Monday, March 17, 2008
Oleh-oleh dari TUK
Itu salah satu makalah yang saya terima dan baca yang ditulis oleh Kang Cunong dimana beliau ini pada waktu membuat thesis mengambil tema Puisi Digital dan itu sudah terjadi 8 tahun silam.
Dari diskusi semalam di TUK, kesan awalnya sudah amburadul adalah ketika moderator tidak memfokus memberikan ruang bagi pembicara satu persatu membahas "Apa sih yang disebut puisi Digital itu sebenarnya? atau cyberpoetry?.
Tadinya saya berharap kang Cunong bisa menjelaskan dulu sejarah CP itu 8 tahun silam sebenarnya sudah dimulai dng adanya YMS, dimana Medy juga Faruk HT telah memulainya.
Tapi disini kesannya siapa yang mulai duluan menerangkan tidak ada, malah Uda Akmal yg konsis menjelaskan makalahnya sampai tuntas.
Seharusnya sejarah awalnya itu di tangan Kang Cunong dulu, bahwa ini lho sebenarnya yg disebut cyberpoetry itu? bukan hanya sekedar memindahkan media yang akhir-2 ini lebih banyak meraja lela dng adanya milis-2, hanya sebaga pengganti media cetak, menjadi media di komputer atau milis.
Definisi yang Uda Akmal maksudkan diatas apa yang disebut CP itu adalah seperti yang ada di makalah Kang Cunong. Bagi hadirin yang hadir tadi malam, bisa dilihat pada makalah Kang Cunong pada halaman 2 dan halaman 5 yang saya kutip sebagai berikut :
"Puisi tidak lagi sederet huruf dan kumpulan kata yang bermakna tetapi sudah menjadi sebuah animasi - bentuk yang bergerak, berwarna, berbunyi, dan berlatar belakang lukisan atau foto (Budianta, 2004:191,Soewandi, 2004:248, Ridwan 2004:253)"
Pada halaman 5 disitu tertera Kominos Zervos dalam Ashok Mathur mengklasifikasikan puisi cyber menjadi tujuh jenis yakni :
1. puisi cyber disebut puisi hypertext menggunakan program hyperlink
2. puisi cyber menggunakan program hyperlink yang tidak melulu text tetapi juga image, bunyi, video dan animasi dan jenis-jenis huruf
3. puisi cyber tidak dapat diterbitkan dalam bentuk cetak
4. puisi cyber merupakan puisi bercampur dengan bunyi
5. puisi cyber dikenal juga sebagai puisi pertunjukkan seperti baca puisi, deklamasi ataupun drama puisi dan ini merupakan bentuk lama terutama dalam kesenian tradisional atau kesenian rakyat (di AS dikenal sebagai puisi yang diucapkan –spoken word poetry, di Ausi dan Inggris dikenal sebagai puisi pertunjukan – performance poetry)
6. puisi cyber adalah puisi kasat mata – visual poetry
7. puisi cyber adalah animal teks yakni penggunaan program animasi komputer – the animated text
Jadi disini sebenarnya antara pembicara satu dan satunya seharusnya saling terkait, tidak berjalan sendiri-sendiri. Seharusnya sebelum acara dimulai, baik moderator maupun pembicara itu sudah sama tahu materi yang akan dibawakan.
Kesan saya semalam kelihatannya jalan sendiri-sendiri, apalagi pada sesi Mikail ini, kelihatan bangget “aku”nya.
Forum semalam sebenarnya cukup ilmiah untuk perkembangan pembuatan CP, dan bisa menjadi pembelajaran yang selama ini salah kaprah tentang pemahaman CP.
Apa yang diuraikan Uda Akmal semalam bahwa CP itu bukan sekedar memindahkan media dari katakan media cetak atau buku, ke media internet/komputer/maya/digital, tetapi lebih jauh dari itu.
Sebuah kerja gabungan antara susunan kata seperti ulasan diatas dalam makalah Kang Cunong.
Cuma bener-2 saya sayangkan adalah seharusnya makalah Kang Cunong ini dibahas habis secara garis besar dan diberikan contoh-2 CP. Sayangnya contoh CP yang dibuat oleh Kang Nanang S pada waktu itu baru tampak di akhir acara. Padahal kalau dipikir kenapa Uda Akmal musti ambil contoh yang dari Luar soal CP (dari Korsel...emang keren abes seh !, Cuma contoh dari kang Cunong sebenarnaya sudah dapat mewakili apa itu CP, kemudian baru ditambahin contoh dari Uda Akmal, saling melengkapi lah)
Seakan-akan semalam hanya Mikail yang membuat CP, padahal kalau dipelajari sejarah CP 8 tahun lalu, sebenarnaya sebagian penyair kita sudah membuatnya, malah sudah berupa cd, yang dimotori oleh Medy Lukito dkk., termasuk Nanang dan TS Pinang.
Cuma sayangnya, perkembangan CP ini tidak digarap lebih serius lagi dan lebih modern sebagai – performance art poetry yang lebih canggih, perkembangannya tenggelam pada hingar bingar pemindahan media saja. Akibat banyak tidak dimuatnya puisi-2 di media cetak dan ada hadirin yang sempat mengatakan hanya sebagai media perlawanan terhadap hegemoni satu dan lainnya, sehingga arti CP menjadi kabur-blawur.
Ini yang bagi saya dan juga Cak Yonathan-Jo sempat berdiskusi, mengapa sesi kang Cunong tidak kuat bicara, malah kang Cunong bicara di luar kontek dari CP itu sendiri. Apa dia grogi menghadapi dominasi Mikail semalam yang kelihatan seakan-akan dia yang mulai CP?, padahal kalau dilihat contoh Mikail semalam di webnya...performance art poetry itu tidak kelihatan jelas, bila dibandingkan contoh yang diambil dari cdnya kang Cunong dan Uda Akmal. Kebanyakan memakai hyperlink saja.
Dan ada catatan khusus buat Mikail, tentang semalam adalah sikap dia terhadap bangSaut. Pada awal TUK mengadakan undangan soal cybersastra dng pembicara ANB dan Kang Cunong, dia sempat sengit dan mengatakan mas Guntur dng bahasa kumpeninya dia yang bagi aku tidak bermutu, mengapa tidak mengundang bang Saut. Eh, lha kok dalam perjalanannya malah dia yang jadi pembicara (dan ini sempat dipertanyakan oleh cak Yo-jo semalam tentang sikap dia) dan yang membuatku tidak menjadi nyaman lagi adalah kok dia jadi merendahkan bang Saut tidak bisa membuat poetry art digital. Apa ya iya bang Saut tidak bisa? (saya tidak membela bang Saut atau TUK, tetapi saya membela konsistensi dlm bicara). Apa karena dia bicara di TUK, sehingga keluar komentar begitu? Lha kalau bang Saut kerjasama dengan orang grafis dan IT untuk menciptakan CP itu, apa ga malah punyanya Mikail yang bisa kalah saing. Mengutip seorang arif dari Madura yang lahir di Glasgow,Scotland sana mengatakan bahwa ”kredibilitas seorang akademisi adalah ketika dia konsisten-inkonsisten dengan apa yang dia bicarakan”
Untuk selanjutnya bisa saja diskusi CP ini dilanjutkan dengan lebih banyak penyair yang terlibat, sehingga pengertian CP yang sebenarnya bisa dimengerti tidak sekedar memindahkan media saja.
Dalam perjalanan pulang membelah Jakarta-Bogor, terbayang dalam perkembangan nanti mungkin tidak akan lama lagi bukannya launcing buku puisi tapi diganti dengan”launching
Album puisi digital art poetry” dari para penyair terutama penyair Apsas. Sudah kebayang kalau seandainya kolaborasi puisi Dino, kang UHK, Kang Buset di buat art digital dengan sound dj dan creativitas kata yang meliuk-liuk, ah...saya tidak peru lagi pusing menyuruh kurcaciku menikmati puisi, bisa langsung di pindahkan di IPOD atau hp, atau pc dan notebook, sehingga setiap saat ketika kangen ingin menikmati puisi Chairil Anwar, SDD, gurindamnya RHA, SCB juga yang laennya bisa dimana saja dinikmati.
Karena kedepannya mau tidak mau perkembangan teknologi akan merambah di semua bidang. Kalau pencipta lagu, penyanyi dan arranger dan RP berkolaborasi meniupkan ruh nyanyian menjadi sebuah totonan video klip kenapa syair dari penyair tidak juga bisa dikolaborasikan?
Dan membayangkan juga kalau ultah Apsas ke IV nanti sudah bisa dilombakan penciptaan Cyberpoetry bagi para apsasian.
Mungkin multiplynya apsas sekarang bisa difasilisasi mengenai dimungkinkannya cyberpoetry didalamnya hasil penciptaan anggota.
Mulai kita kembalikan CP ke jalan yang benar demikian suara yang kutangkap semalam.
Dan berharap kang Nanang S, mas Pinang dan lainnya yang sudah merintis awal CP di YMS bisa terus melanjutkan dan mengembangkannya.
Ilenk rembulan, Jakarta, 12/03/2008
Wednesday, March 12, 2008
MEMBELAH BIRAHI LAUT BAKIRIM KASUBA DI PANTAI GALALA
Sebagai penikmat dan pelahap puisi membaca puisi-puisi Dino, aku berusaha meresapi jiwanya ketika metafora kata dalam buku itu terbentuk
Terdiri dari 127 puisi yang terbagi dalam 5 bagian yaitu Haluan menuju, Narasi tanah asal, Sajak lautan ridu, Kipas lenso putih dan Jejak sunyi. Dari 5 bagian tersebut bagian Jejak Sunyi yang memuat paling banyak sajak-sajak Dino sekitar 36 puisi.
Yang menarik pada bagian pertama yaitu “Haluan menuju”, beta catat ada 13 kata “cahaya” yang termuat di 9 sajak dino. Mungkin bagi seorang penyair pengulangan beberapa kata dalam beberapa puisi hal yang lazim, tetapi bagi aku yang berusaha menikmati sajian kata yang sudah terbentuk cukup mengganggu makna yang kutangkap.
Tentu saja dalam hal ini beta hanya terbatas sebagai penikmat yang tidak berhak mengatur sang penyair menyajikan kata dalam masakan berupa sajak, namun pengulangan demi pengulangan yang terhampar dari satu bagian dan disajikan dalam urutan sajak yang berdekatan cukup membingungkan sesaat, walau pada akhirnya memaklumi saja mengapa kata "cahaya" itu harus ada di sajak tersebut.
Ketika lembaran pertama pada bagian ini, beta langsung suka dengan puisi yang berjudul “agama bunuh diri” yang dimasak pada tahun 1999 . Rangkaian kata yang diramu dengan sederhana namun sarat makna dan dalam artinya. Langsung yang terbayang adalah kobaran api yang memanas ketika Ambon pada waktu itu membara.
Lamunanku melompat pada beberapa waktu lalu, karena salah satu sahabatku sempat memberitahu, dia terjebak dengan kobaran api di kantornya.
Ah, dendam selalu menyisakan luka yang mendalam, lebih-lebih kita tak tahu dendam apa yang terjadi dan mengapa harus terjadi. Bara telah menjadi abu, puisi Dino di halaman pertama pada bagian awal ini, menggores luka menyisakan tanya.
..............
Apakah mereka mengajarkan agama Tuhan
Agar kita saling membunuh?
Kalau memang demikian
Mengapa agama melarang bunuh diri
Bagian pertama dari buku inipun banyak berbicara soal Ilahi Rabbi, kematian yang ditulis dengan metafora kata pulang, dan beberapa sajak berbicara dengan religiusnya.
Adakah Dino sedang gelisah terhadap kematian ? ataukah sedang gelisah berbicara dengan tuhanNYA? Ada satu sajaknya yang berjudul “pulang” yang cukup menawan juga menangkap kegelisahan akan kematian.
Sebagian kukutip di bawah ini , sajak ini diramu pada mei 2007 di Banda Aceh:
Ke arah manapun kau mendayung
pelayaranmu hanya menelan buih
perahu merapuh/ layar-layar sobek
nasibmu karan di gerus waktu
Maka pulanglah ke rumah cahaya
rumah yang darinya kau telah lam melarikan diri
sebelum aja menikammu dian-diam
dalam satu kedipan mata
Pada bagian ke dua “Narasi tanah asal”, terdiri dari 27 puisi yang sebagian besar bercerita soal alam, gempa Yogja juga peristiwa tsunami di Aceh dan beberapa kenangan tentang Maluku.
Ada beberapa puisi yang bercerita soal tanah asal Dino, ini yang paling beta suka. Ungkapan bahasa daerah yang terselip di sajak-sajaknya mengingatkan aku akan lambaian pantai-2 di gugusan pulang Maluku yang memang katanya terkenal indah luar biasa.
Beta jatuh cinta pada puisi Dino yang berjudul “enggo lari”, dibuat tahun 2000
.....................................
Bawa berlayar kole-kole
cari ikan, bikin api
di paparisa bikin janji, kawin lari
jadi kasih, jadi rindu
jadi kami putra Maluku
Terasa terdengar petikan ukelele sambil bergoyang ala penari hawaian….ahhhh semilir angin pantai berhembus…
Kemudian puisi yang berjudul “fragmen para leluhur” yang sarat akan beberapa istilah bahasa daerah,kemudian “menuju tanah asal” dan “nona panggil pulang” puisi ini beta baca sambil memdendangkan seperti menyanyi lagu olesio…..oh sio mama sio nona…..terasa banget ambone maniseee.
Dan di bagian inilah puisi yang berjudul “metafora birahi laut” yang kemudian menjadi ikon judul kumpulan puisi pada buku Dino berada.
Ini puisi paling bagus dari seluruh puisi yang ada di bagian kedua ini, terasa banget asinnya, ombaknya, deru angin kencangnya dan terakhir menimbulkan birahi laut yang luar biasa. Terasa badan seger basah kuyub seperti habis selancar…..(halah !!! )
Pada bagian ke tiga yang terangkum dengan “Sajak lautan rindu”, terdiri dari 21 puisi yang sebagian besar ditujukan pada nama sandi edelweiss. Nama ini cukup membuatku bertanya-tanya “siapakah edelweiss?” bunga yang aku paling suka, kata para pendaki gunung bunga lambang cinta seperti salju abadi di puncak Himalay (ah, apa iya ?).
Dino tidak salah kalau memakai ramuan kata edelweiss buat seseorang yang dia cintai, betapun sampai kini masih menyimpan edelweiss dari pegunungan Jayawijaya yang dibawa “sang pengembaraku”.
Disamping edelweiss ada satu lagi nama disebut ada dibeberapa puisi “rifa”, wah adakah memang penyair itu ada banyak perempuan di imajinasi dan realitanya ? seperti kata banyak orang? Kalau ternyata banyak, tak mengapa, karena perempuan memang merupakan salah satu ladang penghasil imajinasi ribuan kata bagi penyair (hayo, ngaku saja !).
Jadi ingat salah satu teman berbisik padaku saat setelah minta tanda tangan pada bapak penyair romantis Indonesia SDD, temanku bilang “pak SDD ini kan dulunya ceweknya banyak” . ya, iyalah….gimana tidak banyak, wong cewek itu di kasih untaian beberapa kata yang romantis langsung gimana geto , sedangkan beta sendiri pernah memraktekkan berkirim beberapa kata sejuk sms ke temen cewekku , langsung responnya “cling”, gimana seorang SDD? Dan sekarang beta baca saka-sajak Dinopun sarat dengan beberapa nama perempuan. Aahh…inspirasi yang tidak akan habis habisnya…..
Pada bagian ini beta suka puisi “antara ternate dan Jakarta” di bawah judul ada tulisan edelweiss, mengingatkan akan lagu antara anyer dan Jakarta…..hemmmm…romantis banget puisi ini…di buat di ternate feb 2007.
........
Rindu yang menggigil telah kularungkan pada setiap desahan ombak
Laut Halmahera yang fasih telah menerjemahkan aroma tubuhmu
Dino, katakan padaku rindu yang menggigil itu seperti apa? Jadi kepingin nih ? yang terbayang ketika membaca bait ini adalah iklan dari obat sakit flu yang ada rintik salju turun (ahhhhh..!)
Di samping flamboyannya Dino terhadap perempuan , dia tidak lupa membuat puisi yang berjudul “ibu”, terus terang betapun jatuh cinta pada puisi ini pendek, terdiri dari lima bait, sarat makna dalam, tiba-tiba membacanya akupun kangen almarhum ibuku.
Ibu
mimpi pasti membunuhku malam nanti
di tanah pelarian yang begini jauhakah doamu akan sampai?
Ibu
Dino, do’a ibu itu tak lenkang oleh jarak yang ribuan, selalu sampai dan sampai, itulah hebatnya do’a seorang ibu, yang membuat Dino sekarang menjadi penyair dan semoga menjadi penyair yang sukses mendulang kata di setiap do’a ibu.
“Jangan biarkan perempuan itu sendiri”, ini judul puisi yang dibacakan cak Jonathan Raharjo sambil melukis di peluncuran buku ini tempo hari. Puisi ini dibawah judulnya ada tulisan edelweis. Hem, lagi lagi edelweis. Akhirnya terjawab sudah siapakah edelweiss ini sebenarnya pada puisi dino yang berjudul “tunggu aku besok pagi”, kukutip penggalan puisinya :
Siang nanti akan kurajut layar bagi perahu yang akan berangkat
mengikat janji di lepas pantai dimana camar sebagai saksi
dibawah restu Sang Pemilik Bumi kita menikah
selembar puisi akan kutulis sebagai maskawin jadi menanda hingga saat mati
Akan kubangun istana mungil beratapkan anggrek berdinding edelweiss
kelopak putih dan ungu semerbak wangi bagi cinta yang mekar di dada
Lalu dari rahimmu kau lahirkan aditya dan nadya
buah cinta kita kita dalam dekapan bumi dalam damai dan wangi puisi
bocah-bocah lucu yang akan menemanimu saat aku sibuk, saat waktu manua
Ada satu pertanyaan yang menggelitik saat membaca puisi tersebut, adakah cewek sekarang mau diberi selembar puisi untuk maskawin? (kalau ada yang mau, enaklah beta nanti, tak perlu susah cari mas kawin buat 2 kurcaci)
Pada bagian ke empat “Kipas lenso putih” terdiri paling sedikit hanya 18 puisi, menceritakan tentang lelaki pantai dan beberapa sajak sarat istilah bahasa Maluku. Salah satu puisi yang beta suka dibagian ini adalah “kipas lenso putih” :
Hanya jika angin menggasak dahan bakau
kita saling menitipkan senyuman di jemari langit
lautan warna-warni tiang layar perahu nelayan
Ombak putih-putih ombak datang dari laut
kipas lenso putih nona manis sudah jauh
ole sio-sio sayangee
Petikan ukulele terasa bangget…padahal di kejauhan suara Celine Dion dengan lagu “shadow of love” masih mengalun di tape recorder, antara imajinasi dan realita gak klop blas, tapi sengaja beta biarkan bercampur , karena menikmati sajak sajak Dino memang terasa campur seperti alunan music antara angin, ombak , desingan daun kelapa dan teriakan nona nona manis serta suitan camar di kejauhan jadi satu.
Bagian terakhir dari buku ini terdiri dari 36 puisi yang terangkum dalam bab “jejak sunyi”. Beberapa sajak menceritakan tentang gelisah rindu, amarah yang tercekat atau kemungkinan juga gelisah tentang ’sunyinya Dino”
Puisi yang berjudul ”menghilang dalam gelap”, membuat bulukuduk ikutan menggigil, terdiri dari 4 baris kalimat , ini kutipannya :
Tiba-tiba kau sudah sebegitu menghilang pada gelap
Bayangan dan batang ara sama menghitam pada jarak
Meski rindu tak terbilang seperti bintang
Mencari nafasmu hembusan angin menggigilkan bulu roma
Ada satu puisi berjudul ”Pelayaran ke hulu ajal”, sebagian beta kutipkan :
..........
Sudikah kau mengirim perahu bila tiada percaya di binar mata
Darimana layar mengembang jika angin kau sumbat di mulut telaga
Pelayaran ini semakin mengirimkan nasib ke hulu ajal
Jika saja kau sampai nanti
Barangkali aku telah berpaling
Wuihhhh....kalimat terakhir itu lho Dino......”barangkali aku telah berpaling”...selingkuh yaaa???? ......hehehehehe
Ada satu puisi berjudul ”perempuan di tenda biru”, jadi inga inga lagunya Desi tenda biru.
..........................
Tenda biru
Puting beliung bertiupan
Dengus nafasmu aroma pelangi
Daun-daun menari geliatmu hasrat memenjara
......................
Selepas sudah beta baca semua kumpulan birahi lautnya Dino ini. Setangkup gelombang masih menggelitik di relung sudut mata. Ah, rindunya Dino...marahnya Dino...tercekat dalam kalam Ilahi Rabbi....dan gejolak riak pesisir Halmahera....semuanya dengan manise terangkum indah.
Puisi Dino telah mengirim bahasa rindu pada Maluku.
bogor, 8 maret 2008...9.00 wib
Thursday, February 21, 2008
cak bono:
setelah pagelaran ultah apsas ke 3 yang terbilang sukses bagiku, karena beberapa milis yg pernah aku datangi, ultah apsas memang lain daripada yang lain, yang bikin seneng adalah kerjasama dengan Japan Foundation itu lho ! yang bikin apsas lebih gimana geto..
bahkan ada harapan untuk ke depannya setiap ultah apsas dapat menjalin kerjasama dengan pusat kebudayaan bangsa lain sehingga apsas bener bener mendunia..karena pada dasarnya sastra itu tidak mengenal sekat negara...
di sela sehabis hayatan tgl 16 februari kemarin, aku diberi puisi oleh cak bono.
cacak satu ini kukenal sama akrabnya dengan pake Yo yg dengan tangan terbuka menjemputku pada pembacaan puisi di TUK tempo hari
kehangatan khas orang suroboyo, ini sering sms ria dngku dari serius ampe bayolan dan semuanya menyegarkan....
ah, indahnya persahabatan itu....
aq pengen ketemu dengannya tapi nggak keturutan pada ultah apsas kemarin...aq tadinya mikir dia datang, jebule...
sego bali iwak bandeng...jebule rek..gak nyambung blass..
ini puisi untukku dari cak bono
Dian Ilenk :
Tahu kopi yang paling manis?
Gulanya terbuat dari sms-mu di pagi hari
Dan air tawar yang berubah gurih
adalah tawamu yang seringkali berselingkuh
dengan waktuku
*ObonKunjungi http://cakdebono.multiply.com/
dan kemudian aku balas,
Cak Bono:
selisik malam berubah berisik
sms-mu masuk menisik
hanya sekedar berbisik
dan pagi mengeja sapa
di lembah sekolah kala mengajar
bersahut balasan parik'an jenaka
kadang bernoktah kurang ajar
*ilenk
Catatan pinggir :
semlm sms masuk mengabarkan kalau aq disuruh melihat puisi yang khusus dibuatkan untukku dari Cak bono
Cak bono ini adalah salah satu anggota merangkap moderator apsas yang seperti seribu tahun lalu sudah kukenal dekat, hanya dengan ber-sms ria (belum pernah ketemu blasss...), kami bisa berakrab berbalas parik'an suroboyoan yg selalu kurindukan...
bahkan kadang di sela dia mengajar muridnya, aq suka menggoda dng sms gendheng-2 an khas suroboyan kae...
kapan cak kita buat group ludrukan?
sego bali iwak bandeng,...ojo lali.......(halahhh!)
trim's atas puisinya
jakarta, 7.25 wib.........jum'at page hujan gerimis disini
Tuesday, February 12, 2008
lemari waktu
tahan, perih dada, tak akan menyembuhkan lukamu
pandang ke depan, ucap di bibir salam damai di hati biar keringat cepat kering
atur nafasmu, buang sial dalam kelam, dan jadikan pengalaman berharga
lari lari, cepat buang sauh ke dalam rimba sunyi
tak ada lagi penyesalan, tinggalkan senyuman
berikan tawa ha ha ha ha ha ha, lepas, lega, lapangkan parumu
tak ada lagi sumbatan keruh air selokan, yang timbuni jiwa pekat
lari lari , hempaskan badan di kapas empuk
do'a lemparkan pada ujung lembing malaikat, dan sampirkan di dada tuhanMu
ya nabi ya rasul illaihi alamin
(duduk termangu , tepuk muka adakah ini mimpi?)
:nafas terengah, jantung detak mulai teratur, lemas, letih
menutup mata sejenak, gamang menembus tetesan embun
luruh basahi tubuh
jakarta 7.25 wib
Monday, February 11, 2008
lagi-lagi pisah
kembara lara menari di jiwa
kelana lari menatap senja
inikah yang ditunggu
seperti diucapkannya pada rintik air mata
yang jatuh di pelukan rembulan
putik perpisahan di ujung bibir
tak terucap walau batin berteriak
"aku suruh mbak mien carikan jodoh "
tak ada perawan lagi menemani
empat tahun tak berarti apa-apa
bagi sang kakak sekalipun
kesadaran hadir ketika lara sudah menyatu
tak ada bait sekedar ucapan
apalagi terima kasih
semuanya dianggap sepi
siapa yang menemani di akhir ini?
siapa yang selalu membantu di kala sakit
siapa yang membesarkan hati di kala asa sudah terbalik?
siapa yang mengelus lembut hati di kala radang menyatu?
rasanya berdiri pada lembah asing
semua tak berarti apa-apa
pun sampai detik ini
tak ada ucapan sekalipun tentang keberadaanku
empat tahun waktu sia-sia
perpisahan di ambang jendela tua
kidung senja merembet di pucuk melati
harum wangi
memeluk sepi
jakarta 11.14wib
Tuesday, January 15, 2008
kecipak hati
sertijab hari jum'at, dekom berganti baju di tempat lain, dan aku sibuk mencari bunga
ah, enaknya jadi petinggi, bisa ganti baju setiap saat bila dekat dengan penguasa
ah, siapa bilang enak ? tanggung jawab dunia akhirat, siapa bilang ?
ah, buktinya banyak yang bersedia, walau berat dirasa tapi enak di tanggung
ah, yang benar saja, aku juga mau kalau ringan di berat ah susah dirangkai kata
ah....
angan menari, kapan jadi di puncak?, lebih baik jangan, enak begini, jadi orang biasa saja
tapi aku ingin, seperti apa dilayani bak raja, disegani, dicari, diumpat, dicaci juga
kalau yang ini aku tak suka, biarlah bawahan menjilat, asal kursi empuk tetap terjaga
mana nuranimu !? sudah gila mimpi kali ini
ah, bangun aku dari tidur siang, ternyata cuma mimpi, sms dari bos masuk lagi
apa sudah dikirim bunganya?
lagi lagi bunga, enak sekali tukang bunga ? dapat rezeki terus, lalu aku kapan ?
jakarta, 16.50 wib
tahun baru, tahun harapan
brapa lama aku tak kunjungi kamu?
rasanya sudah setahun, ya setahun
banyak masalah sampai kepalaku terasa mau pecah
ah, kerja itu sepertinya melelahkan
kuingin tidur panjang dan bangun di dalam istana megah
dengan seribu pelayan
rasanya tidak mungkin
tanpa terasa tahun 2008 sudah datang
tahun ini akubelum tahu langkah kaki
cintaku masih menggantung
dan janji bos untuk kenaikan gaji juga belum terealisasi
tetapi kerjaan sudah menumpuk
pemegang saham minta revisi
yang satu maunya begini, satunya lagi begono
hidup sepertinya lelah
tetapi aku ingin hidup terus
seperti Nabi Nuh seribu tahun
biar kulayari bahtera dunia
sampai di ujungnya
ujung yang mana?
adakah dunia berujung?
rasanya hanya mimpi
akhir bulan sudah harus raker
persiapan emi persiapan sudah kurancang
lelah lelah lelah
lelaki dipersimpangan semakin jauh diharap
entahlah, dimana lagi asap akan kusetubuhi?
apakah dalam mimpi
angan, realita jadi jauh menggantung
permainan masih terus digelar
entah sampai kapan berakhir
adakah perpisahan sudah dekat?
ataukah sengaja digantung
demi ambisi
demi cinta
demi kesetiaan
ah, rasanya tak semuanya
cuma hanya balas dendam
pada kehidupan
yang tak memberikan damai, hanya gelisah
aku masih menggantung nasib
entah sampai kapan ?
jakarta, 15.35 wib
