumah 1 : Pintu lama, Pintu Kenangan terdiri dari 24 puisi
Suara penyanyi cewek menyanyikan 3 black crows nya Ritchie Blackmore diiringi kecringan sayup-sayup , menemani semakin dalam menjelajahi 24 puisi MAM dalam rumah 1 ini.
Aku mulai menangkap keindahan pada puisi pendek (Ah! lagi lagi pendek) tetapi banyak baris dengan judul “Hujan Pagi”. Pada bait ke lima yang ku kutipkan disini :
………………………………….
Aku hirup kopi sebelum berlalu dingin
Kau tahu, kopi itu kuseduh
Sambil tersedu-sedu
Sebab alangkah sendu
Bunyi sendok dan gelas beradu
………………………….
Entahlah, karena ada bunyi disini dan yang pasti puisi ini pendek sehingga rohnya dengan mudah dapat kutangkap, maka aku menikmatinya dengan geleng-geleng kepala seirama petikan Joe Satriani dalam The crush of love.
Akhirnya aku jatuh cinta juga dan terperangkap pada puisi yang berjudul Sepasang Pohon Gerbang, puisi panjang MAM ini terdiri dari 7 bait masing-masing bait terdiri dari 4 baris, dan yang membuatku terpesona adalah diakhir setiap kalimat ada bunyi “ng”, Wow, dahsyat, mataku tak lelah menjelajahi dan berusaha masuk di sajak ini. Aku jadi terbayang pohon beringin di bekas rumah ex Wedana di jl. Getengkali Surabaya yang sekarang menjadi tempat berkesenian dengan nama “Cak Durasim” itu. Entahlah apakah pohon beringin saksi sejarah itu masih tegak berdiri sekarang ?, karena dulu waktu mbakyu rajin menjadi anggota teater disana sering berlatih di bawah pohon itu.
Kemudian aku tenggelam lagi pada beberapa puisi MAM yang panjang melelahkan mataku, karena rohnya tak dapat kutangkap, namun aku terjegal di sajak yang berjudul “Pada sebuah tengah malam”
MAM, terus terang sebenarnya rohmu di puisi pendek amat kuat dibandingkan di puisi panjangmu yang seperti cerita mini (cermin). Aku kutip disini :
Udara begitu kelam,
Diam bagai air kolam.
Engkau mengendap-endap ke dalam kenangku,
Pelan letakkan satu ciuman di keningku.
Lalu seluruh waktu silam
Tiba-tiba ingin kembali aku sulam.
Wahai di mana gerangan kini engkau tertambat,
Jika sekarang aku pulang apakah aku terlambat?
Mantap MAM, kuat roh itu membelengguku, petikan Joe masih mengiringi dengan hentakkan Flying in a blue dream,
Terperangkap lagi pada puisi cermin MAM yang berjudul “Aku dan sepasang mata”, ini karena di setiap akhir baris ada bunyi “ap”, dengan bentuk bebas di setiap bait dan barisnya, namun keutuhan tetap terjaga. Kukutip sebagian :
……………………………………………………
Dan kelopaknya yang diam tak mengerjap,
Tak pernah mau menyingkap
Tetanda yang seharusnya terungkap
Kata-kata yang seharusnya terucap
Lalu isyarat apa yang mesti kutangkap?
………………………………………
Sebab aku tak lagi genap, tak lagi lengkap
Satu baris akhir yang menyudahi sajak ini, hem, sarat makna dalam. MAM akupun kadang juga merasa tak genap lagi, apalai lengkap, seiring waktu yang terus berputar.
Dan masih ada satu lagi sajak yang berjudul “Puluhan tahun kemudian”, akupun menyukainya karena rohnya begitu gampang kutangkap ada bunyi disini dan kurasakan indah, memang menapak hari-hari menjelang usia tua adalah kenangan yang tak terlupakan, penuh keindahan.
Selebihnya sajak-sajak lainnya terlalu penat kutangkap rohnya, walau aku tahu bagi penyair lain akan dibilang indah, tapi MAM kau harus sadari bahwa tidak semua orang termasuk aku bisa dengan nikmat melahap puisimu yang sebagian seperti cermin itu, tapi setidaknya di rumah pertamamu ini, aku sudah bisa melahap dengan lega, dan akan kulanjutkan masuk di rumah-rumahmu berikutnya, agar aku bisa dengan lahap menikmati sajianmu ini.
Rumah 2: Pintu hati, pintu persembunyian
Clouds race across the sky masih tetap si Joe ganteng, dengan matap mengalun terus menemaniku, diiringi petir menggelegar di langit bogor pada sabtu siang, dengan hujan rintik, kususupi lagi roh MAM di puisi-puisinya pada rumah ke 2 ini dengan jumlah sajak ada 32 buah.
Kesandung awal pada sajak “Mata Ibu”, seperti sajak Dino tempo hari, entahlah, setiap penyair membuat syair yang ditujukan untuk ibu, aku selalu menyukainya seperti apapun bentuk puisi itu. Ibu bagiku dan mungkin juga banyak penikmat lainnya akan selalu menjadi ladang penciptaan kreasi dalam merangkai kata-kata untuk disajikan menjadi sajak yang utuh. Di bait akhir dari sajak ini kukutip :
………………………………………………….
Tetapi engkau sungguh tak tahu mengeluh
Mulutmu corong seluruh doa paling minta
Agar tuhan tak mengeringkan kali
Sebelum ternak dan anak-anak
Menemukan hujan
Doa ibu untuk siapapun orang dekat yang dicintainya, selalu akan terus meluncur dari batinnya, menyirami, mendorong langkah kita menapaki kehidupan yang semakin jauh ke depan. MAM berkat doa ibu juga kau sudah berjalan hingga kini.
Disamping itu akupun terpana dengan sajaknya yang berjudul “Gambar mirip Ibu”, karena ternyata memang Ibu berperan penting bagi jejak langkah kehidupan ini.
Kali ini puisi pendek MAM yang berjudul “di Rahim Tanah” membuatku terpana sebentar, kukutip berikut ini :
Di MANA rumputan menemukan bunga?
Di rahim tanah, di rahim tanah yang gembur
Dimana sumur mendapatkan mata air?
Di mana alir sungai-sungai akan berhilir?
Di rahim tanah, di rahim tanah yang subur
Di mana akan kau tanam air matamu?
Di rahim tanah, di tempat ibu terkubur
Kemudian berlanjut di sajak “Doa” terdiri 3 bait dalam barisan berjumlah 8 dan singkat kata tapi sarat makna.
Ingatkan agar aku sadar
Usiaku akan pelan-pelan
Berubah jadi bumi
Ingatkan aku seluruh tangan
Yang pernah menanam bebijian
Di ladang-tubuhku
Sebab aku ingin melihat mereka
Merayakan pesta di musim panen
Di perjalanan merasuki rohmu dalam menyajikan puisi , aku tertambat pada sajak yang berjudul “Meriang”, kuselami sejenak dengan menghela nafas satu bait dari 3 bait yang tersaji ,
SETIAP malam
Pintu tak kututup
Jendela tak kukatup
Kuundang angin yang ingin
Merasuk jadi meriang di tubuhku
Dan merusak suaraku
MAM, terus terang suaraku pada saat membuat esai ini juga sedang rusak kena flue, apa mungkin ini jadi rohmu dengan mudah kutangkap ketika mengukir meriang ini?
I love you dari Saigon kick mendendang renyah menemaniku menikmati sajak lain yang lagi-lagi pendek saja berjudul “Sungai Susu”.
DI PANGKAL tidurnya mereka dengar bisikan
Halus bagai biji-biji hujan yang berkecambah
Siap tumbuh memanjat udara ke awan-awan
Setelah di guyur panas matahari tidak terbelah
“Nak, mari ikut Ibu berenang ke muara,
Sungai susu sudah mulai mengaliri dada”
Kuntum-kuntum mata mereka dikatupkan
Dan menikmati tubuhnya hanyut perlahan
MAM, aku berdesir membaca puisimu “Sahabat-sahabat Ibu”, lagu Love hurts by Nazareth menghentak lamunanku , baru dua rumahmu aku jelajahi tapi sebenarnya kau ini siapa baru aku temukan di puisimu ini. Sulaman kehidupan pribadimu tersamar jelas di puisi ini, tanpa sadar mataku meradang basah.
SEJAK kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah
Lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya
………………………………………………….
Pada bait 2 : pisau
KADANG-KADANG ia benci ranum buah-buahan
Apel dan tomat yang merah,
Semangka dan mangga berkulit kencang,
Atau mentimun yang segar dan putih
Masa-masa remajanya tak bisa kembali
Seperti juga alamat ayah yang sia-sia dicari
Pada bait 3 : gunting
BUNGA-BUNGA dan rumput di halaman
Suka berubah jadi uban di kepalanya
Ia tak ingin ada hutan menyeramkan
Tumbuh di sana. Sebab bagaimanapun
Ia tak pernah lelah menunggu anaknya
Datang mencium keningnya atau
Mungkin ayah dengan oleh-oleh
Sebuah cerita tentang petualangan
MAM, ibumu kuat seperti almarhum ibuku juga, aku tiba-tiba rindu padanya. Salam ta’jimku pada beliau. Bahagialah kau masih ditemani olehnya, tidak seperti aku menapak separuh kehidupan tanpa ibuku lagi.
Rumah 3: Pintu baru, pintu kegaduhan, terdiri dari 20 sajak
Terus terang aku tertatih-tatih memasuki rumah ke tiga ini. Sarat puisi bak cermin, dan berat kutangkap maknanya. Apa mungkin terlalu panjang sehingga awalnya roh itu sudah ada, keindahanyapun sudah terpampang, tapi kemudian cepat hilang, ketika aku sudahi dengan penuh kelelahan panjang mengakhiri setiap sajak-sajak MAM di rumah ini.
Namun aku tak putus asa berusaha mencari bilik yang tidak membuatku lelah dan sesak, sampai pada judul “Aku hendak pindah rumah” judul yang sama yang dipakai untuk membungkus kumpulan buku kedua ini, baru aku bisa bernafas lega. Puisi panjang ini, dapat dengan mudah kutangkap aromanya, dan aku menikmatinya dengan lahap dan ringan diiringi I’m too deep dari Genesis. Dua baris kalimat akhir dari kutipan puisi tersebut :
……………………………………
Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh
Dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh !
Wah, opo yo tenan MAM?, kamu inginkan demikian? Bukankah sekarang banyak orang mendambakan rumah yang tenang dan damai bak di dalam tanah kuburan? Bahkan di apsas inipun ada sebagian orang menginginkan juga seperti itu ketika sebagian ada kegaduhan dan rusuh?
Rumah 4: Pintu Waktu, Pintu Perjalanan, terdiri dari 23 sajak
Akhirnya perjalanan menjelajahi lorong waktu rumah di dalam kumpulan puisi MAM ini menginjak pada bab akhir. Rumah yang berisi puisi yang paling aku suka, berisi pendek-pendek seperti sebuah coretan perjalanan, namun kaya makna dan pendalaman arti dalam rangkaian kata.
Akupun berkali-kali katakan, rohmu itu ada pada sajak-sajak pendekmu MAM, ini adalah kataku, pasti akan ditebas oleh mereka pengangum puisi cerminmu. Aku sadari ada beberapa yang aku bisa mencernanya dalam membaca puisi cerminmu itu, namun aku lebih suka dan melahap sampai tuntas sajak sajak ringkasmu.
Dari beberapa catatan harianmu di awal-awal halaman rumah 4 ini, aku suka puisi yang kau tulis –Bone 14/01/1999
SEBERAPA jauh kuda waktu
Mampu membawaku di pelana?
Oi, anak sulung tanpa ayah,
Beradik dua, ibumu sudah tua,
Cepat sekali kau tujuhbelas!
Mengapa anak-anak itu
Tak mau meninggalkan mainannya
Dari pekarangan di dadamu?
Lagi-lagi – Bone 14/01/2003
AKU hanya menginginkan
Ulang tahunku yang ketujuh
Pesta kecil tak perlu kenangan
Tentang hujan dan perempuan
Yang nafasnya pernah membantu
nafasku memadamkan nyala lilin
Aku hanya menginginkan
Hadiah mainan dan buku kosong
Banyak perihal perih mau aku gambar
Catatan harian pada saat kau ulang tahun, dan aku suka catatanmu yang di tulis di Bone, karena Bone tanah kelahiran, juga Bone mengingatkan aku akan seseorang, pada Lelaki masa laluku.
Hampir semua puisi yang ada di rumah ke 4 ini, aku suka. Apa memang sengaja MAM memasangnya di akhir, supaya kelelahan panjang melahap di rumah-rumah terdahulu, jadi ringan di bab akhir.
Salah satu yang aku suka “Baju Penglaris”, tersenyum aku dibuatnya, sajak cibiran nan getir, ada permainan nakal di akhir puisinya. Kukutip sebagian :
……………………………………….
“Ini memang mahal, Tuan.
Safari bersaku banyak, membuat
fasih berbohong dan berjanji.
Hanya beberapa bulan dijamin
uang kembali. Beli satu ada bonus
rumah dan kendaraan dinas
juga perempuan simpanan
kalau Tuan mau”
………………………………………………………….
Lukman nampak tak tertarik
Pada gadis pelayan ia berbisik,
“Ada yang buat lelaki kesepian, Dik?”
Gadis pelayan tersenyum
“Maaf Tuan, ini toko pakaian,
bukan toko mainan”
Senyumanku berbarengan dengan Linger by Cranberries yang mengalun ringan.
Ada lagi kutipan catatan harian yang ditulis :
-minggu 8/10/06
BUNGA-BUNGA kuning
ranting dan daun kering
berserak di setapak
bagai kenangan
siap dilupakan
-jumat 13/10/06
DI SETIAP bab terakhir
aku dikhianati Sang Pengarang
Ia tak pernah menepati janji
membayar lembar uangku
dengan selain kesedihan
Disamping berisi catatan harian, ada lagi bentuk sajak dalam rumah terakhir ini yang aku suka, ada 4 judul yang bentuknya hampir sama, masing-masing adalah : Sejarah mata sejarah waktu ; Sejarah mata sejarah jarak ; Sejarah mata sejarah kata ; Sejarah mata sejarah arah
……………………
SEBELUM ada mata
waktu adalah batu
………………………………………
MATAKU tak mengenal matamu
Jarak adalah matahari, jauh tak terjangkau
…………………………………………………………….
AKU intip matamu
di siang hari
berserak huruf-huruf
seperti kering dedaunan
akan bersatu jadi tanah
……………………………………………….
MATAMU lengkap jadi mataku
Yang manakah arah
Selain yang satu?
-kita adalah arah
Akupun terpukau pada deretan makna yang berbaris di lukisan sajak yang berjudul “Sesaat setelah kapal bersandar”
……………………………………
Inilah petualangan terakhirku, Ibu
setelah semua dermaga yang pernah menerimaku
tidak lebih lidah perempuan-perempuan nakal
Menjilat lalu muntah sambil mengumpat-umpat
Tak tahan pada kerat-kerat
dagingku dan keringat pekat
yang kusuling dari mata air susumu
MAM aku mengais tanah harapan masa lalu di bukumu tentang asal usulmu dari Angin Mamiri yang datang mengalir dari timur ke barat di sajak-sajakmu, dan baru kutemukan pada sajak yang berjudul “Teluk Puntondo, Suatu Senja”.
MENJELANG petang, langit belang-belang
Seperti ingatan seperti kenangan
Ungu-biru-ungu-biru-ungu
Dedaun bakau yang hijau dan payau
Aku dengar seperti kau berceracau
Pergilah kau!
Pergilah kau!
Lupakan aku!
Ah, sampai sekarang aku tak dapat melupakan lelaki dari Angin Mamiri itu datang, dia kisah lama penuh kenangan yang terlalu susah untuk dihapus walau oleh tipp ex yang paling modernpun. Love of my life by Queen dengan dentingan piaonanya yang khas mengalun bercampur samar-samar lagu Angin Mamiri yang di dendangkan si cantik Andi Meriem Matalata menambah senja di teluk Puntondo, semakin membentang, memanjang lalu menjelma bayang-bayang.
Di awal dan akhir buku ini ada 2 sajak, namun aku suka sajak yang ada di akhir buku yang berjudul “Lubang Untukmu”
……………………………………….
Aku ingin jadi lubang tanam bagi mayatmu
Agar kau dan aku bisa sempurna menyatu
Ada beberapa puisi MAM bertema tentang perjalanan hari tua dan kematian, di sajikan dengan perih namun dalam, mengingatkan aku tentang akhir kehidupan yaitu mati.
Pertemuan sepintas pada awal lauching buku MAM di Graha Cipta II, TIM, tempo hari membuatku sedikit kecewa, karena MAM terkesan mengasingkan diri dari penikmat puisi, padahal ada banyak tanya di kepalaku yang ingin kusampaikan pada MAM saat itu, namun penyair satu ini menyendiri di sudut keramaian dan memilih diam dan sunyi.
MAM kau memang penyendiri atau ada hal lain yang menyebabkan dirimu menarik dari keramaian ? padahal sajak-sajakmu itu ramai, jarang aku jumpai kesendirianmu di permainan kata-katamu, walau ada juga sajak yang berbicara batinmu. Tapi jiwa muda dinamiknya itu bergerak bagaikan tiupan angin mamiri.
MAM, suatu kelak ketika dentangan waktu merambat ke barat dan masih ada tersisa kata-kata di keranjang untuk kau sajikan di buku ketigamu nanti,aku ingin MAM yang hangat, terbuka menyambut penikmatmu dalam sajian sajak-sajakmu.
Cuma satu aku pesan , buatkan aku sajak pendek tak lebih dari 4 kata dalam sebaris namun terdiri dari 7 bait yang sarat makna dan kuatnya roh (halah ! cerewet ), daripada aku kau buatkan sajak cermin , aku lelah MAM menangkap rohnya !, dia keburu pergi jauh, metaforanya tak ada sama sekali, kering!. (maafkan aku MAM!, ini hanya gurauanku saja untukmu, jangan kau anggap serius! Aku takut nanti buku ke tiga kau tetap akan menyendiri dan terasing padahal kau mampu!)
Salam damai dari Bogor, sore ini hujan deras di sabtu tanggal 12/04/2008, tepat 2 hari setelah hari kelahiranku.
Aku dapatkan bukumu dari pinjaman dimas Bayu Lukman yang ganteng itu (makasih bro !), karena pada awalnya terus terang aku tidak begitu tertarik dengan puisi bagaikan cermin tadi, namun membuatku penasaran, maka kupinjam dari dimas Bayu yang dengan baik hati meminjamkan padaku untuk kukupas dan kuselami roh yang ada di setiap sajakmu itu. Walau kuakui sampai tuntas aku tidak memahami puisimu yang cermin, namun yang ada dentingan bunyi dan yang pendek dengan cekatan aku dapat menangkapnya dan menikmatinya tentunya seperti biasa harus ada lagu pengiringnya supaya enak membacanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
