<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746</id><updated>2009-12-17T17:17:24.972-08:00</updated><title type='text'>ilenkrembulan</title><subtitle type='html'>sejenak hadir menapak tilas kehidupan, dalam pancaran harapan, ada DIA yang selalu menemani</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>92</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-997271296478779657</id><published>2009-02-02T22:18:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T22:42:25.309-08:00</updated><title type='text'>hut apsas ke 4</title><content type='html'>sejak aq bergabung di milis apresiasi sastra 2007 lalu, aq sudah suka n senang dengan milis ini yg aktif rame seperti kehidupan ini, kadang ada perkelahian, beda pendpaat dan macam-=2, kadang ada pula karya-2 ada yg bagus dan jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak hut apsas ke 3 aq udah terlibat sebagai panitia pada waktu itu mengurusi konsumsi, karena terus terang aq suka organisasi, jadi dng giat di organisasi maka akan bermanfaat, untuk apa cuma main di kulitnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada hut ke 3, aku masih belum bnyak mengenal orang, aku hanya kenal beberapa orang, namun kemudian berkembang sampai detik pada hut yang ke 4.&lt;br /&gt;ketuplak pada hut yg ke 3 mbak rita achdris memintaku untuk jadi ketuplak pada hut ke 4. aq sempat menolak, terus terang aq ini orang yg ada di belakang layar...eh suka dibelakang layar, tak mau tampil, akan bagaimana kalo tampil bisa grogi jadinya, nmun kemudian stelah berpikir dan konsultasi dengan pakde yohanes maka akhirnya aq terima juga penunjukan sebaga ketuplak setelah melalui pemilihan di milis secara terbuka. rivalku tman seperguruan di pasar malam caklul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulailah kemudian penggalangan dana baik berupa makanan sumbangan buku maupun dana fersh money. ternyata cukup alot juga dan akhrinya ya ini yg kutakutkan, aq masih nombok juga, walau puas pesta itu berjalan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bisa menghadirkan para sastrawn senior maupun yunior yg selama ini selalu ada sliweran di maya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada bang saut, mas sitok dan bahkan mereka motong tumpeng barengan, ini ndak ada rencana apapun kecuali keinginanku yang selama ini sedang berperang bisa menikmati guyub dalam suasana pesta meriah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada penyair senior sitor situmorang, mas endo pds (PDS ini sumbangan dari mas hudan, kl ga ad dia aq bakal kliyengan), pk darmadi, pak pur, pak parikesit, mas ari tamba, juga mas joko sumantri, mas tulus w, bang manaek, bang sihar, wartawans, juga banyak apsasian yg hadir, ada gita dari sby, veve, mila, fitri yg militan membantu sampe malam bungkus kado...ah indahnyaaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga kak wanda hamidah yg kuundang langsung di kitab tampangnya, hadir..wuahhhh senengnya, kang anwar, mbak anin yg pemenang novel itu, juga lainnya pengisi acara diskusi ms agus noor, mas hudan, broden juga tentunya bang saut sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luar biasa....peserta buanyak 150 orang ditambah panitia..luar biasa...walau makanan sisa, tapi akhirnya habis juga, sumbangan buku yg tadinya seret ternyata mengalir juga dari mas anton serambi juga oom kafi kurnia di akoer, terus dana juga...mengalir semuanya...walau msih harus nombok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luar biasa, sumbangan dari saudara kurawa di pasar malam yang tak henti hentinya membackupku sampai selesainya acara ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gita adikku tercinta dr sby dibelain naik kereta sayur...demi ultah apsas luar biasa, membacakan riwayat hidup di makam chairil anwar dan juga ke makam pram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin bisa dijadiin tradisi untuk mengunjungi makam para penyari besar yg mempelopori penulisan penulisan yg menggelegak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai kini msih jarang kutemui sebuah karya puisi sebagus amir hamzah, sanusi pane, juga laennya angkatan pujangg baru, mapun kemudian....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka itu ada sebuah angan sekiranya nanti pada reboan fair diadakan, aq pengen diskusi sastra itu berlanjut terus sehingga ada keinginan untuk memperbaruhi hasil karya itu terus menerus, beberapa pengisi sudah kuhubungi dan sudah bersedia sebagian, tinggal moderator....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahhh terima kasih ALLAH ..kau sudah berikan sesuatu yg berharga untuk kunikmati, walau disisi lain aq masih mengais harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada gading yg tak retak....semua ada kekurangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selasa, 3 feb 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yayayayaya sebuah acara sukses ini kan kudu ada pengorbanannya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-997271296478779657?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/997271296478779657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=997271296478779657&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/997271296478779657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/997271296478779657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2009/02/hut-apsas-ke-4.html' title='hut apsas ke 4'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-7199303559298600126</id><published>2009-01-19T17:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T18:04:56.993-08:00</updated><title type='text'>resensi kumpulan puisi Afrizal Malna</title><content type='html'>Perjalanan di Halaman Belakang, Pakaian kotor di Dasar Jurang&lt;br /&gt;                                 Oleh  ilenk_rembulan&lt;br /&gt;        Buku kumpulan puisi setebal 256 halaman ini dengan cover batik menarik dan sederhana, namun meninggalkan kesan “art” bagi pecinta seni , seolah menggambarkan sosok penyairnya yang memang selalu tampil sederhana , tetapi menyimpan energy penciptaan dan  daya kreatifitas yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepakat dengan siaran pers yang tercetak dalam undangan diskusi buku tersebut pada hari Jum’at tanggal 21 November 2007 di Cemara 6 Galery,Jakarta, saya sempat mencuri waktu sejenak dari kesibukan menyiapkan anggaran perusahaan, karena bagi saya,  Afrizal sebuah fenomena lain, tercetak di siaran pers tersebut bahwa Afrizal menawarkan sebuah strategi untuk memandang dunia secara berbeda. Di tangannya, keseharian yang ada di sekitar kita diramunya menjadi obyek puisi dengan strategi instalasi, Afrizal mengemban sebutan mesra “puisi instalasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Judul buku puisi kali ini sudah merupakan bagian dari puisi itu sendiri. “Teman-temanku dari Atap Bahasa”, mengucap judulnya saja sudah saya rasakan sentuan instalasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di bagi dalam 2 (dua) bilik, bilik pertama  berisi 28 puisi oleh penyairnya diikat dengan nama Perjalanan di Halaman Belakang, sedangkan yang ke dua terdapat 40 puisi dengan lilitan nama Pakaian kotor di Dasar Jurang yang siap mengajak pembaca menyelami goresan seorang Afrizal.&lt;br /&gt; Sejak pertama menikmati puisi-puisi Afrizal dengan bentuk yang specific dalam penulisan maupun cetak tata letak dan sepintas awalnya bagi saya agak melelahkan. Selaku penggemar puisi puisi pendek dengan alur lompatan klasik pada umumnya, membaca puisi Afrizal terasa agak aneh. &lt;br /&gt;Namun kemudian setelah membaca kata demi kata yang terangkai bagaikan pecahan tubuh keseharian, dimana Afrizal berhasil dengan indahnya seperti meletakkan puzzle di sudut sana sini, saya menemukan kejutan itu. Perasaan lelah di awal ketika hanya melihat sepintas hilang sudah, bahkan mata ini menatap terus dan berusaha menyelami masuk ke dalam, seperti seorang penyelam menemukan “sesuatu” yang terasa kemilau di kedalaman laut pada samudra luas, yang membuat hatinya turut tergerak ingin mengetahui “ada apa disana?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian I : Perjalanan di Halaman Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kali ini saya ditemani  tarian jemari Maksim menghentak suara tuts piano, mengeja kata demi kata di bagian I ini. Perjalanan dengan membaca judulnya yang terpampang di halaman depan , hembusan puisi-puisi itu sudah berbicara. Susunan pecahan tubuh itu sudah mulai terasa di awal satu puisi pembuka “50 tahun usia kuping”. Coba rasakan sejenak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kuping itu menulis seperti membaca dalam sebuah sumur yang terbalik. kuping itu menulis seperti menyalib tubuhku secara terbalik dalam sumur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu adalah daging dengan berat 2 ons. kamu adalah daging yang mendengar suara sumur yang terbalik dalam jantung manusia. kamu adalah 2 ons yang usianya hampir 50 tahun…..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sepintas seperti hanya bermain kata saja, antara satu dan lainnya seperti di bolak-balik, namun apabila dicermati, kalimat selanjutnya merupakan bagian cerita dari kalimat sebelumnya, begitu seterusnya, lompatan yang teratur antara kata di kalimat atas kemudian menjelma di bawahnya saling terkait maknanya, bukan sembarang asal tempel, layaknya bermain puzzle, mencocokkan gambar di luar dalam hal ini di luar kehidupan, dengan rangkaian penciptaan di dalam, sehingga ditemukan kecocokan gambar  bisa tercipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Hal ini yang membuat saya tidak bisa berpaling atau menutup  buku, ketika membaca bait bait puisi yang ditulis panjang. Afrizal berhasil memikat mata dan hati saya dalam bermain imajinasi yang melantun lembut seperti tuts piano yang disentuh lembut tangan Maksim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Puisi-puisinya tidak hanya mempunyai makna dalam tetapi ada cerita yang disampaikan. Pengambilan kata-katanya dari bait awal sampai akhir itu bagi saya seperti melihat sebuah lukisan. Lukisan realita kehidupan yang dia sampaikan dengan symbol dimana  mungkin bagi sebagian pembaca berkerut kening bertanya tentang maksudnya, tetapi bagi sebagian lainnya akan merasa tertarik dan menatap lama symbol itu untuk kemudian setelah diselami menemukan jawaban dan dapat tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Hal ini terasa dalam puisi yang berjudul “halaman belakang bulan Januari”, sebagian saya kutip di bawah ini, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;engkau tak bisa merekat nyanyian burung, menjelang  hujan, di halaman belakang bulan januari. hujan masih mengungsi di negeri yang lain, sejak keretamu menerjang bulan januari dari politik pisang goreng… &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Puisi  ini indah, apalagi sewaktu dibawakan berduet dengan Djenar pada diskusi hari Jum’at kemarin. Seorang Djenar yang memang menarik ditambah puisi indah ini yang katanya Djenar lahir pas bulan Januari. Luar biasa !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Permainan judul puisi-puisinya sudah menarik, ada atap bahasa yang runtuh, mesin tik merah, kipas angin manusia yang kepanasan, aku merembes ke dalam sore, sebuah gerobak dia bilang, ingatkah aku berjalan di belakang punggungmu, dan masih banyak lagi. Metafora dalam bahasa tubuh digabung dengan kesederhanaan bangun dalam susunan katanya, membuat puisi Afrizal tak lelah untuk dijelajahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Saya contohkan disini, puisi berjudul “black box”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;nabi. Kalau n diganti dengan b, dia menjadi babi. tidak nabi. kalau b diganti dengan n, dia menjadi nani. tidak babi. black box. kalau b diganti dengan p, dia menjadi napi. tidak nani. kalau n diganti r , dia menjadi rabi. black box. tidak napi. kalau b diganti dengan s, dia menjadi nasi…..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kesederhanaan dalam puisi di atas, sekilas bermain hapus dan ciptakan kata (apa ini alasan juri KLA tidak memenangkan buku ini), tapi ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh penyair ini, pada lanjutan puisi tersebut di bawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;black box, sayangku. pohon kamboja itu ada 5 meter di depan kita. black box. tapi setiap kata yang kita tanam, jaraknya tak terukur. lebih jauh jarak dari musim semi dengan seekor keong yang berjalan di atas lidah kita. black box : nabi, babi, nani, napi, rabi, nasi, nari…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak tahu bagaimana kata-kata menciptakan kembali manusia seperti speaker dalam kobaran api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;black box.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Lihatlah ! bagaimana tiba-tiba dia menyelipkan kata speaker kemudian menggulungnya dalam kobaran api. Pembaca akan mereka-reka apa yang dia maksud ini? Adakah yang tahu makna “speaker dalam kobaran api “? Yang terbayang disela pikiran saya adalah lidah sapi panggang saus BBQ dalam kobaran api, tentunya lezat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Satu lagi puisi yang berhasil memikatku lebih menikam, puisi ini sepertinya dipersembahkan buat sahabatnya Radhar ketika beberapa waktu lalu terbaring sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Entahlah, ketika membaca kata-kata yang tersusun ini , saya seakan berlari tergopoh-gopoh seperti menyusuri lorong rumah sakit dengan ketergesaan penuh kepanikan. Afrizal bisa membuat saya malam ini berkeringat sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Soda susu dan bahasa Indonesia buat radhar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku minum soda susu bersama teman-teman. dan teman-teman minum soda susu bersamamu, radhar. meja tempat kita minum seperti gedung rumah sakit yang sudah ditinggalkan. kini jadi bangunan tua. sisa-sia jarum suntik telah berkarat. pisau-pisau bedah tak mau berkarat, seperti menjagamu agar tak ada kawat berduri dalam tubuhmu……..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir puisi ini , penyair menulis dengan penuh “rasa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ini mentega, radhar. dan ini diriku. aku tak tahu, berapa yang harus kita bayar untuk menyewa hidup ini. aku tak tahu, hujan yang mana yang akan membuat box pakaian yang pernah kita kenakan. udara di bawah dagu kita, dan kilauan air di lantai.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bait-bait kata di atas seperti mengingatkan pada kita semua, bahwa betapa pentingnya arti “sehat” itu , lihatlah “aku tak tahu, berapa yang harus kita bayar untuk menyewa hidup ini”. Ya, ketika kita jatuh sakit, harus siap sediakan berapapun untuk menyewa kembali hidup kita, siapa tahu yang punya “rumah” tubuh ini akan mengambilnya tanpa mau menyewakan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II : Pakaian kotor di dasar jurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada bagian II ini, puisinya lebih seperti membaca cermin (cerita mini). Kreatifitas pada kata yang berjiwa pada bagian ini begitu kuat, sehingga awalnya saya sempat mulai mengkhawatirkan bahwa saya tidak dapat menikmati lekuk lekuk pada tubuh puisi Afrizal yang sudah terlanjut saya nikmati di bagian I tidak saya temui. Namun perkiraan ini meleset, semakin lama saya telusuri lekukan tubuh puisi itu, semakin dalam saya bisa menikmati permainan Afrizal dalam memberikan “sesuatu” bagi jiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada cerita dari atas sampai bawah dalam batang tubuh puisi itu, antara baris satu dan selanjutnya seperti rangkaian awal dari cerita pendek, ataupun novel. Afrizal tetap konsisten menciptakan guratan pinggul pada batang puisinya, walau itu ditulisnya panjang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kutipan sebagian puisi berjudul “apakah kamu masih sekolah, jilan “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;saya ingi menggambar wajah ayah. tapi bagaimana saya bisa menggambar wajah ayah, karena saya tidak pernah bertemu ayah. apakah ayah terus berjalan bersama hujan ? setiap saya bertemu sungai, saya seperti sedang memandang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Apakah kamu masih sekolah, jilan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 + 1 = 2. ibu guru terbuat dari ayam goreng. 2 +2 = 4. bapak guru membuat gunung dari gula jawa. 7 + 4 = 9. itu sudah berlebihan, ayah jilan mau beli donat. saya bosan sekolah. saya tidak boleh belajar membaca dengan menari. saya harus belajar membaca dengan berteriak. saya tidak suka duduk di kursi. saya hanya ingin menggambar robot di lantai. saya bosan di sekolah karena harus selalu menggambar gunung. saya berlum pernah melihat gunung. gunung itu seperti roti dengan isi coklat dan kacang. saya ingin masuk ke dalam kepala ibu guru………………….&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Saya jadi teringat waktu masih SD dulu selalu seragam bila ibu atau bapak guru menyuruh menggambar. Kalau menggambar gunung, ada dua lekukan gunung di tengahnya ada gambar matahari , ada mata dan garis-garis berdiri. Kemudian ditarik lagi garis menyamping di bawahnya gambar jalan dan sawah petak-petak, dan anehnya semua teman-teman yang lain menggambar sama bentuknya. Apakah anda pembaca mengalami seperti yang saya alami dulu ini ? &lt;br /&gt;Saya merasakan memang saya belum pernah melihat gunung, pun  ketika hobby mendaki gunung kala SMA di Surabaya dulu , dari jauh G. Welirang dan G. Arjuna di Pandaan itu sekilas seperti gambar waktu SD, sehingga sayapun meng-amini gambar waktu SD tentang gunung itu hampir benar. Lalu bagaimana dengan gunung yang berdiri sendiri semacam G. Rinjani, G. Kelud , dll. Ah, ulasan ini jadi ngelantur ke gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Judul-judul puisinya sudah mengundang keingin tahuan pembaca. Aku pulang bersama matahari sehabis hujan, pohon jambu yang patah, pidato bunga-bunga, korek api di atas bayanganku, kepalaku tidak terbuat dari kecelakaan , seperti apakah januari itu bangkai sapi dalam telur dadar dan banyak lagi. Judul puisi yang panjang sepanjang isi tubuhnya, dan bisa dilanjutkan sebagai sebuah cerita mini ataupun cerpen . Bisa juga berkembang menjadi sebuah novel. Kenapa tidak ?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan sebagian  “ aku pulang bersama matahari sehabis hujan “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kaos yang akan aku pakai telah selesai kucuci. matahari sehabis hujan, seperti berjalan bersama-sama para pengantar jenasah yang baru saja pulang dari sekolah. aku tak tahu siapa yang telah dikuburkan dan aku tak tahu siapa para pengantar jenasah itu. kaos yang akan kupakai kini telah kering. dan aku mulai mengenakannya. tubuhku seperti menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku buka kaosku kembali. ada bekas tanah pada bagian bahu kaos itu. juga ada seorang guru yang terbakar di depan papan tulis. aku tak tahu guru itu mengajar siapa. aku juga tak tahu tanah itu dating dari mana. aku mengira kaos itu pernah terjatuh ditiup angin saat guru itu mengajari tanah untuk tidak menjadi api&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku membantah mungkin kaos itu ikut mengantar jenasah yang dikuburkan saat matahri sehabis hujan. tidak mungkin tanah yang memakai kaos itu untuk berjalan-jalan di sore hari. aku tidak mau menduga kalau tanah itu tanah kuburan yang memakai kaosku saat jalan-jalan di sore hari&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Puisi di atas tersebut terdiri 5 bait, yang empat bait panjangnya seperti di atas. Hitunglah ! berapa baris dalam satu bait itu. Antara rangkaian bait di atas dan selanjutnya merupakan satu kesatuan yang membentuk lingkaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Afrizal mengulang cerita pada bait berikutnya yang sebagian berisi penggalan dari bait sebelumnya atau di awalnya. Begitu seterusnya, seakan pembaca diingatkan bahwa batang tubuh puisinya itu tidak sekedar menulis runtut dari atas ke bawah lalu selesai, tetapi seperti dia bercerita tentang dari awal sampai akhir, namun mengingatkan sebagian di awal itu merupakan buntut dari akhir ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menafsirkan seperti kehidupan ini. Kejadiian yang kita alami dan jalani merupakan sebagian dari akibat perbuatan kita sebelumnya dan begitu seterusnya , kehidupan kitapun dipengaruhi oleh sekeliling kita, alam dan manusianya yang sebagian perilakunya baik langsung dan tidak langsung ikut mempengaruhi perjalan hidup kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi di atas itu awalnya menceritakan kaos  yang sudah kering yang akan dipakai, kemudian ada jenasah yang dikubur dan pengantarnya, lalu tiba tiba di kaosnya ada tanah menempel, guru yang terbakar dan seterusnya, bahkan kemudian timbul kecurigaan antara kaos dan jenasah serta kuburan itu ada sangkut pautnya, begitu juga kehidupan ini. Bisa jadi salah tafsiran saya, namun sebagian besar puisi puisi Afrizal dalam bagian II ini kental seperti itu. Semakin ke dalam membacanya, seperti membaca cermin hidup ini secara tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada puisi yang berjudul “rendra diarea lubang bahasa”. Puisi ini panjang terdiri dari 9 bait namun tiap baitnya terdiri minimum 5 baris dan penuh makna. Masing-masing bait itu sendiri sudah kuat dalam penyampaian isinya, seandainya dia berdiri sendiri sudah merupakan sebuah puisi, namun kemudian dirangkai selayaknya seperti membaca sepotong buku harian seorang Afrizal  tentang penyair Rendra dalam perjalanan yang dia kenal , sehingga menghasilkan satu tubuh puisi yang begitu kuat bagai pohon beringin (ini tidak dalam rangka kampanye lho ya !)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya suka sekali dengan penggalan kalimat di bait 8 “&lt;strong&gt;dia tahu, seorang penyair hanya lahir dari sebuah atap kalimat yang terbakar. ketika jeritan bahasa membuat sepasang lubang matanya” . &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa, dua kalimat ini terngiang-ngiang dalam waktu saya yang terkejar jam tayang anggaran yang masih belum disetujui.  Ya, seorang penyair hanya lahir dari  sebuah atap kalimat yang terbakar, kalau dia lahir dari kalimat yang biasa saja, tak ada letupan dari kata yang dia susun , tak ada gelora, tak ada keliaran , tak ada “sesuatu” untuk disampaikan pada sekelilingnya, pada dunia, layaknya roket “katyusha” yang membuat Israel geram dan ada alasan untuk terus menggempur Gaza pada serangan akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surprise juga ! ternyata dalam kumpulan di bagian II ini saya menemukan puisi pendek. Judulnya “hujan pagi”. Judul pendek seperti isinya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di dekatku ada sebuah gunting. hanya sebuah gunting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ganggangnya plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar ayam rebut sekali. membuat tanah berantakan di atas tempat tidurku. seekor anaknya.&lt;br /&gt;- anaknya ---&lt;br /&gt;matanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----matanya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberiku sebuah bahasa. bahasa yang penuh dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan iringan suara Agnes Monica mengalun lembut menyanyikan “matahariku” dan teringat penulis Lelaki Ikan pengagum Zhi Yie yang juga penggemar berat lagu tersebut, saya menghela nafas terbersit pertanyaan “mengapa kumpulan puisi teman-temanku dari atap bahasa” ini tidak memenangkan KLA ? Mungkin selera juri dan selera saya memang tidak sama dalam menafsirkan sebuah puisi apalagi sekumpulan, kan sebatalyon itu. Akan banyak multi tafsir. Kok seperti tentara saja, sekilas berita Al Jazeera masih menemani saya menutup di malam hujan gerimis yang selalu mengguyur Bogor di bulan Januari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun kemudian setelah membaca berita bahwa kumpulan puisi ini dinobatkan oleh majalah Tempo menjadi ”karya sastra terbaik 2008”, sempat juga  alam pikiran say bergoyang liar “adalah penobatan ini untuk menutupi kemenangan pada perhargaan yang lain yang seharusnya juga Afrizal terima ?”  Ojo no nduso ki !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bogor, 10 Januari 2009. 23.33 wib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-7199303559298600126?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/7199303559298600126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=7199303559298600126&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/7199303559298600126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/7199303559298600126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2009/01/resensi-kumpulan-puisi-afrizal-malna.html' title='resensi kumpulan puisi Afrizal Malna'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-9152463310543286934</id><published>2009-01-12T17:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-12T17:40:29.696-08:00</updated><title type='text'>Di sini</title><content type='html'>tetapi DIA bermain tangan di sini&lt;br /&gt;DIA kibaskan rambutnya di Manokwari&lt;br /&gt;lalu diambilnya air untuk keramas di Jember&lt;br /&gt;masih belum puas di Nusa Tenggara&lt;br /&gt;DIA berendam di Kalimantan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;dibiarkan kekasihnya berlarian di pengungsian&lt;br /&gt;sementara yang lain meributkan Gaza&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DIA masih terus berbisik&lt;br /&gt;setelah ini AKU akan bergoyang pinggul&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sulawesi, Sumtera, Jawa, tunggu jam tayangnya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ilenk&lt;br /&gt;13.01.2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-9152463310543286934?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/9152463310543286934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=9152463310543286934&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/9152463310543286934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/9152463310543286934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2009/01/di-sini.html' title='Di sini'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-3160645118862889959</id><published>2008-12-29T20:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T20:28:08.278-08:00</updated><title type='text'>RENUNGAN AKHIR TAHUN</title><content type='html'>wah, berlagak menjadi adipati dalam kerajaan besr, pake judul renungan segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebenarnya ya banyak yg direnungi di tahun yg akan lewat ini, langkah tentang hakekat jati diri yg tetap dipelihara di dalam hembusan angin kantor yg semakin tidak bershabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walau pada akhirnya menjadi tersingkir, tetapi msih tetap di jalur yang benar dalam meneriakkan kebenran dan kejujuran, yng mana pada akhirnya orang akan tahu, bhwa memperingati eh mengingtkan kepda orang lain akan jalan kebenaran itu teteap harus terus dilaksanakan walau kdang menemui duri landak, namun tetep jalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rizki itu sudah diatur sma ILAHI, jadi tidak usah binun takut repot, menyuarakan kebenaran, kejujuran, walau kadang kusadari bahwa aku sendiri tidaklah bersih2 amat, tetapi setidaknya awl kehancuran bagi suatu mas itu sudah dapat diprediksi apabila kecurangan sejak awal sudah diantisipasi dan tidak berbuat begono....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahun 2009 berharap semuanya bisa berjalan sesuai harapan, karier...temans-2...rizki...dan juga cinta...(cie..iki opo tho yoooo???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya namanya berharap, berdo'a tentunya yg baik dan bagus dan nikmat......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada beberapa tugas yg menyita pikiran, disamping run off dari aa pialang juga jdi ketuplak hut apsas...weleh...juga ada pekerjaan yg sisa sisa di tahun 2008 sip menjdi beban prioritas di tahun ..eh di awal 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk run off ini, ada enaknya jadi boss di kantor, akhir tahun aku malah disibukkan membuat asumsi, kalau asumsi saja kelihatan gak ngejreng, AAP lg butuh tambahan dana 500 juta sesuai peraturn baru, ada yg mau nombokin tapi perorangan, ini bhaya juga, max kepemilikan hanya 40% supya kendali manajemen masih di asrinda begitu mauny dekom......cuma hari susah gini mana ada tambahan modal eh yg mau nambah modal bagi pemegang saham BUMN, bukankah lagi seret cash flow...???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga saja tahun kerbau....eh aku shio kerbau...bis cerah...asl ga cerangapan.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH DAN MASEHI....SEMOGA SUKSES SELALU....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-3160645118862889959?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/3160645118862889959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=3160645118862889959&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3160645118862889959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3160645118862889959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/12/renungan-akhir-tahun.html' title='RENUNGAN AKHIR TAHUN'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-8677112548676622907</id><published>2008-12-29T20:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T20:24:37.277-08:00</updated><title type='text'>Wakil rakyat wakil syahwat, Negara memisahkan mereka</title><content type='html'>Buku kumpulan puisi setebal 167 halaman yang terdiri dari 30 puisi dari A Slamet Widodo (A kepanjangan dari Aloysius), cukup mewah dari deretan buku puisi yang biasa saya koleksi. Judul cukup mengundang SELINGKUH dengan gambar grafis kuping lelaki di jewer ini, mengingatkan berita-berita infotainment tentang perselingkuhan yang marak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya sepakat dengan cukilan komentar Triyanto Triwikromo, bahwa puisi Slamet terlihat spontan, segar dan tak bertanggung jawab pada estetika, juga sastra bagi Slamet lebih menjadi media pencerahan melalui canda yang sarat makna bukan karya sakral demikian cukilan dari Nugroho Suksmanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hiburan parodi getir membalut setiap puisinya. Kehidupan sehari hari disekelilingnya menjadi hidup tergambar dengan sentilan canda dan cegek (bahasa Surabaya = kecewa) yang kadang merupakan protet diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia memasuki tema puisi yang jarang digeluti penyair-penyair lainnya, yang lebih mengutamakan estetika, menampilkan metaforik, mungkin dia cukup lelah dengan pekerjaan sehari-hari yang penuh estetika dan metaforik sebagai pengusaha, maka dia menyelami tema yang bertolak belakang dan menyoroti kehidupan nyata disekelilingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Walau membuat puisi dengan canda, tetapi dari puisi itu ternyata ada terselip kritikan, ajakan dan ada pesan yang dia kirim untuk pembacanya. Kata-kata sederhana, sentilan bikin ketawa dan kadang juga cibiran terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya kutipkan sebagian sentilan soal Selingkuh, sajak pada halaman pertama buku tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selingkuh itu&lt;br /&gt;pengkhianatan perkawinan&lt;br /&gt;karena sering saling “ahh ahh uhh uhh”&lt;br /&gt;maka disebut selingkuh&lt;br /&gt;ada pula yang bilang selingkuh itu&lt;br /&gt;“selingan indah keluarga utuh”&lt;br /&gt;tapi kalau nasib sial menjadi&lt;br /&gt;“selingan indah keluarga runtuh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajaknya yang berjudul Pornogafi dan pornoaksi banyak kata-kata sindiran buat diri sendiri dan kita semua, bahkan juga mengingatkan . Saya kutipkan sebagian,&lt;br /&gt;………………………………………&lt;br /&gt;Di zaman global&lt;br /&gt;siapa bisa mengawasi anak-anak nonton blue film&lt;br /&gt;pencet computer seisi dunia ada di sana&lt;br /&gt;sementara kita orang tua sebagai panutan&lt;br /&gt;suka memutar blue film sendiri di kamar&lt;br /&gt;…………………………………….&lt;br /&gt;Setiap sajaknya terdiri banyak bait, ada yang kadang sampai 25 bait, seperti bercerita, tetapi karena ditulis dengan gaya canda sentilan, pembaca tidak merasa berat atau bosan. Hal ini beda dengan puisi penyair-penyair serius dan berat. Dan yang membuat saya merasa terhibur , puisi Slamet kaya tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema kehidupan sekitar yang tak akan habis tergali , saya merasakan penyair sekarang banyak miskin tema. Berkutat pada diri sendiri, alam dan tubuh serta cinta melankolis yang diramu dengan kata itu-itu saja. Padahal ada banyak rangkaian kata bisa kita susun dirajutan hidup keseharian kita ini. Slamet berhasil memotret sisi lain dan meramu menjadi berbagai tema di kumpulan puisinya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak berjudul LAPINDO, seperti mengingatkan kita akan bencana lumpur itu akibat kelalaian manusia juga&lt;br /&gt;Lumpur panas itu&lt;br /&gt;muncrat dari perut bumi&lt;br /&gt;setelah beribu tahun menyembunyikan diri&lt;br /&gt;sebuah kelalaian manusia&lt;br /&gt;menghantarnya ke permukaan bumi&lt;br /&gt;lumpur panas itu marah&lt;br /&gt;lantaran daerah kekuasaanya dijamah&lt;br /&gt;…………………………………………………………………&lt;br /&gt;(diakhir puisi, penyair inipun masih sempat menyisikan senyum getir pada pembacanya), &lt;br /&gt;…………………………………………………………….&lt;br /&gt;Sidoarjo jadi Sidoancur&lt;br /&gt;kuala lumpur pindah ke jawa timur&lt;br /&gt;menjadi kuali lumpur menjadi kuala kubur&lt;br /&gt;tak masuk ke akal kita…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak masuk akal, gara-gara lumpur ini, setiap saya mau pulang mudik ke Jawa Timur harus jeli mengukur waktu. Sejak tragedi Lapindo, betapa sengsara perjalanan ini, dari  Surabaya  perjalanan darat ke Jember harus dilakukan pada malam hari kalau tidak akan terjebak macet luar biasa panjang dan lama, karena tidak berfungsinya sebagian jalur tol Surabaya – Gempol akibat terpotong genangan lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak Bencana itu bernama banjir, saya kutipkan penggalan bait di tengah, membuat saya tertawa,&lt;br /&gt;………………………………………….&lt;br /&gt;Ada yang tinggal di real estate berkata&lt;br /&gt;“dulu developer bilang dijamin tidak banjir&lt;br /&gt;sekarang bilang banjir tidak dijamin”&lt;br /&gt;dulu hanya orang tertentu punya kolam renang&lt;br /&gt;sekarang semua orang punya kolam renang&lt;br /&gt;mau meninggalkan rumah takut dijarah&lt;br /&gt;tidak meninggalkan rumah kelaparan menjajah&lt;br /&gt;developer di kelapa gading&lt;br /&gt;terpaksa iklan apartemen dengan bonus perahu karet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul-judul puisinya sederhana, dari judul bisa langsung dapat diketahui tema dan isi puisi itu. Seperti puisi berikut ini, yang saya buat judul dari resensi ini. Tema dan isinya menngingatkan kita semua akan dagelan wakil rakyat yang ketahuan selingkuh dengan penyanyi dangdut dan adegan syurnya tersebar dimana-mana yang diambil dari hpnya. Kalau mengingat itu, hati saja menangis sedih, bagaimana tidak sedih wakil rakyat yang seharusnya bermoral tinggi dan bisa menjadi contoh menyebar aroma lendir dengan wanita lain dan itu gambar berhari-hari menghiasi layar kaca, saya sendiri sampai muak, karena ada dua kurcaci saya yang juga kadang nonton berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil rakyat wakil syahwat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada wakil rakyat kita&lt;br /&gt;orangnya baik dan alim&lt;br /&gt;maka ditunjuk jadi ketua bidang kerohanian&lt;br /&gt;bahkan diprediksi jadi menteri agama&lt;br /&gt;………………………………………….&lt;br /&gt;Seorang penyanyi dangdut&lt;br /&gt;menari midat-midut&lt;br /&gt;membuat ia kepincut&lt;br /&gt;terpesona tak bisa beringsut&lt;br /&gt;……………………………………………..&lt;br /&gt;karena pingin ada memori percintaan&lt;br /&gt;sebagai bagian penting kehidupan&lt;br /&gt;karena godaan setan&lt;br /&gt;peristiwa ajub-ajuban pun divideokan&lt;br /&gt;seperti peristiwa pesta pernikahan&lt;br /&gt;sebuah video porno&lt;br /&gt;                                                    mengantar keluarganya jadi nelongso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sajak sajak Slamet tidak hanya mengambil tema disini, bahkan teropong itu jauh juga menjelajah. Pada sajak yang berjudul SADDAM, mengingatkan seorang presiden Irak yang sebagian rakyatnya mengangkat sebagai pahlawan sekaligus juga pecundang. Salah satu presiden di dunia yang berani melawan hegemoni Amerika Serikat. Saya kutipkan bait akhir dari sajak ini , silahkan pembaca mengisi jawaban dari pertanyaan di akhir baris puisi ini,&lt;br /&gt;………………………………………………………..&lt;br /&gt;Begitulah hukum alam&lt;br /&gt;yang kuat menerkam yang tak berdaya&lt;br /&gt;bush menerkam saddam&lt;br /&gt;orang yang dulu maha kuasa&lt;br /&gt;sekarang tak berdaya&lt;br /&gt;lalu bush diterkam siapa?&lt;br /&gt;ketika saddam berkuasa&lt;br /&gt;selama 30 tahun&lt;br /&gt;200.000 orang mati jadi korbannya&lt;br /&gt;ketika saddam turun tahta kerna amerika&lt;br /&gt;selama 3 tahun 650.000 orang mati&lt;br /&gt;korban perang saudara&lt;br /&gt;lalu yang lebih baik bush atau saddam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya jawabannya sama dengan wartawan Irak yang melempar sepatu kala Bush pidato di Bahdag beberapa waktu lalu, yang menggegerkan dunia dan dalam sekejap membuat otak pembuat game terpacu adrenalinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping sajak diatas, Slamet juga membuat sajak berjudul Guantanamo dan Intifada. Sajak-sajak lain tentang profesipun disinggungnya dalam berpuisi. Dokter, Nelayan, Pengacara, Hakim juga Preman tak luput dari peneropongan Slamet dalam menggali tema untuk isi puisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, sindiran atas profesi Dokter, yang oleh banyak kalangan disorot melakukan malapraktek tetapi selalu lolos dari jeratan hukum. Saya kutipkan sebagian,&lt;br /&gt;……………………………………………..&lt;br /&gt;Dokter&lt;br /&gt;di republik ini&lt;br /&gt;tak kalah pintar dari dokter luar negeri&lt;br /&gt;karena merasa pintar&lt;br /&gt;semua dikerjakan sendiri&lt;br /&gt;tak mau berbagi dengan dokter lain yang ahli&lt;br /&gt;pasien yang mustinya sembuh malah mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya rasa bersalah tak ada di hati&lt;br /&gt;yang disalahkan&lt;br /&gt;laboratorium, suster, atau pasien itu sendiri&lt;br /&gt;keluarga korban tak tahu hal ini&lt;br /&gt;keluarganya terbunuh mati&lt;br /&gt;malah mengucapkan terima kasih atas malapraktek ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat almarhumah istri boss yang meninggal 3 tahun silam setelah menjalani operasi pembuluh di jantungnya, kabarnya  pada waktu itu tensi beliau sedang tinggi, tetapi dokter tetap melakukan operasi, hanya dalam hitungan jam setelah operasi besoknya meninggal dunia, setelah sebelumnya  beberapa hari dirawat. Biaya operasi menghabiskan 150 juta rupiah. Kalau memang kematian sebuah takdir, seharusnya tanpa operasipun almarhumah pasti akan meninggal, tak perlu bersedekah pada dokter dan rumah sakit. Kalau kemudian meninggalkan teka-teki adanya dugaan malapraktek, keluarga menerimanya sebagai sebuah takdir, ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul puisi lainnya Sakauw,  Merokok, dan juga Viagra tak luput disemainya menjadi kumpulan kata yang menghibur juga memberikan peringatan pada pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok&lt;br /&gt;………………………………………&lt;br /&gt;Perokok pembayar setia pajak&lt;br /&gt;seharusnya ia jadi pahlawan&lt;br /&gt;triliunan rupiah disetorkan&lt;br /&gt;tapi perokok jadi hujatan&lt;br /&gt;Bila merokok dilarang istri&lt;br /&gt;bisa bikin suami maki-maki&lt;br /&gt;bila merokok dilarang Negara&lt;br /&gt;pabrik rokok gulung tikar semua&lt;br /&gt;urusan rokok memang dilema&lt;br /&gt;…………………………………………….&lt;br /&gt;Merokok itu&lt;br /&gt;membeli racun&lt;br /&gt;membakar uang&lt;br /&gt;menyantap asap&lt;br /&gt;memperkaya orang&lt;br /&gt;menuai penyakit&lt;br /&gt;membuat ketagihan&lt;br /&gt;bila mau coba silahkan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua kurcaciku pastinya tetap saya larang merokok, disamping belum punya uang sendiri, rasanya dalam pikiran saya tetap tidak menyehatkan untuk dompet dan kesehatan tubuh. Saya tetap tidak suka asap rokok, karena rokok bila tidak dihisap tenang saja berbaring di kotaknya, dia indah dipandang, tetapi kalau sudah dipakai dan mengeluarkan kepulan putih itu, maka kontan saya membencinya dan ingin meringkus dan membunuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata puisi bisa menari dalam imajinasi pembacanya. Ya, tafsiran isi puisi memang bisa menjadi racun bila penyairnya mampu meracuni pembacanya. Racun kebaikan tentunya yang selalu diharapkan juga peringatan keburukan dari pesan yang ingin disampaikan penyair pada pembacanya. Karena dimata saya penyair juga bisa bertindak seperti rasul layaknya dalam menyampaikan pesan Ilahi lewat rangkaian kata-kata yang disusunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan saya sudahi dengan hentakan lagu Goyang Duyu dari Project Pop menggema riang, seriang sajak-sajak Slamet namun meninggalkan bekas yang arif untuk diingat dan dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 21 Desember malam hari ibu, dalam cuaca mendung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-8677112548676622907?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/8677112548676622907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=8677112548676622907&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/8677112548676622907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/8677112548676622907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/12/wakil-rakyat-wakil-syahwat-negara.html' title='Wakil rakyat wakil syahwat, Negara memisahkan mereka'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-3095913465668816305</id><published>2008-12-29T20:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T20:22:04.148-08:00</updated><title type='text'>NATAL 1989, ANDUNG-ANDUNG PETUALANG IBU SEORANG PENYAIR</title><content type='html'>Kali ini kumpulan puisi yang berjudul otobiografi ([sic] November 2007) dari penyair Saut Situmorang yang berisi puisi-puisi yang diramunya dalam kurun waktu 1987-2007, dengan tebal halaman 282 dan total jumlah puisi sebanyak 184 buah, saya jelajahi dalam penerawangan mata hati seorang awam.&lt;br /&gt; Memasuki alam pikiran seorang Saut, bagi yang belum mengenal secara luas bagaimana dia memposisikan diri dalam kancah sastra kontemporer Indonesia, yang selalu berani dan konsisten di jalur perlawanan terhadap hegemoni kelompok tertentu yang selama ini berusaha untuk mendominasi sastra Indonesia, tentunya akan sangat berbeda penilaiannya dengan yang sudah mengenal tulisan-tulisan dan ucapan yang cukup membuat kuping pembaca atau mata lawannnya menadi meradang.&lt;br /&gt; Saut dalam puisi-pusinya justru terkandung nilai-nilai manusiawi pada umumnya seorang  bersikap. Kelembutan pada puisi, juga humor bernada getir dan kadang kenakalan dalam romantisme dan pemberontakan pada situasi sekelilingnya lebih dirasakan daripada seorang Saut yang penyerang dan bersuara keras.&lt;br /&gt; Dalam pengantar buku tersebut yang dia tulis sendiri bahwa ciri para penyair di dunia puisi kontemporer Indonesia periode 1990an memilih kesederhanaan bahasa sehari-hari, kesederhanaan bahasa leksikal-gramatikal sehari-hari yang lugas tidak rumit, dengan tidak mengorbankan musikalitas dan visualitas bahasa, untuk mengungkapkan realitas puitis. Bahkan dia tambahkan juga sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah Politik. Hal ini berkaitan dengan dibaginya kumpulan dalam buku tersebut dalam 3 babak yaitu Cinta, Politik dan Rantau.&lt;br /&gt; Dalam penjelajahan pertama yaitu CINTA dari 3 babak imajinasi seorang Saut, dengan diiringi petikan gitar Bahalawan menari, sajak dengan judul “tidurlah cicak”, “sajak cicak”, “boraspati”, “tenunlah bendera o laba laba” dan “cicak mabuk”, sudah membuat diriku seperti melihat seseorang membuat pot keramik. Dimulai dari sebongkah tanah liat yang kemudian ditaruhnya dalam lempengan kayu pada mesin pemutar membentuk pot keramik sesuai yang diinginkan. Berputarnya mesin dan bongkahan tanah liat yang semakin besar membentuk pot ini yang tergambar dalam imajinasi saya membaca puisi-puisi tersebut.&lt;br /&gt; Betapa makna yang tersirat dari kata “cicak” akan terasa semakin dalam seperti kumparan yang berputar semakin cepat dan berakhir dengan klimaks setelah selesai membaca keempat syair tersebut.&lt;br /&gt;Saya kutipkan pada sajak pertama di akhir bait tertulis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cicak cicak di dinding dinding&lt;br /&gt;tidurlah&lt;br /&gt;tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian pada syair ke dua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hormatilah cicak cicak di dinding rumahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang ke tiga ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata kata terbakar lilinlah makananMu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ke empat ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu berpawailah di sekeliling langit langit kamar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cicak mabuk di dinding&lt;br /&gt;bayangannya menari sempoyongan di lilin kamar&lt;br /&gt;mengikuti gitar Lightning Hopkins&lt;br /&gt;dan hei, bukankah itu Li Po yang baru datang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran seperti kehidupan ini, mengikuti siklus yang dipelajari dalam mata rantai makanan pelajaran biologi, yang kemudian dihubungkan dengan watak manusia lewat pengertian bahwa di atas langit masih ada langit begitu seterusnya, kegetiran dan kegembiraan datang silih berganti walau tidak seperti yang diharapkan bahkan kadang memabukkan sejenak, menjadi orang lain dalam diri sendiri.&lt;br /&gt;Kelembutan penyair ini kutemukan dalam beberapa puisi bahkan kadang tergores muram dan getir. Pada puisi yang dia buat setelah kawannya dari Kanada meninggal dunia dengan bunuh diri menggantung di kamar mandi di Medan. Syair itu berjudul “untuk Bill Russon, Medan, Oktober 1988”. Suara Daniel Powter menyanyikan Bad Day lamat-lamat  menemani saya menyelaminya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kematian&lt;br /&gt;seperti ular juga mengganti kulitnya&lt;br /&gt;dia jadi malam di kotamu yang gelap&lt;br /&gt;dengan rakus dia makan bulan &amp; bintang bintang yang &lt;br /&gt;menyerah tak berdaya&lt;br /&gt;dia makan juga lampu lampu neon di hotel hotel&lt;br /&gt;jalan-jalan utama kota &amp; lilin lilin redup gubuk gubuk perbatasan&lt;br /&gt;dia jadi burung malam yang menjerit jerit di langit di atas &lt;br /&gt;rumahmu&lt;br /&gt;jadi derak pintu &amp; jendela yang tak terkunci rapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelembutan dan kegetiran juga tergores dalam puisinya yang berjudul ”Natal 1989”. Saya katakan sejujurnya puisi ini sangat kuat menggambarkan kerinduhan seorang anak terhadap ibunya yang sudah lama meninggal, hati penyair ini akan sama dirasakan oleh jutaan anak-anak di dunia terhadap kehilangan ibu pusatnya gudang rasa kasih dan maaf yang tak tergantikan, walau kita ini sekeras batu hati ini terbuat, namun IBU tetap bisa meluluh lantakkan rasa itu. Itulah alasan saya mengapa kemudian judul puisi ini saya ambil menjadi judul esai dalam memandang kumpulan puisi Saut Situmorang ini. Kali ini Michael Buble menemani dengan Home-nya, suara jengkrik di pot bunga terdengar nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari ini &lt;br /&gt;genap lima tahun&lt;br /&gt;aku tak merayakan natal bersamamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sudut ruang tamu&lt;br /&gt;yang biasanya berdiri pohon natal&lt;br /&gt;sekarang cuma ada sarang laba laba&lt;br /&gt;dan debu –&lt;br /&gt;pohon natal itu juga pergi bersamamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di gereja ada pohon natal besar&lt;br /&gt;orang orang gembira dan lilin di tangan mereka terbakar&lt;br /&gt;hari ini mereka merayakan pesta –&lt;br /&gt;bagiku genap lima tahun kita berpisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang ibu melemparkan kembang api ke langit&lt;br /&gt;dan anaknya bersorak sorak mandi hujan cahaya&lt;br /&gt;aku bersihkan sarang laba laba dan debu&lt;br /&gt;dari sudut ruang tamu tempatmu dibaringkan lima tahun yang lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca bait terakhir kepedihan itu terasa tergores dalam, saya membayangkan adakah setetes air mata di sudut mata penyair ini ketika menyudahinya? Adakah dia masih merindukan “mamak” pada setiap natal yang setia hadir? Saya rasa pasti itu, apalagi bila sejenak dalam diri ini merasakan tak punya siapa siapa, sendiri dalam hidup ini, lainnya dianggap debu. Sayup-sayup suara lonceng gereja menggema, dalam lamunan seperti ada gemerincing jejak Sinterklas menapaki awan . &lt;br /&gt; Disamping itu masih ada tiga puisinya yang menggambarkan akan jalinan antara dia dan almarhum ibunya, dalam puisi yang berjudul “andung andung petualang”, saya kutip sebagian, karena puisi ini cukup panjang dalam 19 bait,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalau kau pergi , anakku&lt;br /&gt;siapa lagi kan menghibur hati ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari panas&lt;br /&gt;angin berhembus panas&lt;br /&gt;bus tua meninggalkan kota&lt;br /&gt;aspal jalanan melarikannya selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalau kau pergi, anakku&lt;br /&gt;siapa lagi kan menghibur hati ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota berganti kampung&lt;br /&gt;sawah berganti gunung&lt;br /&gt;anak lelaki dekat jendela&lt;br /&gt;lagu petualang jadi hidup di darahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalau kau pergi, anakku&lt;br /&gt;siapa lagi kan menghibur hati ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kampung menjelma kota&lt;br /&gt;gunung gunung kembali rumah rumah&lt;br /&gt;begitulah berhari bermalam&lt;br /&gt;makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalau kau pergi, anakku&lt;br /&gt;siapa lagi kan menghibur hati ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyeberang laut menyeberang pulau&lt;br /&gt;beribu gunung kota terlampaui&lt;br /&gt;di negeri  seberang di negeri baru&lt;br /&gt;anak melangkah masuk hidup perantau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan 19 bait itu terangkai begitu indahnya, menceritakan awal dia berangkat merantau dengan dihantar hati ibu yang galau, gambaran yang terasa pilu memendam rindu dendam pada keadaan yang memisahkan penyair dan ibunya sampai kematian kemudian tiba.&lt;br /&gt;Ada catatan kaki di bawah sajak ini, memberikan sekilas gambaran tentang ”andung-andung” yang merupakan nyanyian ratapan kematian di kalangan orang Batak Toba, isinya berupa kisah hidup yang meninggal dan dinyanyikan dalam bentuk performance tunggal di hadapan jasadnya. Ternyata penyair Batak ini tetap tidak meninggalkan aroma tradisinya dalam penciptaan syair-syairnya. Bagi saya ini suatu kelangkaan, banyak penyair kontemporer Indonesia masa kini, kadang terlarut dalam hiruk pikuk kata, jarang mengangkat tema tradisi mereka sendiri dalam memperkaya khasanah penciptaan puisinya, sehingga akan melestarikan tradisi itu sendiri, namun juga akan menambah wawasan pembacanya akan berbagai ragam tradisi yang melatar-belakangi kehidupan penyair itu sendiri. Imajinasi luas tak terbatas, begitu juga ada sejuta kata yang tak sama dapat diambil dari sekeliling kita sehari hari, seharusnya tak ada kata-kata yang itu itu saja muncul di syair-syair penyair sekarang ini juga temanya, karena tradisi memperkaya tema dan kata.&lt;br /&gt; Pada puisi yang berjudul “ibu seorang penyair”, menggambarkan awal ibu melahirkan sampai kemudian meninggal dunia ditorehkan dengan kesederhanaaan kata, namun tutur bahasa pengulangan yang begitu pilu, menambah goresan kelembutan hati penyair ini terpampang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu yang menangis&lt;br /&gt;menunggu kelahirannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu yang menangis&lt;br /&gt;kesakitan melahirkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu yang menangis itu&lt;br /&gt;tak menangis lagi&lt;br /&gt;airmatanya sudah habis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang Dia tidur&lt;br /&gt;di antara rumputan di antara bintang bintang&lt;br /&gt;di langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian klimaksnya adalah puisi yang berjudul “hanya airmata dan terik matahari yang mengerti”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumput rumput sudah mulai panjang&lt;br /&gt;dan seperti rambut kusut&lt;br /&gt;merambati permukaan gundukan tanah&lt;br /&gt;yang tak lagi berwarna merah&lt;br /&gt;waktu aku datang mengunjungimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertemuan kita ini&lt;br /&gt;punya arti&lt;br /&gt;hanya airmata dan terik matahari&lt;br /&gt;yang mengerti&lt;br /&gt;…………………………………………………………&lt;br /&gt;ada yang bilang tak boleh noleh ke belakang’kalau kaki sudah beranjak mau pulang&lt;br /&gt;tapi dari jauh&lt;br /&gt;kulihat salib kayumu&lt;br /&gt;tegak penuh&lt;br /&gt;seperti dirimu waktu melepasku&lt;br /&gt;di pelabuhan dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sisi yang lain kematian binatang peliaraannya berupa kucing, mampu juga membuat penyair ini menggoreskan kata-kata mengenangnya dalam rangkaian yang indah dan menyentuh. Dalam smsnya pada saya beberapa waktu lalu, dia ceritakan bahwa kucing itu dibawa dari Medan kemudian sempat ke Eropa mengalami masa karantina 3 bulan sampai kemudian selamat di Selandia Baru. Eh, sampai di sana mati dipukul orang. Saya sempat mengira ini seekor anjing, maklum di otakku tercemar Batak kan suka anjing, tak tahu kalau ini kucing. &lt;br /&gt;Lentingan suara Mariah Carey mendendangkan We belong together berbarengan dengan suara kucing tetangga mengeong sejenak, seakan kucing itu menerima tanda saya sedang membaca sajak tentang kematian kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;elegi claudie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di atas tanah&lt;br /&gt;lembab&lt;br /&gt;terlindung&lt;br /&gt;beberapa rumput berduri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia terbaring&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulu badannya&lt;br /&gt;yang putih&lt;br /&gt;dan pirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tegak memanjang&lt;br /&gt;dari leher&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke ujung punggungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua kaki depannya&lt;br /&gt;agak terdorong ke muka&lt;br /&gt;dan kaki belakangnya&lt;br /&gt;keduanya tertekuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seolah dia sedang mengamati sesuatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua matanya&lt;br /&gt;terbuka&lt;br /&gt;terbelahak&lt;br /&gt;dan mulutnya menganga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu kuangkat&lt;br /&gt;ke pangkuanku&lt;br /&gt;badannya&lt;br /&gt;sudah dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sorenya&lt;br /&gt;dokter bilang&lt;br /&gt;nadi ke hatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pecah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seseorang pasti memukulnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besoknya aku&lt;br /&gt;kubur dia&lt;br /&gt;di atas bukit (di belakang rumah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang memandang ke lembah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wellington, juni 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipologi penulisan yang terpotong potong ke bawah menggambarkan betapa hati penyair ini membuat susunan kata-kata dengan terbata-bata seperti seorang anak kecil yang menangis dalam sedu sedannya bercerita  ketika menjumpai hewan peliharaan mati dengan sangat mengenaskan, hancur hati, dia membuat begitu jelas intonasi kata pada baris tersendiri untuk “dia terbaring”, kemudian “seolah dia sedang mengamati sesuatu” dan terakhir penyebab kematian “pecah”. Penyair ini telah memberikan “tanda” intonasi kata apabila ada pembaca yang akan membacakan puisinya, sehingga puisi ini akan semakin hidup. Kadang pembaca sering menemukan kesulitan dalam membacakan puisi penyair. Apabila tidak terbiasa baca puisi, apalagi bagi seorang awam. Namun dalam puisi di atas ini, Saut juga memberikan semacam kemudahan dalam membaca karyanya terutama bagi orang awam untuk suatu ketika dibaca di depan publik.&lt;br /&gt;   Dalam babak Cinta ini, saya justru menemukan penggambaran romantisme masa pacaran penyair ini yang dibuat dalam bentuk puisi kurang begitu dalam dan kesannya kering di permukaan dan saya rasakan agak kasar, entahlah apa karena ada penggambaran hubungan yang terlalu gamblang dalam kata-kata atau mungkin saya sendiri sudah terhanyut berkubang sebelumnya dengan sajak-sajak dia dalam hubungan dengan kemanusiaan juga tentang kehidupan yang justru digambarkan dengan kelembutan hati penyair yang selalu ada dalam gambaran saya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak  sajak yang dalam, sebagai contoh ”karena laut sungai lupa jalan pulang”, soal Gempa Yogja, “Santiago”, “penyair dan danau”, ”marilah kita mabuk”, “bocah pemancing ikan” dan sajak dia yang terkenal “saut kecil bicara dengan tuhan”.&lt;br /&gt; Bahkan dalam kejadian gempa Yogja, dia masih sempat bermain nakal dalam imajinasi dengan puisi yang berjudul “aku ingin”  kukutip sebagian , dengan lirih suara dentingan piano Christian Bautista  dalam the way you look at me mengalun sendu , &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin bercinta denganmu&lt;br /&gt;waktu gempa lewat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; di kota kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat itu&lt;br /&gt;pasti tak ada&lt;br /&gt;keluh cemas , sinar mata ketakutan&lt;br /&gt;atau gemetar kakimu&lt;br /&gt;yang membuatku termangu&lt;br /&gt;…………………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa puisinya yang menceritakan gempa ini, dan semuanya dia buat dengan pendalaman makna walau tersusun dari kata-kata yang sederhana. Bagi orang awam yang membacanya dapat ikut serta merasakan goncangan gempa itu dan sayatan pilu bagi korbannya. Bahkan saya sempat terjatuh dari kursi ternyata mor-bautnya copot. &lt;br /&gt; Dalam imajinasi kemudian dituangkan melalui bait bait puisinya, saya menemukan beberapa puisi dengan gaya bagaikan kumparan membentuk sebuah gelas kaca, berputar-putar menggelembung.  Beberapa puisinya seperti ini dalam gambaran saya ketika membacanya: ”insomania”,”sajak mabuk”, ”sajak musim salju”.&lt;br /&gt;Saya kutipkan sajak “insomania”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hampir.tengah.malam.jalan.&lt;br /&gt;jalan.kota.sudah.sepi.mobil&lt;br /&gt;kadang.lewat.lewat.mengiris.dingin.malam.&lt;br /&gt;di.kamar.sendiri.aku.mendengar.&lt;br /&gt;……………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan penulisan setiap kata yang diakhiri tanda titik, menggambarkan bagaimana kesulitan kita untuk tidur. Bagi penderita insomania akut, penggambaran kesulitan memejamkan mata terasa dalam kata-kata yang dia tulis dengan akhiran titik. Saya melihat seperti kelopak mata ini sejenak terpejam, sejenak lagi terbuka terus menerus seperti itulah kiranya tafsir saya terhadap apa yang ditulis penyair ini dengan setiap kata langsung diakhiri titik. Padahal kalau dibaca dengan membuang tanda baca “titik” tadi akan tersususn baris-baris kata puisi biasa pada umumnya, namun di sini penyair tidak hanya menyampaikan isi puisi itu namun dia juga menggambarkan penyampaian itu seperti pembaca ini mengalami juga penyakit “insomania” dengan kejelasan titik-titik dalam setiap kata yang tersusun itu. Luar biasa!&lt;br /&gt;Di sini kemudian saya menemukan sisi lain dari Saut penyair garis keras ini (sebagian teman sastrawan menilai dia begitu), rocker garis cadas atau metal kali ya kalau pada aliran musik. Namun saya tak setuju seratus persen terhadap penilaian ini. Justru dalam syair syairnya itu banyak saya temui kelembutan seorang penyair yang sebenarnya, juga rasa tanggung jawab dia terhadap pembelajaran bagi pembacanya bagaimana dia menuntun pembaca untuk dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan, apa yang ingin dia ceritakan dengan segudang petualangannya selama ini mencari kehidupan dan membentuk kehidupan dia selanjutnya. Kata baginya tidak hanya sekedar rangkaian memilah milah, menggabung gabung, tapi bagaimana kata disusun dalam kontek tradisi juga pembacaan yang diatur dengan memberikan semacam tanda bagi pembaca yang mendalami puisi puisinya. Hal ini sangat jarang saya temui pada puisi-puisi penyair lain.&lt;br /&gt; Saut yang gegap gempita dalam konsistensi pendapat dan pemikiran juga tercermin dalam babak ke dua yang berjudul POLITIK.&lt;br /&gt; Sajak sajaknya pada babak ini luar biasa, penuh tenaga dan dorongan, kuat dalam penyampai ide dan kesederhanaan kata itu berhasil membuat beberapa teman kecil saya di SMA bisa memahami mengapa seorang penyair juga harus peka terhadap kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya, tidak hanya situasi kemanusiaan, namun juga merembet pada keadaaan Negara, perjuangan kantong-kantong perlawanan yang ada di masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;”Sajak mimpi untuk Widji Thukul”, ”marsinah”, ”dari berita di sebuah majalah”. Puisi terakhir ini sempat membuat mata hati saya meradang merah dan menggigil&lt;br /&gt;Saya kutipkan sebagian dengan ditemani lolongan Celien Dion dalam the power of love,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bocah perempuan itu pecah jantungnya&lt;br /&gt;waktu dituduh mencuri perhiasan tetangga&lt;br /&gt;airmatanya cuma minyak&lt;br /&gt;memarakkan api di dada sang angkara murka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu seorang polisi membawa bocak kecil itu&lt;br /&gt;ke kantornya. lalu polisi itu menendang&lt;br /&gt;badan kecilnya ke dalam sel yang terlalu&lt;br /&gt;besar buat rasa takut di matanya&lt;br /&gt;dia tak pernah mencuri perhiasan siapa&lt;br /&gt;siapa jawabnya waktu sebuah kepalan&lt;br /&gt;tangan raksasa menghancurkan semua&lt;br /&gt;keriangan kanak kanaknya&lt;br /&gt;selamanya&lt;br /&gt;lalu perempuan kecil itu direndam&lt;br /&gt;bagai selembar sarung kotor di bak mandi&lt;br /&gt;kantor polisi&lt;br /&gt;lalu perempuan kecil itu dinikmati&lt;br /&gt;jerit kesakitannya oleh dua polisi&lt;br /&gt;yang duduk merokok di kursi yang memaku kuku kakinya&lt;br /&gt;ke semen lantai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini cukup panjang, dan membuat saya tak mampu membaca habis, karena tanpa sadar airmata mengaburkan kata-kata itu dan lamat-lamat seperti terdengar suara penyiar dalam acara buser atau jejak pembunuh entah apalagi di televisi dalam acara yang biasanya mengulas pembunuhan yang sudah dikemas menjadi barang tontonan menarik dan acara ini telah menjadi semacam ”guide” bagi lahirnya pembunuh pembunuh selanjutnya di masyarakat. Ya, acara televisi yang paling saya benci dan kurcaci saya larang untuk menontonnya, takut dia akan menjadi pembunuh dalam dunia lain.&lt;br /&gt; Kebobrokan moral, ketidak adilan dan tingkah laku masyarakat di sekeliling ini, memang tak luput dari goresan imajinasinya yang pilu dan dalam. ”sajak orang orang buangan”, ”surat bawah tanah”, ”catatan subversif tahun 1998”, juga puisinya tentang kejadian Mei 1998, ”aku adalah mayat” dan masih banyak lagi, yang begitu kuat menggambarkan situasi peristiwa yang berhubungan dengannya.&lt;br /&gt; Ada satu puisi dalam babak ini yang begitu menyentuh judulnya “inilah aku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajahku&lt;br /&gt;yang kau siarkan di media massamu&lt;br /&gt;tak perlu lagi kau memburuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah tanganku&lt;br /&gt;yang kau tuduh menulis hasutan hasutan itu&lt;br /&gt;tak perlu lagi kau memburuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah kakiku&lt;br /&gt;yang kau katakan lari dari tanggungjawabku&lt;br /&gt;tak perlu lagi kau memburuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan inilah dadaku&lt;br /&gt;yang kau fitnah penuh benci pada negeriku sendiri&lt;br /&gt;tembaklah dengan senapanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau kau berani melawan nuranimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada babak terakhir buku kumpulan ini RANTAU lebih banyak memuat puisi puisinya dalam bahasa  Inggris, yang memperjelas kalau penyair ini merantaunya di negeri  sono. Ada beberapa yang merupakan terjemahan puisi dia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris seperti “1966”, “totem”, “subversive notes 1998”, “a letter from the underground”, “imagine we were in Dili”. Judul yang terakhir ini, sebelumnya  dalam bahasa Indonesia terdapat dalam babak POLITIK ini cukup menggelikan setelah membacanya. Saya kutipkan dengan keriangan Michael Learns dalam the actor dari jauh mengalun lembut, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seandainya  kita di Dili     imagine we were in Dili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“jangan tembak, pak!     “don’t shoot, sir!&lt;br /&gt;jangan tembak!      please don’t shoot I’m an Indonesian!&lt;br /&gt;saya ini orang Indonesia!     look! here’s my ID card.&lt;br /&gt;lihat KTP saya KTP Jakarta!!!”    it was issued in Jakarta!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wah, tenane, lho sialan!     “It’s true, shit!&lt;br /&gt;ya sudah. Hayo sembunyi!                                        okay, go and hide in                          sana di Koramil.        ourheadquarters. Hurry up!&lt;br /&gt;kok  wong Indonesia ada di jalan, what the hell is an Indonesian     doing out in the street,&lt;br /&gt;pengen mati, ya! diancuk!!!” do you want to get shot dead, eh? hurry up! bastard!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 september 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya baru tahu kalau pisuh pisuhan bahasa Suroboyoan itu dalam bahasa Inggris jadi “bastard”, tapi kayaknya lebih enak dalam bahasa aslinya deh! terasa nendang diintonasinya. Dan saya bisa lebih leluasa misuhi wong bule dengan aslinya, kalau diterjemahkan kurang makyus. Dan Saut dalam puisi tersebut berupaya melucu namun getir. Bahasa sulitnya parody satire, dalam perang yang kejam selalu ada kelucuan terselip.&lt;br /&gt; Buku tebal bergambar narsis habis penyairnya ini diambil kala dia  masih imut dan menggemaskan, apakah sudah gede begini masih menggemaskan? Tentunya hanya untuk seorang Katrin Bandel hal ini masih menggemaskan dan bagi lawannya yang suka dikritik, Saut pun masih menggemaskan (barangkali?), rasanya tak habis habis untuk digali dan diselami. Bagi saya yang belum bertatap muka dengannya, walau sudah sering kontak by sms dan membaca beberapa esainya yang ditulis cukup serius, setidaknya cukup memberikan gambaran seorang Saut Situmorang yang sebenarnya mempunyai sisi bertolak belakang dengan gaya lantang bicaranya apalagi bila dia menemukan ketidak adilan dalam perjalanan sastra Indonesia saat ini.&lt;br /&gt; Di akhir buku ini ditutup dengan tiga puisinya yang berjudul  “Blues for Allah 1” , “Blues for Allah 2”, dan “Blues for Allah 3”,  puisi puisi ini sangat pendek, orang bilang walau dia pendek tapi padat berisi dan telak. Bahkan untuk puisi “Blues for Allah 3” tidak ada isinya, kosong melompong, dibiarkan pembacanya untuk bebas mau menulis apa.&lt;br /&gt;Iringan lembut Whitney Houston dalam I will always love you mengantarku menyelami dua puisi terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blues for Allah 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the sky’s so blue the kids’re playing&lt;br /&gt;then the sea rose and ate up everything –&lt;br /&gt;tsunami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blues for Allah 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the lonely moon and&lt;br /&gt;the silent night are what the&lt;br /&gt;tsunami left behind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blues for Allah 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penilaian saya akan puisi-puisi Saut yang mudah untuk dicerna pembaca awam ini, tidak terikat dengan metafora yang jelimet, namun centang perentang dalam penyampaian gagasan juga penilaian dan perlawanan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, membuat saya pribadi tak lelah menikmati puisi-puisinya. Walau ada beberapa puisi panjang dalam bait dan barisan kalimat, tetapi tidak memanjang satu kalimat oleh puluhan kata ini, sehingga bagi saya yang penggemar berat puisi yang tidak bertele-tele, terasa nyaman di mata dan di hati.&lt;br /&gt; Puisi-puisinya mewakili karakter dia sebenarnya, di satu sisi lembut, lucu dan romantis kering, di sisi lain garang perlawanan dan lantang tergores. Jadi ingat cerita Vendetta dengan lambang “V”nya yang terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, Sore hujan gerimis,minggu malam hari raya qurban, 7 desember 2008. 17.07 wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-3095913465668816305?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/3095913465668816305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=3095913465668816305&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3095913465668816305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3095913465668816305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/12/natal-1989-andung-andung-petualang-ibu.html' title='NATAL 1989, ANDUNG-ANDUNG PETUALANG IBU SEORANG PENYAIR'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-1895909201847875708</id><published>2008-11-30T17:19:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T17:26:57.547-08:00</updated><title type='text'>coretan awal desember 2008</title><content type='html'>sebentar lagi awan berganti dengan wajah baru&lt;br /&gt;banyak kenangan lalu memaksa diri berdiri&lt;br /&gt;padahal sudah menemukan sandaran empuk&lt;br /&gt;untuk sekedar melepas punggung yang menyiksa perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kali ini tahun riak terasa agak menyita pikiran&lt;br /&gt;walau cuman sedepa tak lebih&lt;br /&gt;namun cukup dalam dirasa&lt;br /&gt;kang aku sendiripun sampai hari ini suk bertanya&lt;br /&gt;ada sesuatu pada pikirannyakah yang membuat&lt;br /&gt;putih tiba-tiba menjadi hitam&lt;br /&gt;dan hitamnya lebih hitam dari lelehan tir untuk membuat jalan&lt;br /&gt;dan lekatnya melebihi lelehan coklat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dendam, benci tiba-tiba terakhir mengiringi langkah ini&lt;br /&gt;tak tahu dari mana datang&lt;br /&gt;tapi dengan helaan nafas kesabaran&lt;br /&gt;semuanya akan terkikis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesabaran ini tetap teruji sampai kapanpun&lt;br /&gt;seperti kitab suci katakan&lt;br /&gt;diam selalu emas&lt;br /&gt;diam kendalikan emosi&lt;br /&gt;diam tak peduli&lt;br /&gt;diam puncak kesabaran&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;goresan diatas kutulis buat teman-teman sejati di Kurawa gans's yang dengan kesabaran tinggi menghadapi kerikil yang cukup tajam walau bentuknya kecil....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sukses selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.35wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-1895909201847875708?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/1895909201847875708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=1895909201847875708&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/1895909201847875708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/1895909201847875708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/11/coretan-awal-desember-2008.html' title='coretan awal desember 2008'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-8005368037908157014</id><published>2008-11-30T17:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T17:18:23.066-08:00</updated><title type='text'>Rendra in Reboan</title><content type='html'>RENDRA : TAK CUKUP HANYA PEDULI TAPI HARUS TERLIBAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kreativitas seni, tidak hanya puisi, menurut Suluk Demak harus&lt;br /&gt;muncul dari `kahanan'. Kreator harus selalu berada dalam keadaan,&lt;br /&gt;tidak berada dalam khayalan, tidak dalam teori tapi masuk dalam&lt;br /&gt;kahanan itu dengan modal kepedulian. Dengan demikian dia akan&lt;br /&gt;mendapatkan pergaulan kharismatik, masuk dalam kontekstualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini tidaklah cukup, kita harus merangkul, terlibat. Dengan kata&lt;br /&gt;lain, keterlibatan itu mengakibatkan pengalaman pribadi. Kalau itu&lt;br /&gt;muncul dalam kesadaran itu namanya paradigma. Kalau hanya sekedar&lt;br /&gt;indah dan penuh rasa, itu banyak. Tapi dengan paradigma akan lebih&lt;br /&gt;unggul, apalagi jika dikaitkan dengan nilai-nilai universal. Semakin&lt;br /&gt;kontekstual, semakin tampak paradigmanya, tidak hanya wawasannya yang&lt;br /&gt;tampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian disampaikan oleh W.S Rendra ketika menyampaikan pidatonya di&lt;br /&gt;akhir acara Sastra Reboan#8 yang seperti biasa berlangsung di Warung&lt;br /&gt;Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, kemarin (26/11). Di&lt;br /&gt;awal pidatonya Rendra yang mengenakan jeans da jaket biru ini menoleh&lt;br /&gt;ke latar panggung yang bertuliskan Paguyuban Sastra Rabu Malam. Slogan&lt;br /&gt;"Banyak Pintu Menuju Sastra" dikomentarinya "Ini yang pertama menarik&lt;br /&gt;perhatian saya. Ternyata puisi terus hidup hingga sekarang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari seratus penonton memadati Wapres, termasuk Presiden Penyair&lt;br /&gt;Sutardji Calzoum Bachri, meski hujan sejak sore mengguyur berbagai&lt;br /&gt;sudut Jakarta dan sempat membuat cemas panitia. Para penonton ini tak&lt;br /&gt;beranjak dari saat acara dimulai molor jam 20.00 hingga berakhir pukul&lt;br /&gt;23.00 wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Reboan#8 kali ini menampilkan beberapa alumni Institut&lt;br /&gt;Teknologi Bandung (ITB) yang ingin berkumpul dan membaca puisi di&lt;br /&gt;acara ini. Dikomandoi oleh Slamet Widodo dan Nugroho Suksmanto,&lt;br /&gt;persiapan tampil di Sastra Reboan terus digodok dengan Kurnia Effendi,&lt;br /&gt;cerpenis flamboyan yang menghubungi kalangan alumni ITB untuk&lt;br /&gt;berpartisipasi. Penyair kondang, Acep Zamzam Noor yang sudah siap&lt;br /&gt;tampil, tidak jadi datang karena ada acara yang tak bisa ditunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain para alumni ITB, Sastra Reboan juga menampilkan beberapa&lt;br /&gt;pembaca puisi, penyanyi Fia dan geguritan (pembacaan puisi dalam&lt;br /&gt;bahasa Jawa) oleh grup gending Sri Redana Laras. Penampilan geguritan&lt;br /&gt;dari syair karya Ronggowarsito yang dipimpin Sugito ini cukup menarik&lt;br /&gt;perhatian. Para penembangnya anak muda dari yang masih SMP hingga&lt;br /&gt;mahasiswi. Bahkan salah satunya, Wulan bukan orang Jawa tapi Betawi&lt;br /&gt;asli. Di tengah geguritan ini Sutardji Calzoum Bachri tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dibuka oleh MC Budhi Setyawan, yang kali ini didampingi&lt;br /&gt;penyair Rukmi Wisnu Wardani, diawali dengan penampilan Triana&lt;br /&gt;Kumalasari, Dian Ayu dan Mhammad Nurdin. Ketiga siswa SMA Martia&lt;br /&gt;Bakti, Bekasi ini tampil penuh percaya meski ada Sujiwo Tejo dan para&lt;br /&gt;penyair ternama lainnya. Begitu juga Sasib Negaraja dari Komunitas&lt;br /&gt;Sastra Jalanan Indonesia, Gemmy Mohawk (yang juga memperkenalkan buku&lt;br /&gt;puisinya `Sirami Jakarta Dengan Cinta"), Kuntet Mangkudilaga dan Een&lt;br /&gt;Nurhaeni, mahasiswi jurusan Broadcasting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang jam 21.00, Kurnia Effendi yang akrab disapa Kef menggantikan&lt;br /&gt;Budi dan Dani untuk memandu para alumni ITB. Nugroho Suksmanto dan&lt;br /&gt;Slamet Widodo lalu tampil dalam Bincang Sastra dan Komunitas (BSK)&lt;br /&gt;tentang latarbelakang berkumpulnya alumni ITB ini. "Ternyata banyak&lt;br /&gt;alumni itb berkecimpung juga di tulisan dan syair. Lewat acara di&lt;br /&gt;Sastra Reboan ini diharapkan memberikan rangsangan pada sarjan ITB&lt;br /&gt;untuk juga bisa menyukai sastra" ujar kedua tokoh Pena Kencana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Militansi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai BSK, Kef yang masih di panggung membacakan puisi, disusul Prof.&lt;br /&gt;Danuswara yang ahli lingkungan kota dan guru besar ITB dengan dua&lt;br /&gt;puisinya "Jalan" dan "Kampung Kota'. Kemudian Teguh Haryono membacakan&lt;br /&gt;dua puisi juga, yang dikomentarinya sebagai pembacaan puisi pertama&lt;br /&gt;kali di Wapres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadjroel rahman membacakan 2 puisi berikutnya, salah satunya sering&lt;br /&gt;dibawakannya, "Dongeng Untuk Popy". Mantan aktivis ini memberikan&lt;br /&gt;gambaran bahwa mahasiwa ITB berkumpul dan mendirikan semacam komunitas&lt;br /&gt;sastra dng singkatan GAS, yang kadang juga diplesetkan menjadi&lt;br /&gt;Gerakan Anti Suharto krn pada waktu itu gerakan menentang Suharto&lt;br /&gt;bisa juga direfleksikan dengan berteriak di lapangan basket dalam&lt;br /&gt;bentuk apresiasi puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya Nugroho Suksmanto membacakan 2 puisi "Jilbab" dan "Pantat",&lt;br /&gt;diikuti Lukman SH pelukis dan penyair yang membawakan puisi "Ganesha"&lt;br /&gt;dan dibuatnya saat berusia 27 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari deretan penonton tampak penyair Dharmadi, Endah Perca, Rita&lt;br /&gt;Achdris, Imam Maarif, Teguh Esha, Eka Kurniawan, Broden pabrik_t, Purwianto dan beberapa&lt;br /&gt;aktivis sastra dari Universitas Atmajaya dan Universitas Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah pembacaan puisi, penyanyi Fia yang mengaku sejak 2004&lt;br /&gt;dibesarkan di Wapres tampil membawakan lagu "Ada Rindu Ada Cemburu"&lt;br /&gt;mendampingi Slamet Widodo. Penyair yang buku terbarunya `Selingkuh"&lt;br /&gt;ini membuat penonton cengengesan ketika membawakan puisi "Susu" yang&lt;br /&gt;di tengah pembacaan terselip kalimat `ah..mosok" dan ditirukan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Sujiwo Tejo tampil, Sadewa yang putera WS Rendra naik ke&lt;br /&gt;panggung membaca "Cinta yang Bersandar di Sebuah Perahu" dan "Aku dan&lt;br /&gt;Gitarku", disusul Rara Gendis serta alumni ITB, Krismanggolo&lt;br /&gt;membawakan puisi karya Bung Karno "Nasionalis Revolusioner".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan puncak acara, Sujiwo Tejo tak pelak membuat pengunjung&lt;br /&gt;tergelak dengan komentar nakalnya di sela pembacaan sajak dan lagunya.&lt;br /&gt;Dengan ringannya saat membawakan sajak "Anyaman" Sujiwo Tejo sempat&lt;br /&gt;mengisahkan sebagian petualangan cinta Rendra yang membuat banyak&lt;br /&gt;penyair lainnya semisal Emha Ainun Najib terkagum-kagum. Sedang para&lt;br /&gt;alumni ITB yang membaca puisi malam itu disentilnya karena ternyata&lt;br /&gt;tak berani mengambil resiko menjadi seniman murni seperti dirinya,&lt;br /&gt;yang disambut tawa pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir acara, Slamet Widodo yang berbincang dengan Sutardji Calzoum&lt;br /&gt;Bachri menjelaskan bahwa Presiden Penyair ini terkesan dengan Sastra&lt;br /&gt;Reboan. "Saya sudah mendengar acara ini, tapi belum sempat dating.&lt;br /&gt;Terus terang, acara seperti ini bagus dan dibutuhkan. Sudah&lt;br /&gt;berlangsung secara rutin menunjukkan komunitasnya hidup. Tapi tanpa&lt;br /&gt;militansi penyelenggaranya, pastilah tak akan berjalan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai bertemu di Sastra Reboan #9 tanggal 17 Desember mendatang.&lt;br /&gt;(ilenk/gie)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-8005368037908157014?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/8005368037908157014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=8005368037908157014&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/8005368037908157014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/8005368037908157014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/11/rendra-in-reboan.html' title='Rendra in Reboan'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-3122018677218981408</id><published>2008-11-26T00:46:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T00:47:25.424-08:00</updated><title type='text'>reboan november</title><content type='html'>Kota. Kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan November 1945, ada sebuah kota coba direbut dari tangan musuh.&lt;br /&gt;Bulan November 2008, siapa punya musuh? apa yang akan kita rebut&lt;br /&gt;darinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peristiwa yang terjadi dalam bulan November, ada yang&lt;br /&gt;diperingati secara luas, tapi juga ada yang diam-diam dan senyap saja&lt;br /&gt;karena banyak yang belum mengenal peristiwanya. Satu peristiwa yang&lt;br /&gt;sangat akrab adalah Hari Pahlawan, peringatan bagi kegigihan dan&lt;br /&gt;keberanian arek-arek Suroboyo ketika menghadapi Jepang pada 10 November&lt;br /&gt;1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di November ini, tepatnya tanggal 26, Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar&lt;br /&gt;MaLam) kembali menghadirkan Sastra Reboan #8 Sastra Reboan dengan tema&lt;br /&gt;"Merebut Kata", yang seperti biasa berlangsung mulai jam 19.00&lt;br /&gt;di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Reboan #8 kali ini menampilkan beberapa alumni Insititut&lt;br /&gt;Teknologi Bandung (ITB) yang dalam perjalanan hidupnya berkiprah,&lt;br /&gt;setidaknya bersentuhan, dengan dunia sastra dan seni. Mereka sudah tak&lt;br /&gt;asing lagi namanya seperti Acep Zamzam Noor, Kurnia Effendi, Sujiwo&lt;br /&gt;Tejo, Nugroho Suksmanto, Slamet Widodo, Lukman SH, Karlina Supeli dan&lt;br /&gt;Fadjroel Rachman, dan lain-lain. Ada apa di balik kemunculan para alumni&lt;br /&gt;berpuisi? bisa disaksikan dalam Bincang Seputar Komunitas (BSK) yang&lt;br /&gt;merupakan bagian dari Sastra Reboan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketinggalan, beberapa penampil lain yang pastinya akan semakin&lt;br /&gt;menyemarakkan Reboan kali ini. Jadi, silakan datang merayakan berbagai&lt;br /&gt;hal yang telah terjadi dan akan direnungkan dari November ini.&lt;br /&gt;Setidaknya, di Sastra Reboan kita bersama-sama menyapa dan mengenal&lt;br /&gt;sastra tanpa mengerutkan dahi, karena lelah sudah menjadi santapan&lt;br /&gt;sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.11.2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-3122018677218981408?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/3122018677218981408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=3122018677218981408&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3122018677218981408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3122018677218981408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/11/reboan-november.html' title='reboan november'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-5372951672912176053</id><published>2008-11-25T23:26:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T00:44:56.120-08:00</updated><title type='text'>cemburu</title><content type='html'>: balasan weny suryandari&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku disini &lt;br /&gt;aku dengar bisikmu&lt;br /&gt;walau hujan deras mengguyur&lt;br /&gt;detik ini masih kudengar dentangan hatimu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku ambil selimut biru&lt;br /&gt;menutup cemburu pilu&lt;br /&gt;agar tak menderu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku masih tetap disini&lt;br /&gt;menanti setia bisikmu&lt;br /&gt;tak perlu perih dihati&lt;br /&gt;cemburumu bukti cintaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.11.2008, 14.30wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-5372951672912176053?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/5372951672912176053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=5372951672912176053&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/5372951672912176053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/5372951672912176053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/11/cemburu.html' title='cemburu'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-6089740858661551646</id><published>2008-10-21T23:47:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T23:48:40.299-07:00</updated><title type='text'>reboan oktober</title><content type='html'>Bulan Oktober, selain ada hari-hari yang dianggap penting seperti&lt;br /&gt;peringatan milad Angkatan Bersenjata, peringatan Sumpah Pemuda, juga&lt;br /&gt;disebut-sebut sebagai bulan Bahasa. Berkenaan dengan hal itu, Paguyuban&lt;br /&gt;Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) kembali menghadirkan Sastra Rabu Malam&lt;br /&gt;atau biasa dikenal dengan "Reboan" dengan tema "Aku dan Bahasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reboan akan dilaksanakan pada 29 Oktober 2008 bertempat di WaPres,&lt;br /&gt;Bulungan pada pukul 19.00 - selesai dengan menghadirkan beberapa penyair&lt;br /&gt;seperti Awaludin, Ashar, Imam Ma'arif, Giyanto Subagyo, Heri Maja&lt;br /&gt;Kelana, Shinta Febrianny, Irmansyah, dan Pudwianto Arisanto. Selain&lt;br /&gt;penampilan mereka, Reboan juga akan membedah komunitas seni budaya yang&lt;br /&gt;cukup tua di Jakarta yaitu Komunitas Planet Senen dengan narasumber Imam&lt;br /&gt;Ma'arif dan Irmansyah. Mudah-mudahan dengan acara ini, pengunjung Reboan&lt;br /&gt;bisa mendapatkan tips dan trik hidup berkomunitas. Sebab seperti&lt;br /&gt;diketahui kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta sudah cukup pikuk&lt;br /&gt;dengan ambiens konsumerisme dan individualis yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan tema, akan tampil delapan orang ekspatriat dari Jepang,&lt;br /&gt;Korea, Ukraina, Mongolia, dan Perancis yang akan membacakan puisi-puisi&lt;br /&gt;berbahasa Indonesia. Mereka tampil berkat upaya Bung Kelinci dan Teater&lt;br /&gt;Pintu 310-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari anggota PaSaR Malam sendiri, setiap reboan selanjutnya akan&lt;br /&gt;memperkenalkan dan membedah karya anggotanya seperti Nurrudien Asyhadie&lt;br /&gt;dengan buku puisi "Beatnik dan sajak-sajak lain", Akmal Nasery Basral&lt;br /&gt;dengan kumpulan cerpen "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku",&lt;br /&gt;Johannes Sugianto dengan bukupuisinya "Di Lengkung Alis Matamu", Budhi&lt;br /&gt;Setyawan dengan "Kepak Sayap Jiwa", dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, datang dan rayakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sie Acara&lt;br /&gt;Dedy Tri Riyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB : Acara ini terbuka untuk umum alias tidak dipungut bayaran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-6089740858661551646?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/6089740858661551646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=6089740858661551646&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/6089740858661551646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/6089740858661551646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/10/reboan-oktober.html' title='reboan oktober'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-3558270350799424593</id><published>2008-10-21T23:44:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T23:47:12.563-07:00</updated><title type='text'>puisi lapindo dimuat di kompas.com</title><content type='html'>http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/18/14002696/puisi-puisi.ilenk.rembulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi Ilenk Rembulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/Sabtu, 18 Oktober 2008 | 14:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapindo Satu&lt;br /&gt;      : bude Umi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua ramadhan sudah berlalu&lt;br /&gt;ini ramadhan ke tiga&lt;br /&gt;adakah gema takbir di ujung sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapindo Dua&lt;br /&gt;        :bulek Menik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jemari menyisir sahur di ujung rambut&lt;br /&gt;tetesan peluh menakar gelas kosong&lt;br /&gt;adakah mukena bersih yang masih tersisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapindo Tiga&lt;br /&gt;         :guru Tono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keluh menghimpit &lt;br /&gt;di ujung tumpukan buku&lt;br /&gt;jemari menghitung &lt;br /&gt;papan tanpa tulisan&lt;br /&gt;menunggu bagdo buka&lt;br /&gt;masih adakah bingkisan datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapindo Empat&lt;br /&gt;            :ustadz m.arifin ilham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lafal dzikir bergema&lt;br /&gt;gelegak lumpur mengiringi&lt;br /&gt;lambaian tasbih menari&lt;br /&gt;jeritan puasa berjama’ah&lt;br /&gt;sudahkah kau kirim tahajud padaKu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapindo Lima&lt;br /&gt;            :tuanku bakrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keranjang parcel masih terhidang&lt;br /&gt;lipatan sarung dalam jutaan&lt;br /&gt;kuketuk selembar hatimu  &lt;br /&gt;sudahkah kau kirim zakat untukKu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 9.10 wib, 16 september 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-3558270350799424593?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/3558270350799424593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=3558270350799424593&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3558270350799424593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3558270350799424593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/10/puisi-lapindo-dimuat-di-kompascom.html' title='puisi lapindo dimuat di kompas.com'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-1550902975148061604</id><published>2008-09-24T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-24T01:14:37.804-07:00</updated><title type='text'>riyoyo (2)</title><content type='html'>riyoyo sediluk maneh&lt;br /&gt;duwet gak gablek nang dompet wes entek&lt;br /&gt;arep tuku tuku &lt;br /&gt;tapi gak ono sing digawe tuku&lt;br /&gt;sidane cuma mlaku mlaku&lt;br /&gt;ngertiyo ngene sluku sluku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.25wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-1550902975148061604?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/1550902975148061604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=1550902975148061604&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/1550902975148061604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/1550902975148061604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/09/riyoyo-2.html' title='riyoyo (2)'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-3066817122768643523</id><published>2008-09-24T00:38:00.000-07:00</published><updated>2008-09-24T00:40:50.791-07:00</updated><title type='text'>attakhiyat akhir</title><content type='html'>sudah ribuan sujud terurai&lt;br /&gt;makan sahur dengan do'a&lt;br /&gt;ini lebaran ketiga&lt;br /&gt;akankah lumpur surut bersama takbir?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(do'a bulek karsih pada hamparan hening malam di tenda pasar sidoarjo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.55wib...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-3066817122768643523?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/3066817122768643523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=3066817122768643523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3066817122768643523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3066817122768643523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/09/attakhiyat-akhir.html' title='attakhiyat akhir'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-6928861252792495769</id><published>2008-09-22T19:38:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T20:46:46.078-07:00</updated><title type='text'>mudik</title><content type='html'>riyoyo sediluk maneh&lt;br /&gt;duwek sek durung gablek&lt;br /&gt;rego rego wes pating gemledak&lt;br /&gt;eh, podo munggah munggah terus&lt;br /&gt;balapan karo kuwalek karo discount klambi&lt;br /&gt;sijine naik ke puncak nggunung&lt;br /&gt;sijine turun 75%&lt;br /&gt;beli satu gratis satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riyoyo opo mangan klambi anyar tok?&lt;br /&gt;gak kate mangan liyane&lt;br /&gt;kupat karo opor&lt;br /&gt;sambel goreng ati&lt;br /&gt;atine sopo sopo sing loro ati&lt;br /&gt;mumet nek ngene rekasane&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riyoyo riyoyo&lt;br /&gt;jare cak kandar&lt;br /&gt;opo riyoyo lewat ngomahmu?&lt;br /&gt;aku dewe yo sek gak ngerti&lt;br /&gt;opo riyoyo tahun iki lewat malah mlebu mampir omah&lt;br /&gt;mending ngenteni ngarep gang ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riyoyo riyoyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.55 23.09.09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-6928861252792495769?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/6928861252792495769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=6928861252792495769&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/6928861252792495769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/6928861252792495769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/09/mudik.html' title='mudik'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-7140628734391329920</id><published>2008-09-16T20:43:00.000-07:00</published><updated>2008-09-16T20:45:03.855-07:00</updated><title type='text'>pikiran liar</title><content type='html'>1000 dzikir&lt;br /&gt;lebihkan !&lt;br /&gt;1000 takbir&lt;br /&gt;kumandangkan !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1000 parcel&lt;br /&gt;bagikan !&lt;br /&gt;sisakan satu&lt;br /&gt;buatKu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, 10.50wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-7140628734391329920?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/7140628734391329920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=7140628734391329920&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/7140628734391329920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/7140628734391329920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/09/pikiran-liar.html' title='pikiran liar'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-3209296352090680882</id><published>2008-09-14T18:17:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T18:18:07.399-07:00</updated><title type='text'>JawabNya</title><content type='html'>ada yang&lt;br /&gt;pulang&lt;br /&gt;menyatu&lt;br /&gt;dalam &lt;br /&gt;jiwa&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;menapak&lt;br /&gt;tanah&lt;br /&gt;menimbun&lt;br /&gt;jelaga&lt;br /&gt;dalam hitam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;dia yang&lt;br /&gt;tersenyum&lt;br /&gt;menengadah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tawa&lt;br /&gt;menari&lt;br /&gt;menjanjikan&lt;br /&gt;saat-saat jingga&lt;br /&gt;datang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sept 2008&lt;br /&gt;sebelum jam kantor 8.05wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-3209296352090680882?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/3209296352090680882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=3209296352090680882&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3209296352090680882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3209296352090680882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/09/jawabnya.html' title='JawabNya'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-9124225856848876402</id><published>2008-09-11T01:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T01:24:24.985-07:00</updated><title type='text'>anakku atau anakmu ?</title><content type='html'>Anakmu atau anakku ? apa itu perlu penjelasan ? sedangkan popoknyapun tak pernah kau cium baunya, dia hanya mengharap kelak usapan lembut tanganmu menempel di kepala mungilnya, kepala yang rindu belaian ayah yang sejak di rahim ibunya tak pernah kau berikan ruh kasih sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakmu atau anakku ? tak ada lagi yang perlu diperdebatkan, dia menjadi anak asing di negeri belantara seorang perempuan mulia, yang di rahimnya tak bakal keluar ruh  manusia, biarlah dia menyusu di buah dada yang ranum namun tak keluar air susu, biarlah para malaikat di surga menggantinya dengan kasih sayang dan cintanya sebanding dengan air susu ibunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakmu atau anakku ? apa itu penting buatmu ? apakah pengakuan ini akan menjadi alat untuk meminang perempuan lain, dan membiarkan ibu sang bayi teronggok tak berguna lagi, adakah pengakuan itu masih penting bagi jalan menuju pelaminanmu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakmu atau anakku ? biarlah sang pencipta yang mengadili nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilenk, 15.31 wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-9124225856848876402?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/9124225856848876402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=9124225856848876402&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/9124225856848876402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/9124225856848876402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/09/anakku-atau-anakmu.html' title='anakku atau anakmu ?'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-378570456578776802</id><published>2008-09-10T19:37:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T19:39:17.909-07:00</updated><title type='text'>badai sahur</title><content type='html'>aku datang !", teriak sebutir embun menempel di kaca jendela&lt;br /&gt;"tapi tidak sendiri"&lt;br /&gt;"sebentar lagi bersama saudaraku"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tak lama petir menari sekelebat dengan genitnya&lt;br /&gt;membangunkan diriku untuk sahur&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;bresss !&lt;br /&gt;dalam sekejap saudara embun datang dalam jumlah ribuan&lt;br /&gt;menyerbu atap rumahku&lt;br /&gt;jatuh tergerai seperti kain korden tipis&lt;br /&gt;menembus &lt;br /&gt;menjelang pagi&lt;br /&gt;yang semakin dingin&lt;br /&gt;namun sahurku hangat&lt;br /&gt;secangkir capucino membasahi batin&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ilenk, 09.39wib di kantor&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-378570456578776802?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/378570456578776802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=378570456578776802&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/378570456578776802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/378570456578776802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/09/badai-sahur.html' title='badai sahur'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-5673142787869911778</id><published>2008-08-13T21:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:17:00.058-07:00</updated><title type='text'>cawang-bogor</title><content type='html'>tinggal mimpi-mimpi&lt;br /&gt;menggiring sederetan lelah menuju batas&lt;br /&gt;antara cawang - bogor&lt;br /&gt;tinggalkan sisa yang masih harus diraih&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(ilenk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, 13/08/08 . 6.32&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-5673142787869911778?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/5673142787869911778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=5673142787869911778&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/5673142787869911778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/5673142787869911778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/08/cawang-bogor.html' title='cawang-bogor'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-2782843381029139784</id><published>2008-08-13T21:04:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:05:35.527-07:00</updated><title type='text'>jagorawi</title><content type='html'>diantara kantuk menghadang&lt;br /&gt;suara kernet menjaring uang&lt;br /&gt;disela nyanyian pengamen&lt;br /&gt;deru debu melaju&lt;br /&gt;menuju kota mimpi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;diantara terawang jalang&lt;br /&gt;mata memandang pekat malam&lt;br /&gt;sesampai di tujuan&lt;br /&gt;penat kaki melangkah&lt;br /&gt;menuju rumah idaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(ilenk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta 13.08.08 01.10.pm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-2782843381029139784?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/2782843381029139784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=2782843381029139784&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/2782843381029139784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/2782843381029139784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/08/jagorawi.html' title='jagorawi'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-2029285673614775719</id><published>2008-08-13T20:57:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T21:03:04.137-07:00</updated><title type='text'>suaraku</title><content type='html'>dan sampai hari ini faxnyapun belum kubalas&lt;br /&gt;tak kuberikan respons cepat seperti perkiraanmu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;bahwa akupun juga berhitung cermat&lt;br /&gt;adakah suaraku nanti ada imbas&lt;br /&gt;terhadap perbaikan nasibku dan nasibmu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;harga tawaranmu masih belum menggiurkan&lt;br /&gt;belum membuat nafsu bathinku bergerak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku menunggu  investasi yang menguntungkan&lt;br /&gt;walau itu hanya satu suara&lt;br /&gt;"bep" sudah kupatok&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;akupun telah berhitung cermat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(ilenk)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*bep = break event point= balik modal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, pagi 6.56&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-2029285673614775719?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/2029285673614775719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=2029285673614775719&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/2029285673614775719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/2029285673614775719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/08/suaraku.html' title='suaraku'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-1564010949134030490</id><published>2008-08-13T20:51:00.001-07:00</published><updated>2008-08-13T20:57:25.160-07:00</updated><title type='text'>Menyemir sepasang sepatu sendiri dalam hujan</title><content type='html'>Satu lagi buku kumpulan sajak dari para sahabat tercinta datang di dadaku dalam sejuk senja penuh keriuhan di ujung selatan Jakarta. Di sela asap bakar ayam dan kental rawon dan canda ria para Kurawa Pasar Malam, “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” di lepas dengan damai oleh salah satu penyairnya Maulana “Pakcik” Achmad dalam tanganku.&lt;br /&gt; Buku setebal 118 halaman yang memuat 105 sajak dari 3 penyair Maulana Achmad, Inez Dikara dan Dedy T .Riyadi dengan perlahan mulai dibuka dan menyelami bait-bait rohnya.&lt;br /&gt; Tulisan ini saya bagi dalam tiga ulasan, karena buku ini memuat 3 bab sajak dari mereka, dan sesuai dengan urutan dalam pemuatan sajak tersebut, puisi Maulana Achmad (selanjutnya saya sebut “Pakcik”) disajikan diawal, dengan jumlah 35 sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dari satu sumbu di jalan Barito, mengurai kata, setangkup-tangkup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan ditemani Anggun sabtu malam melantunkan Mimpi, sajak Monochrome sudah membuat diriku terperangkap.&lt;br /&gt;Aku menunggumu dalam pengap&lt;br /&gt;bermenit  raga ini tak bergerak&lt;br /&gt;angin pun kurasakan mati kaku hilang nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di peron ini,&lt;br /&gt;kucoba keduk sisa ingatan&lt;br /&gt;mencari namamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seujung kerdipan kau melintas deras, gemuruh&lt;br /&gt;ke hala yang tak kutuju&lt;br /&gt;tanpa sapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang kepengapan kehidupan kini yang sudah mulai menyesak di dada, mencari hanya segelas udara untuk bernafas, sepertinya susah, kemudian ketika ada jeda waktu nafas udara datang, namun dia bergegas pergi jauh seperti gemuruh kereta meluncur jauh, tetapi bukan ke tempat yang seharusnya kita tuju, dia menuju ketempat lain yang bukan kita tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi kehidupan yang luruh , saya seperti menghadap cermin, menatapnya penuh lelah, penyair ini berusaha mengingatkan kita, bahwa kehidupan yang demikian riuh ini kadang kita tak tahu dimana nanti ujungnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lagu Takut yang dilantunkan riang oleh bibir seksi Anggun mengiringku menyelami sajak Mengurai kata. Sajak sederhana sekilas hanya untaian kata, tetapi saya menangkap makna seperti menaiki tangga kehidupan yang selama ini saya jalani. Pakcik mengurai kata seperti para sufi mengurai dihadapan muridnya di Masjid Biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurai kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seumur batu&lt;br /&gt;Senafas angin&lt;br /&gt;Serentak awan&lt;br /&gt;Sekejap senja&lt;br /&gt;Serumpun bintang&lt;br /&gt;Sebongkah bulan&lt;br /&gt;Sececap subuh&lt;br /&gt;Seabad embun&lt;br /&gt;Sepakung jamur&lt;br /&gt;Serimbun perdu&lt;br /&gt;Seputar dhuha&lt;br /&gt;Sekutuk mentari&lt;br /&gt;Seusung hari&lt;br /&gt;Sebaris bukit&lt;br /&gt;Setasik peluh&lt;br /&gt;Sepulau mimpi&lt;br /&gt;Selaksa asma&lt;br /&gt;Akulah hanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Putaran malam menjadi pagi, siang , sore dan kembali lagi menjadi malam dalam buaian mimpi setelah tua menjalani hidup akhirnya “akulah hanya”. Ya, kita pada akhirnya nanti hanya, hanya seonggok tanah seperti semula. Sengaja penyair tak menyudahi dengan titik, seterusnya dibiarkan mengambang terserah kita pembaca menafsirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tepuk tangan riuh pengiring penyanyi dalam In Your Mind masih dengan Anggun yang menemani malam semakin larut, tersandung sajak dengan judul Setangkup-setangkup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setangkup-setangkup&lt;br /&gt;:abah ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belikan aku buku gambar, abah&lt;br /&gt;aku ingin menangkap gunung&lt;br /&gt;dan mencelupnya dalam sekarung warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belikan aku susu, abah&lt;br /&gt;agar sehat badanku&lt;br /&gt;kuat tulangku&lt;br /&gt;terlindung hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belikan aku sepatu, abah&lt;br /&gt;biar kudapat berjalan ke madrasah&lt;br /&gt;yang ada di lembah dan langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggalkan satu saja fotomu, abah&lt;br /&gt;aku telah lupa lekuk urat wajahmu&lt;br /&gt;kau sudah terlalu jauh&lt;br /&gt;ambenmu pun sulit kurengkuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam semakin hening , tak ada suara ojek atau ambulance sesekali datang (rumah saya persis di sebelah BMC salah satu rumah sakit elite di bogor), selesai membaca sajak diatas, tiba-tiba wajah almarhum ayah terbayang. Tanpa terasa saya memutar lagu dari penyanyi  kesayangan beliau. &lt;br /&gt;Aku telah lupa lekuk urat wajahmu, ah ! kupandangi bingkai foto ayah tersenyum dengan  lesung pipitnya, Kau sudah terlalu jauh, ya beliau sudah tenang disisiNya, ambenmu pun sulit kurengkuh, dia terbaring tenang nun jauh dikerimbunan bamboo pemakaman desa di Jember. Mata merah dengan sudut basah terjuntai, ayah saya rindu padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Snow on the Sahara menerobos telinga dengan bisikan lembut, menyelami sajak-sajak pakcik seperti menemukan kembali kawan lama. Sajak-sajak pendek , kulumat habis malam itu menangkap sepintas rohnya dan kembali terus masuk dan duduk sejenak pada sajak Dari satu sumbu di Jalan Barito. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin sebelum bulan merapihkan tempat tidurnya&lt;br /&gt;tempat ini begitu padat dengan bebunyian&lt;br /&gt;kita semeja menyantap senyap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“seperti apa suaramu?” kau memberikan bait pertama&lt;br /&gt;perlahan aku mencari metafora yang belum pernah&lt;br /&gt;dibuat orang dari tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebatang mahoni membakar getahnya tepat di sisi kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kau masih diam? Padahal otakmu berdetakdetak”&lt;br /&gt;kau berikanku bait kedua&lt;br /&gt;kusemburkan tenung terampuh agar kau diam dan aku&lt;br /&gt;bisa mendapatkan metafora yang belum pernah&lt;br /&gt;dibuat orang dari tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebatang mahoni memecahkan bebijian di langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa kau bisu? Padahal matamu menusuknusuk”&lt;br /&gt;kau berikanku bait ketiga&lt;br /&gt;kuhunus sebilah badik agar kau takut dan diam, sehingga&lt;br /&gt;aku dapat mencuri metafora yang belum pernah dibuat&lt;br /&gt;orang dari tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebatang mahoni kini tak berdaun lagi ketika kau ratusan &lt;br /&gt;langkah menuju pulang&lt;br /&gt;“kopi mewasiatkanku kejujuran dan mulianya ingatan”&lt;br /&gt;kuteriakkan metafora yang belum pernah dibuat orang dari tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, tiba-tiba wajah Cak Kusno almarhum salah satu preman di Terminal Wonokromo yang merupakan sahabat saya waktu dulu sering menemani pendakian gunung semasa di SMA  di Surabaya, melintas sejenak.&lt;br /&gt;Padahal jalan Barito tentu lebih ramai dari terminal Wonokromo yang gelap, pengap, kumuh. Sepintas membaca badik, mengingatkan senjata itu yang selalu terselip di balik jaket Cak Kusno kemanapun dia pergi. Dan senjata itu pula nyaris  melukaiku pada suatu malam di keremangan Wonokromo ditodong orang dan ternyata ketika tahu siapa yang ditodong dan yang menodong saling kenal, maka kami berdua tertawa pedih. Penjahat dan korbannya ternyata dipisahkan dinding yang tipis. &lt;br /&gt;“Kopi mewasiatkanku kejujuran dan mulianya ingatan” baris kalimat diatas itu mengingatkanku sekali lagi akan celotehan Cak Kusno menyeruput kopi hangat setelah saya tak jadi ditodong malah diajak ngopi di sudut warung dekat Kebun Binatang dan seperti biasa dia cerita tentang sepenggal nasib dan saya seperti menangkap metafora yang belum pernah dibuat orang dari tubuhnya. &lt;br /&gt;Puisi di atas benar-benar mengingatkan akan sosoknya. Saya berkhidmat sebentar, mengirim do’a semoga dia tidur nyenyak disisiNya, lamat kudengar lirih dia berkata “ Ibuku rembulan dan bapakku matahari, sejak kecil aku rindu dekapan ibu dan usapan lembut tangan bapak di kepalaku, tapi aku hanya bermimpi”, ucapan itu lamat-lamat terngiang di kudukku, dan kurasakan angin dingin berhembus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(2) Dan Kau hanya menjalankan, bulan memar, di akhir setiap perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilik pertama dari tiga bilik dalam kumpulan sajak ini mulai kutinggalkan, memasuki bilik kedua dari penyair Inez Dikara (satu perempuan diantara dua penyair laki-laki dalam buku ini), kaki melangkah ringan dengan diiringi lantunan The Reason dari Hoobastank membaca lirih sajak Dan Kau Hanya menjalankan. Tiba-tiba keriuhan desingan peluru dan teriakan anak kecil dan sayatan pilu orang tua membayangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak yang ditujukan untuk tanah Palestina yang selalu bergejolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lagi kaurasakan butiran-btiran logam yang pecah &lt;br /&gt;di tubuhmu. Segar darah yang mengalir sumber-sumber &lt;br /&gt;airmata. Sedang desing timah yang membara, bagai lagu&lt;br /&gt;keseharian yang kian kau hafal liriknya, serupa amarah&lt;br /&gt;yang tertahan gelegar suara meriam yang ditembakkan&lt;br /&gt;menikammu hingga jauh&lt;br /&gt;ke dalam. Memar dada dan tapak tangan menggenggam&lt;br /&gt;iman. Anak-anak terlepas dari pelukan. Merah warna&lt;br /&gt;tanah perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena telah Ia perintahkan padamu untuk rasakan sakit&lt;br /&gt;Itu. Dan kau hanya menjalankan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penyair mengajak kita sejenak untuk merenung betapa kita masih mujur bila dibandingkan saudara kita yang ada di bumi Palestina yang selalu bergejolak oleh perang saudara yang tidak tahu kapan akan berhenti. &lt;br /&gt;Perang disana sepertinya sudah biasa dijalani oleh mereka. “Sedang desing timah yang membara, bagai lagu keseharian yang kian kau hafal liriknya”. Bahkan merah tanah perbatasanpun dilumuri oleh darah anak-anak dan orang tua yang tak berdosa, perang  seperti sudah merupakan takdir dariNYA “karena telah Ia perintahkan padamu untuk rasakan sakit itu. dan kau hanya menjalankan”. &lt;br /&gt;Kadang bila perang berkecamuk, saya selalu bertanya “adakah tangan Tuhan ikut menyusun strategi penyerangan itu dan korbannya harus orang-orang tak berdosa? Saya tak berani menanyakan lebih lanjut, takut Tuhan akan marah dan murka, malam ini Dia bisa tembakan meriam di rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam menyulam kata, Inez lebih banyak menyentuh rasa sepi, rindu tertahan kadang juga tanya. Dalam sajak berjudul Sajak Hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang anak bermain-main&lt;br /&gt;di kejauhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang perempuan melambai-lambaikan&lt;br /&gt;tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setumpuk mainan teronggok di kamar&lt;br /&gt;:kesepian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Barisan kata di atas tersebut yang tersusun secara sederhana namun dalam makna, berbicara tentang seorang perempuan yang telah lama mendambakan anak, bahkan dia sudah siapkan banyak mainan, namun yang ditungu-tunggu tak datang jua, tinggal sepi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; She will be loved dari Maroon 5 masih mengalun lembut, sajak Bulan Memar yang terdiri dari 2 bait dengan masing-masing bait terdiri dari 3 baris kata pendek. Puisi-puisi Inez memang tidak panjang melelahkan, namun pendek dan  mudah dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan memar&lt;br /&gt;Jatuh redupnya&lt;br /&gt;Di teras kamar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kehilangan&lt;br /&gt;Berjarak Cuma&lt;br /&gt;Sedegup dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wind cries Mary melantun lincah dari mulut Jamie Cullum, menemani lebih dalam lagi pada sajak-sajak Inez. Dan pada sajak Di akhir setiap perjalanan, saya terpaku sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam lengang sunyi &lt;br /&gt;ranting-ranting keringa&lt;br /&gt;awasi hari hari pergi&lt;br /&gt;menunggu di akhir setiap perjalanan&lt;br /&gt;kulihat bayangmu menari-nari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam sajak ini terasa sunyi semakin menyelimuti diri. Semakin hening tanpa ada swara yang menggelitik malamku, sepertinya saya harus menunggu bayang-bayangnya menari. Tapi siapa yang saya tunggu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Bibir Ibu, Kepada embun, Kamboja menyapih sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampailah pada bilik terakhir dari kumpulan sajak ini akan kusudahi. Penyair Dedy T. Riady mengajak saya perlahan menyibak halaman pada bilik terakhir ini  Sajak indah berjudul  Bibir Ibu menyambut di ujung pintu masuk. Saya kutipkan sebagian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………&lt;br /&gt;Suatu kali, aku mendaki&lt;br /&gt;Tapi kata ibu, “lepaskan dulu sepatumu.&lt;br /&gt;Di lembah lidahku tak perlu ada batu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terciptalah puisi&lt;br /&gt;Seperti api yang membakar hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lain dari 2 penyair sebelumnya, sajak-sajak Dedy lebih panjang, walau ada beberapa yang ditulis pendek bahkan hanya sebaris saja, namun lebih banyak menyajikan sajak dalam bentuk panjang. Sepintas bayangan penyair lain seperti berjejak di syairnya, namun pada sajak yang utuh yang kutangkap tak ada pengaruh penyair lain di sajaknya, justru kujumpai puisi yang kuat. Seharusnya penyair ini membuang baju pengaruh itu, biarkan imajinasi berkembang sesuai kata hati, karena puisi mewakili jiwa bicara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Everytime dari Britney Spears melantun sexy ,lembut menerawang menapaki sajak berjudul Kamboja.&lt;br /&gt;1/&lt;br /&gt;Tak pernah musim begitu mendung&lt;br /&gt;Ketika sajak luruhkan murung&lt;br /&gt;Jatuh ia sebagai gerimis&lt;br /&gt;Kuburkan sisa sisa tangis&lt;br /&gt;2/&lt;br /&gt;Di pekuburan tanpa nama&lt;br /&gt;Di kuncupmu sajak berbunga&lt;br /&gt;Di dada ini masih ada kata&lt;br /&gt;3/&lt;br /&gt;Kamboja di ujung senja&lt;br /&gt;Siapa terkubur sia sia?&lt;br /&gt;Sebab malam nanti&lt;br /&gt;Sajakku akan terkubur di sini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sajakku terkubur disini bersama Kamboja, ya bunga kamboja selalu mengingatkan saya akan dara cantik dengan gemulai lesung pipit di pulau dewata dua tahun silam. Menyudahi membaca sajak kamboja ingatan akan wajahnya kembali terbayang, dua bulan yang lalu kuterima kabar, dia telah kembali pada Hyang Widi di Nirwana. Siapa terkubur sia sia? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Desah suara Usher membisikkan Burn masih setia menemani saya melirik sajak Kepada Embun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin tak pernah meluruhkan&lt;br /&gt;Sebagaimana hujan&lt;br /&gt;Yang tak akan mengekalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir sebuah malam&lt;br /&gt;Engkau akan datang diam-diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga aku tak pernah tahu&lt;br /&gt;Itukah kau atau hanya air mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca baris kata “engkau akan datang diam-diam”, saya celingukan, takut ada orang datang diam-diam alias maling. Terus terang saya agak lupa apa tadi pintu sudah terkunci atau belum, perasaan seperti ada kaki melangkah. “Itukah kau atau hanya air mataku”, ending yang menyentuh, luruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My happy ending dari si mungil Avril Lavigne, menghentak rasa kantuk yang sudah mulai memeluku. Sajak berjudul Menyapih Sepi membuat mataku terbelahak sejenak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu ajari aku menyapih sepi&lt;br /&gt;Sebagaimana sungai sentuhi batu&lt;br /&gt;Agar lumut sediakan tanah,&lt;br /&gt;Tempat bertumbuh beringin itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab aku hanya bisa&lt;br /&gt;Lesapkan senyap, seperti&lt;br /&gt;Asap menuju awan. Untuk&lt;br /&gt;Kembali bersama hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini menghanyutkan rasaku perlahan-lahan. Ibu ajari aku menyapih sepi, sebagaimana sungai sentuhi batu. Indah nian kata kata ini, saya jadi terbayang aliran sungai yang jernih airnya, lumut tumbuh berserakan di batu dan di kejauan rimbunan pohon dan kicauan burung bersahutan. &lt;br /&gt;Malam larut ini seperti lesapkan senyap, asap menuju awan, ya saya menuju kantuk yang semakin deras kembali bersama hujan. Di luar tiba-tiba hujan , angin meniup lembut di sela sela atas jendela kamar yang berpori-pori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, sabtu malam 24.50 wib 9 agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-1564010949134030490?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/1564010949134030490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=1564010949134030490&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/1564010949134030490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/1564010949134030490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/08/menyemir-sepasang-sepatu-sendiri-dalam.html' title='Menyemir sepasang sepatu sendiri dalam hujan'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-9207364885948494646</id><published>2008-08-07T00:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T00:31:41.309-07:00</updated><title type='text'>pak eko membohong gue</title><content type='html'>duh, penyesalan ini rasanya percuma hadir&lt;br /&gt;bahwa teman baik semasa kuliah dulu&lt;br /&gt;membohongiku&lt;br /&gt;dengan mengatakan jadi marketing&lt;br /&gt;perusahaan pialang saham&lt;br /&gt;nyatanya&lt;br /&gt;kemarin nunung cerita&lt;br /&gt;ketemu aroel di new york&lt;br /&gt;new york amerika&lt;br /&gt;dia lari kesana&lt;br /&gt;setelah membohongiku duapuluhjuta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku seperti berhenti bernafas&lt;br /&gt;kalau dulu dia tak kubantu&lt;br /&gt;kalau dulu aku berhati-hati&lt;br /&gt;kalau dulu kubiarkan uang itu di deposito&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, penyesalan tak berguna&lt;br /&gt;istrinya janji oktober mau mengembalikan&lt;br /&gt;semoga uangku tak hilang&lt;br /&gt;ya, semoga&lt;br /&gt;kalau hilang&lt;br /&gt;aku akan menulis ke kedutaan indonesia &lt;br /&gt;ke konsulat di new york&lt;br /&gt;bahwa ada pelarian dari indonesia&lt;br /&gt;malak seorang ilenk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pak eko pak eko&lt;br /&gt;kau tega tega teganya padaku&lt;br /&gt;uang itu tabunganku terakhir&lt;br /&gt;sebelum kuingin mendirikan toko buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, 14.32 siang hari nyolong waktu kerja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-9207364885948494646?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/9207364885948494646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=9207364885948494646&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/9207364885948494646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/9207364885948494646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/08/pak-eko-membohong-gue.html' title='pak eko membohong gue'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3055948537642187746.post-3645341800013359598</id><published>2008-08-07T00:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-07T00:27:19.735-07:00</updated><title type='text'>ada beberapa laporan hilang</title><content type='html'>begitu ada tulisanku tak masuk di blog, langsung lemes deh. gimana ga lemes, enak-enak nulis dah dikirim tapi ga masuk.......tapek deh !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maren reboan sukses lagi, dibandingkan dengan yg bulan Juni sepi pengunjung, karena bersamaan dengan semifinal piala eropa. kalau kemaren tgl. 30/7 itu pas libur, ada beberapa penyair pengarang senior hadir, aa mbak meidy, pak martin, ibu diah , mas endo, uda akmal, mas kef, mbak ana.......kayaknya pengunjung mbludak seratus lebih lagi....hiks bener bener terharu deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami kami awak pasar malam juga ada rencana mau gawe besar, si sodara broden nurbroden yang mau kasih kerja.....wah kuwi kalo jadi byuh...geger padang kurusetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eh, kemaren ketemu kang UHK, sempat dikritik, blogmu kok jarang kamu isi...kikikikikiki...buklan jarang..kaang suka males nulis, kebanyakan nulis...hahahaha nulis bon kaleee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yayaya mulai sekarang aktif lagi ngisi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis lagi sedih, habes kelahi ma bos soal anggaran, dan vie pergi jauh ke kalimantan, sepi sunyi sendiri....halah !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaang aku suka bingung&lt;br /&gt;bicara salah&lt;br /&gt;mengingatkan salah&lt;br /&gt;padahal kerugian sudah di depan mata&lt;br /&gt;apa musti aki diam&lt;br /&gt;seribu kata tak perlu diucap&lt;br /&gt;hanya dibathin&lt;br /&gt;dan membiarkan sebelas temanku mati kelaparan??&lt;br /&gt;apakah itu solidaritas namanya ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku seperti berjalan sendiri&lt;br /&gt;berjuang sendiri&lt;br /&gt;di kantorku&lt;br /&gt;sekarang ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.30...jakarta pas jam kantor&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3055948537642187746-3645341800013359598?l=ilenkrembulan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/feeds/3645341800013359598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3055948537642187746&amp;postID=3645341800013359598&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3645341800013359598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3055948537642187746/posts/default/3645341800013359598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ilenkrembulan.blogspot.com/2008/08/ada-beberapa-laporan-hilang.html' title='ada beberapa laporan hilang'/><author><name>ilenkrembulan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04270583449924352109</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04133258545865401373'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>